嗡。古魯。蓮生。悉地。吽 - Om Guru Lian Sheng Siddhi Hum

嗡。古魯。蓮生。悉地。吽 - Om Guru Lian Sheng Siddhi Hum

Friday, August 15, 2014

Panca Khandha



PANCA KHANDHA
(Lima Kelompok)

Jika kita menganalisa, makhluk hidup khususnya manusia terdiri dari 2 bagian utama, yaitu:

  1. Jasmani atau disebut Rupa. 
  2. Batin atau disebut Nama.


Jasmani dan batin ini terdiri dari Lima Kelompok Kehidupan atau Panca Khandha.
Panca Khandha (Pali) atau Panca Skandha (Sanskerta) berasal dari kata ”panca” dan ”khandha”. Panca berarti lima dan khandha berarti kelompok/kumpulan. Jadi panca khandha berarti lima kelompok pembentuk kehidupan.

Guru Buddha dalam Satta Sutta; Radha Samyutta; Samyutta Nikaya 23.2 {S 3.189} menjelaskan:

”Radha, napsu keinginan, kegemaran, atau kehausan apapun terhadap rupa, viññana, sañña, sankhära, vedanä. Ketika sesuatu terperangkap di sana, terikat di sana, maka sesuatu itu disebut sebagai makhluk hidup.”

Jadi, apa yang disebut sebagai makhluk hidup termasuk manusia, dalam pandangan Buddha Dhamma adalah hanya merupakan perpaduan dari Panca Khandha yang saling bekerja sama secara erat satu sama yang lain. Tidak ditemukan suatu atma/atta atau roh yang kekal dan abadi.
Panca Khandha terdiri dari:

  1. Rupa = Bentuk, tubuh, badan jasmani. 
  2. Viññana = Kesadaran. 
  3. Sañña = Pencerapan. 
  4. Sankhära = Pikiran, bentuk-bentuk mental 
  5. Vedanä = Perasaan.


Agar mudah diingat dapat disingkat menjadi RU, VI, SAN, SANG, VE.

Kelima Khandha ini dapat digolongkan menjadi 2 bagian, yaitu:

Rupa digolongkan sebagai Rupa (kaya) atau jasmani, sesuatu yang berbentuk dari ujung rambut sampai ujung kuku kaki berikut hal-hal lainnya yang ada dalam tubuh seperti jantung, paru-paru, ginjal, pernapasan, suara, suhu tubuh, dan sebagainya. Rupa atau jasmani ini juga merupakan perpaduan dari 5 unsur, yaitu : unsur padat (pathavi dhatu), unsur cair (apo dhatu), unsur api/panas (tejo dhatu), unsur angin/gerak (vayo dhatu), dan unsur udara/oksigen (akasa dhatu).

Viññana, Sañña, Sankhära, Vedanä digolongkan sebagai Nama (citta) atau batin, sesuatu yang berada dalam jasmani dan tidak dapat dilihat. Di bawah ini merupakan penjelasan atas Viññana, Sañña, Sankhära, Vedanä sekaligus proses batin secara berurutan yang terjadi ketika jasmani kita melakuan kontak dengan sesuatu.

Viññana
Viññana berarti kesadaran atau juga disebut dengan citta. Keberadaannya dapat kita analisa ketika kita menyadari bahwa bathin kita telah menangkap suatu rangsangan ketika anggota tubuh kita berhubungan dengan sesuatu, misalnya:

  • terjadi kontak antara mata dengan suatu bentuk. 
  • terjadi kontak antara jasmani dengan sentuhan. 
  • terjadi kontak antara telinga dengan suara. 
  • terjadi kontak antara hidung dengan bau-bauan. 
  • terjadi kontak antara pikiran dengan situasi.


Sañña
Sañña berarti pencerapan. Keberadaannya dapat kita analisa ketika batin kita mencerap atau menerima ataupun mengenal rangsangan-rangsangan yang terjadi pada tubuh kita melalui suatu bagian dari otak kita.

Sankhära
Sankhära berarti bentuk-bentuk pikiran. Keberadaannya dapat kita analisa ketika rangsangan pada tubuh yang telah disadari dan dicerap akan dibanding-bandingkan dengan pengalaman kita yang dulu-dulu melalui gambaran-gambaran pikiran yang tersimpan dalam batin kita, yang pernah kita lihat, dengar, sentuh dan lain-lain.

Vedanä
Vedanä berarti perasaan. Keberadaannya dapat kita analisa ketika kita telah membanding-bandingan rangsangan kemudian timbul perasaan senang (suka) atau tidak senang (tidak suka), bahagia maupun menderita, dan perasaan netral.

Secara singkat, proses batin yang terjadi ketika tubuh kita menerima rangsangan sebagai berikut:
Kesadaran   =>   Pencerapan   =>   Pikiran   =>   Perasaan
(proses batin ini terjadi secara cepat)
Karena makhluk hidup khususnya manusia merupakan perpaduan dari berbagai unsur atau kelompok kehidupan (khandha), maka sesuai dengan hukum Tiga Corak Kehidupan (Tilakkhana), maka makhluk hidup apapun juga memiliki sifat tidak kekal (anicca), bukan diri sejati (anatta), dan dapat menimbulkan penderitaan (dukkha).


Mantra Lainnya

Mantra Lainnya


Sebelum membaca mantra harap memohon pemberkatan/abhiseka/guan ding terlebih dahulu dengan mendatangi ke vihara-vihara Zhen Fo Zhong terdekat menemui Vajra Acarya (Shang Shi) untuk mendapatkan pemberkatan silsilah.

Taisho Tripitaka No.1230, Sakyamuni Buddha mengatakan :
Bagi yang mendengar mantra dan tata cara, bila menekuninya tanpa tata aturan yang sah (arus abhiseka Gurumula) ~ Dharani Mahacakravajra, semua mantra tak akan berfungsi, berarti melakukan penyimpangan dan merupakan pencurian Dharma, setelah meninggal dunia akan terjatuh dalam neraka, kemudian terlahir kembali di alam hewan. Inilah akibat pelanggaran dari penyimpangan tersebut


  • Mantra Balas Budi Orang Tua : "Na Mo Mi Li Duo Duo Po Ye Suo Ha" {Penjapaan dilaksanakan setiap bulan 7 imlek dan dijapa sebanyak 49x}
  • Mantra Pemberkatan Sarana Puja : "Om Bie Cha Ha Sha"
  • Mantra Peredam Bencana (Da Jiu Nan Zhou) : "Ta Chi Zha Zha La Ta Chi Lu Lou Li Mo He Lu Luo Li A La Mo La Duo Luo Suo Ha"
  • Cancer Curing Mantra (Zhi Ai Zhou) : "Da Zhi Ta E Lan Di E Lan Mi Shi Li Bi Shi Li Shi Li Mo Jie Shi Zhi San Pa La Duk Suo Ha"
  • Mantra Air Amrta (Gan Lu Shui Zhou) : "Om Shu Lu Shu Lu Ben La Shu Lu Ben La Shu Lu Shu lu Shu Lu A Suo Ha" {pdf}
  • Mantra 8 Persembahan (Xian Ba Gong) :
    • "A Gan Suo Ha Om A Hum" (Air)
    • "Ba Dang Suo Ha Om A Hum" (Air Sabun)
    • "Bu Bie Suo Ha Om A Hum" (Bunga)
    • "Du Bie Suo Ha Om A Hum" (Dupa)
    • "A Luo Gie Suo Ha Om A Hum" (Lilin)
    • "Gan Die Suo Ha Om A Hum" (Parfum)
    • "Ne Wei Die Suo Ha Om A Hum" (Buah)
    • "Ga Da Suo Ha Om A Hum" (Keong)



Mahakala Sutra



Mahakala Sutra



Pada suatu ketika, Tathagata memberitahukan kepada para hadirin, saat ini di pasamuan ini ada Mahabodhisattva.

Yang bernama Mahalaskmesvaraparipurna Bodhisattva, Bodhisattva ini telah mencapai Anuttarasamyaksamboddhi dengan nama Mahamaniraja Tathagata.

Dengan kekuatan keleluasaan Nya, saat ini datang ke dunia saha dengan rupa Mahakala Deva.

Kemudian, Mahabodhisattva tersebut bangkit dari tempat duduk Nya beranjali kepada Buddha dan berkata :

Saya ingin menganugerahkan berkah rejeki kepada para insan yang miskin papa.

Sekarang hadir dalam rupa upasaka dengan kerabat Tujuh Devimata (Dewi Ibu) , mengarungi triloka untuk memberkahi para insan.
Mohon Baghavan membabarkan Dharani Maha Berkah yang sempurna.
Kemudian Baghavan tersenyum dan membabarkan mantra :
“Namo Samanthabuddhanam. Om Mahakalaya Svaha”

Kemudian Baghavan memberitahu para hadirin, mantra Dewata ini bahkan tidak pernah dibabarkan oleh para Buddha masa lampau.

Jika para insan yang akan datang di masa penuh kejahatan, ada yang diliputi kemiskinan, dapat mendengar Dharani ini.

Ketahuilah bahwa orang tersebut memperoleh mutiara Mahamani yang mampu mengeluarkan berbagai barang berharga.

memberitahukan kepada Buddha, “Bila ada insan di masa penghujung Dharma, dapat menjapakan mantra ini.”

“Serta memahat (membuat) rupang wujud Ku tiga atau lima kaki (1 kaki Tiongkok = 33,3 cm ; 1 kaki Taiwan = 30 cm ) maupun 5 inchi (1 inch Tiongkok = 3,3 cm), dipersemayamkan di vihara maupun dipuja di dalam rumah.”

“Saya akan memerintahkan kepada para kerabat, Tujuh Devimata, delapan puluh empat ribu Dewa Rejeki, menjelajahi sepuluh penjuru, supaya setiap hari memberikan persembahan kepada seribu orang.”

“Bila saya berdusta, akan selamanya terjatuh kea lam rendah, tak akan kembali ke Kesadaran Mula (Samboddhi).”

Bila dapat memberikan persembahan dengan berbagai arak berkualitas dan buah-buahan segar dan enak, akan kuturunkan hujan amrta.



The Seven Line Prayer (Padmasambhava)



THE SEVEN LINE PRAYER


HUNG ORGYEN YUL GYI NUBJANG TSAM
PEMA GESAR DONGPO LA
YATSEN CHOK GI NGODRUB NYE
PEMA JUNG NE SHYE SU DRAK
KHOR DU KHANDRO MANGPO KOR
KHYE KYI JESU DAK DRUB KYI
JINGYI LAB CHIR SHEK SU SOL
“GURU PEMA SIDDHI HUNG”

HUM! IN THE NORTH-WEST OF THE LAND OF ODDIYANA
IN THE HEART OF A LOTUS FLOWER
ENDOWED WITH THE MOST MARVELLOUS ATTAINMENTS
YOU ARE RENOWNED AS THE ‘LOTUS BORN’
SURROUNDED BY MANY HOSTS OF DAKINIS
FOLLOWING IN YOUR FOOTSTEPS
I PRAY TO YOU: COME, INSPIRE ME WITH YOUR BLESSING!
“GURU PEMA SIDDHI HUNG”