嗡。古魯。蓮生。悉地。吽 - Om Guru Lian Sheng Siddhi Hum

嗡。古魯。蓮生。悉地。吽 - Om Guru Lian Sheng Siddhi Hum
Showing posts with label Sila/Vinaya. Show all posts
Showing posts with label Sila/Vinaya. Show all posts

Friday, November 21, 2014

Sila Sila Budhis

6 Pelanggaran Berat

1. Membunuh

Para umat yang mendalami Buddhadharma dan sebagai upasaka-upasika yang menjalani sila, sekalipun demi mendukung kebahagiaan nyawa dan jasmani, nyawa sekecil semut pun, tidak pula diperkenankan sembarang dibunuh. Terutama bagi yang telah menerima sila, bila menyuruh orang lain melenyapkan nyawa makhluk hidup, atau sendiri yang melakukan pembunuhan, orang demikian sudah kehilangan makna menaati Bodhisattva Sila, meskipun tekun bersadhana, tidak akan pula memperoleh keberhasilan tahap awal, apalagi sampai mencapai Sotopanna, terlebih-lebih Anagami. Orang demikian dinamakan upasaka-sika yang melanggar sila, juga dinamakan upasaka-sika yang kotor, atau upasaka-sika yang bejat, atau upasaka-sika yang ternoda, atau upasaka-sika yang terbelenggu.

2. Mencuri

Selaku upasaka-upasika yang menjalani sila, sekalipun demi mendukung kebahagiaan nyawa dan jasmani, juga tidak diperkenankan mencuri dan merampas harta milik orang lain, sekalipun dana sekecil apapun juga tidak diperkenankan. Apabila melanggar Sila Mencuri, orang demikian sudah kehilangan makna menaati Bodhisattva Sila, meskipun tekun bersadhana, tidak akan pula memperoleh keberhasilan tahap awal, apalagi sampai mencapai Sotopanna, terlebih-lebih Anagami. Orang demikian dinamakan upasaka-sika yang melanggar sila, juga dinamakan upasaka-sika yang kotor, bejat, ternoda, terbelenggu.

3. Berdusta

Selaku upasaka-upasika yang menjalani sila, sekalipun demi mendukung kebahagiaan nyawa dan jasmani, juga tidak diperkenankan berkata tidak jujur mendustai orang. Misalnya, “Saya telah mencapai tingkat Bodhisattva”, “Telah melampaui tiga alam dan memperoleh sidhi Arahat” dan sebagainya, hal semacam ini yang mana belum mencapai dikatakan mencapai telah merusak kedisiplinan sila. Orang demikian sudah kehilangan makna menaati Bodhisattva Sila, meskipun tekun bersadhana, tidak akan pula memperoleh keberhasilan tahap awal, apalagi sampai mencapai Sotopanna, terlebih-lebih Anagami. Orang demikian dinamakan upasaka-sika yang melanggar sila, juga dinamakan upasaka-sika yang kotor, bejat, ternoda, terbelenggu.

4. Berzinah

Selaku upasaka-upasika yang menjalani sila, sekalipun demi mendukung kebahagiaan nyawa dan jasmani, juga tidak diperkenankan melakukan hubungn intim dengan orang ketiga di luar pasangan suami istri (Apabila melakukan hubungn intim dengan istri sendiri yang sedang menjalani sila, saat lagi hamil tua, menyusui, atau pun melakukan hubungan suami istri dengan cara tidak wajar, juga termasuk berzinah), apabila melanggar Sila Berzinah, orang demikian sudah kehilangan makna menaati Bodhisattva Sila, meskipun tekun bersadhana, tidak akan pula memperoleh keberhasilan tahap awal, apalagi sampai mencapai Sotopanna, terlebih-lebih Anagami. Orang demikian dinamakan upasaka-sika yang melanggar sila, juga dinamakan upasaka-sika yang kotor, bejat, ternoda, terbelenggu.

5. Menjual Beli Miras

Selaku upasaka-upasika yang menjalani sila, sekalipun demi mendukung kebahagiaan nyawa dan jasmani, juga tidak diperkenankan melakukan transaksi jual-beli minuman keras atau sejenisnya (termasuk jenis barang yang dapat memabukkan pikiran manusia), apabila melanggar Sila Menjual-beli Miras, orang demikian sudah kehilangan makna menaati Bodhisattva Sila, meskipun tekun bersadhana, tidak akan pula memperoleh keberhasilan tahap awal, apalagi sampai mencapai Sotopanna, terlebih-lebih Anagami. Orang demikian dinamakan upasaka-sika yang melanggar sila, juga dinamakan upasaka-sika yang kotor, bejat, ternoda, terbelenggu.

6. Membicarakan Kesalahan Catur Parsadah

Selaku upasaka-upasika yang menjalani sila, sekalipun demi mendukung kebahagiaan nyawa dan jasmani, juga tidak diperkenankan menyebar-luaskan kesalahan para bhiksu dan bhiksuni, atau menyebar-luaskan kesalahan para upasaka dan upasika, apabila melanggar Sila Membicarakan Kesalahan Catur Parsadah (bhiksu, bhiksuni, upasaka, dan upasika), orang demikian sudah kehilangan makna menaati Bodhisattva Sila, meskipun tekun bersadhana, tidak akan pula memperoleh keberhasilan tahap awal, apalagi sampai mencapai Sotopanna, terlebih-lebih Anagami. Orang demikian dinamakan upasaka-sika yang melanggar sila, juga dinamakan upasaka-sika yang kotor, bejat, ternoda, terbelenggu.

28 Pelanggaran Ringan

1. Tidak Berbakti pada Orang Tua dan Guru

Para siswa yang mendalami Buddha Dharma, menurut ajaran sila Sang Buddha, apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, tidak menghormati dan berbakti pada orang tua dan guru (orang bijak yang mengajari Dharma), upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki Bodhicitta, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke tiga alam samsara. Sebab orang yang kehilangan hati suci karena tidak berbakti, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

2. Bermabuk-mabukkan

Apabila upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, terlalu kecanduan pada kesenangan duniawi dengan bermabuk-mabukan, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki Bodhicitta, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke tiga alam samsara. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan tidak bersih dalam ucapan, pikiran, dan perbuatan, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

3. Tidak Menjenguk Orang Sakit

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, bila terdapat saudara atau rekan yang menderita sakit, malah menjauhi dan tidak bersedia membesuk atau merawat orang yang sakit, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki Bodhicitta, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke alam yang lebih rendah. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan welas kasih, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

4. Tidak Memberi Sedekah

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, bila bertemu dengan kaum papah yang datang mohon sedekah (atau yang datang mohon Dharma, kitab suci, dan pratima), hendaknya membaginya sesuai kemampuan, apabila sengaja membiarkan kaum papah pulang dengan tangan kosong, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki Bodhicitta, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke alam yang lebih rendah. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan kikir, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

5. Tidak Menghormati Catur Parsadah

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, bila bertemu dengan bhiksu, bhiksuni, upasaka-upasika yang lebih senior dan bijak, tidak sudi berdiri menyambut dan memberi salam dengan santun, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki Bodhicitta, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke alam yang lebih rendah. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan angkuh, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

6. Timbul Kesombongan Melihat Orang Lain Melanggar Sila

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, bila melihat bhiksu, bhiksuni, upasaka-upasika yang melanggar sila, lalu dalam hati timbul rasa sombong dan meremehkan, merasa diri sendiri lebih terpuji dan orang lain tidak sebanding, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki Bodhicitta, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke tiga alam samsara. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan angkuh, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

7. Tidak Menjalani Atanksila

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, dalam setiap bulan, pada enam hari tertentu (hari ke-8, ke-14, ke-15, ke-23, ke-29, ke-30, kalau bulan yang tak memiliki hari ke-30, maka sebagai gantinya hari ke-28 dan ke-29) tidak menjalankan atanksila serta tidak memberi persembahan pada Sang Triratna, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki ketulusan menjalankan sila, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke alam yang lebih rendah. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan melanggar sila, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

8. Tidak Mendengarkan Dharmadesana

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, dalam setiap bulan, bila mengetahui dalam radius 40 li terdapat tempat sadhana yang sedang membabarkan Dharma, namun tidak sudi hadir untuk mendengarkannya, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki ketulusan mendalami BuddhaDharma, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke alam yang lebih rendah. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan melanggar sila, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

9. Menggunakan Sarana Milik Sangha

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, tanpa persetujuan Sangha, sembarangan menggunakan barang yang dipersembahkan oleh para umat untuk Sangha, antara lain tempat tidur, tempat duduk dsbnya (termasuk segala peralatan yang digunakan oleh Sangha), upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki ketulusan rasa hormat pada Sangha, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke alam yang lebih rendah. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan bersifat serakah, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

10. Meminum Air Berbakteri

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, meskipun mengetahui dalam air minuman terdapat micro organ, namun tak menghiraukan Sila Membunuh dan meminumnya, apasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki rasa welas kasih, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke alam tiga samsara. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan membunuh, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

11. Berjalan di Tempat Berbahaya

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, bila bepergian bakal melewati tempat berbahaya, namun tidak ingin mengajak rekan menemani lalu berjalan sendiri, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki parjna dan Bodhi (tidak menghargai nyawa untuk belajar Buddha Dharma), meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke alam yang lebih rendah. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan bertindak bodoh, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

12. Seorang Diri Bermalam di Vihara Bhiksuni

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, sendirian bermalam di vihara bhiksuni (hingga menjalin cinta, menciptakan belenggu, mendatangkan kecaman), upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki ketulusan rasa hormat pada Sang Triratna, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke alam yang lebih rendah. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan menjalin cinta, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

13. Berkelahi Demi Materi

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, demi keuntungan mencari nafkah, hingga memaki-maki atau memukuli pembantu, kacung, karyawan, orang luar dsbnya, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki rasa welas asih, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke alam yang lebih rendah. Sebab orang yang kehilangan hati suci karena harta benda, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

14. Menyuguhkan Makanan Sisa

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, menyuguhkan makanan sisa kepada bhiksu, bhiksuni, upasaka dan upasika, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki ketulusan hati mudita dan upeksa, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke tiga alam samsara. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan bersifat kikir, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

15. Memelihara Kucing

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, memelihara hewan kucing atau sejenisnya yang suka membunuh (melanggar sila membunuh secara tak langsung), upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki rasa welas asih, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke tiga alam samsara. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan tidak berwelas kasih, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

16. Memberi Makanan Kotor pada Hewan Pemeliharaan

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, sebelum menerima Bodhisattva Sila, hendaknya segala hewan pemeliharaan antara lain gajah, kuda, sapi, kambing, unta, keledai dan lain-lain, baik hewan kesayangan maupun hewan tenaga pekerja, agar dengan tulus serahkan kepada mereka yang belum menerima sila. Namun kalau pemberiannya sampai menerima ganti rugi, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila pula, tak lagi memiliki kebersihan triguhya, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke tiga alam samsara. Sebab

17. Tidak Berdana untuk Jubah Patra Karkata

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, hendaknya menabung dana untuk jubah patra karkata dan dipersembahkannya kepada bhiksu (bagi bhiksu yang belum memiliki sarana tersebut). Apabila bagi yang sanggup namun tidak berdana untuk hal tersebut, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki ketulusan rasa hormat pada Sang Triratna, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke alam yang lebih rendah. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan tidak berdana semestinya, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

18. Berladang di Air Kotor

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, bila mencari nafkah dengan berladang, hendaknya menjaga kebersihan air irigasi, tidak diperkenankan menggunakan air yang kotor, sekalipun bercocok tanam juga tidak diperkenankan menggunakan obat pembasmi hama. Apabila berniat membasmi, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki welas kasih, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke tiga alam samsara. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan tidak berwelas kasih, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

19. Berdagang Tidak Jujur

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, bila mencari nafkah dengan berdagang, setelah terjadi transaksi, tidak boleh lagi mengubah harga, begitu pula mesti menggunakan alat timbang yang memenuhi syarat untuk melakukan penimbangan atas barang dagangan yang memerlukan penakaran. Jangan sengaja mengurangi jumlah takaran (hendaknya ditegur dengan baik-baik). Jika tidak, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki welas kasih, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke alam yang lebih rendah. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan tidak berwelas kasih, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

20. Bersetubuh pada Waktu dan Tempat yang Tidak Layak

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, melakukan hubungan badan di luar kamar tidur sendiri (misalnya di vihara, tepi jalan, samping stupa, ruang ibadah, atau tempat umum), dan melakukannya pada hari suci Buddha Bodhisattva, Hari Waisak, Hari Atanksila, hari kelahiran ayah-ibu, hari kelahiran diri sendiri (artinya hari di mana ibu menderita), dan melakukannya pada siang hari, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki kesucain hati menjalankan sila, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke tiga alam samsara. Sebab orang yang kehilangan kebersihan ucapan, pikiran dan perbuatan, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

21. Tidak Menunaikan Pajak

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, bagi yang bernafkah dengan usaha bisnis, baik retailer, maupun agen, atau ekportir importir, atau produsen, bila tidak mengikuti peraturan pemerintah dan memanipulasi pajak, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki kesucian triguhya, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke alam yang lebih rendah. Sebab orang yang kehilangan kebersihan ucapan pikiran dan perbuatan, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

22. Melanggar Hukum Negara

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, bila bertindak melanggar tata negara, peraturan negara, hukum negara, norma-norma tradisi dan sebagainya, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, menanam karma buruk ucapan, pikiran, dan perbuatan, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke alam yang lebih rendah. Sebab orang yang kehilangan kebersihan ucapan pikiran dan perbuatan, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

23. Tidak Mempersembahkan Makanan pada Sang Triratna

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, bila memperoleh makanan bersih antara lain buah-buahan, lauk-pauk dan sebagainya, langsung memakannya tanpa terlebih dahulu mempersembahkannya pada Sang Triratna, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, bertindak tidak menghormati Sang Triratna, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke alam yang lebih rendah. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan angkuh, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

24. Tidak Mendengarkan Ceramah dari Sangha Malah Berceramah Sendiri

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, tanpa persetujuan Sangha lalu memberi ceramah Dharma sendiri, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, bertindak tidak menghormati Sang Triratna, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke alam yang lebih rendah. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan tidak menghormati Sang Triratna, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

25. Bertindak Lancang di Hadapan Panca Parsadah

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, bila berjalan bersama Panca Parsadah (bhiksu, bhiksuni, sramanera, sramanerika, dan siksamana), hendaknya berjalan di belakang Panca Parsadah agar menaruh kehormatan pada Sangha. Bila bukan dalam kondisi khusus (misalnya ada rintangan jalan, bahaya, amanat dll.) lalu sengaja berjalan melampauinya, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, bertindak tidak menghormati Sang Triratna, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke alam yang lebih rendah. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan angkuh, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

26. Berdana kepada Sangha dengan Tidak Adil

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, pada kesempatan perjamuan bersama bertindak tidak adil, yaitu memberi persembahan makanan lezat secara berlebihan hanya pada bhiksu yang disukainya saja, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki keseimbangan batin dalam hal persembahan, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke alam yang lebih rendah. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan keseimbangan batin, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

27. Memelihara Ulat Sutra

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, bila mencari nafkah dengan memelihara ulat sutra, (sebelum dicabut sutranya, ulat akan digodok dengan air mendidih, hal ini melanggar Sila membunuh), upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki welas kasih, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke tiga alam samsara. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan berbuat karma membunuh, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

28. Acuh Saat Melihat Orang Sakit

Apabila ada upasaka-upasika yang bersradha memuja Sang Triratna, setelah menerima Bodhisattva Sila, dalam kesempatan di tengah jalan bertemu orang yang menderita sakit, bila diri sendiri tak dapat memberi bantuan dan penolongan, juga tak dapat mencari bantuan dengan menghubungi rekan atau lembaga terkait, malah meninggalkannya tanpa memberi kepedulian, upasaka-upasika demikian berarti melanggar sila, tak lagi memiliki welas kasih, meskipun bersadhana juga tak akan meningkatkan jalan kebenaran, bahkan akan terjerumus ke alam yang lebih rendah. Sebab orang yang kehilangan hati suci dan tidak berwelas kasih, berarti ia sendiri telah menciptakan nidana samsara.

source : http://www.zhenfozong.org

Abdiguru Pancasika

第一條:十方世界中 三世一切佛

Pasal 1
恒於灌頂師 三時伸禮奉
解釋:弟子要一日三時(日初、日中、日落),禮拜上師,憶念上師。如同三時拜佛一般的恭敬。
Penjelasan: seorang siswa harus merenungi Guru dan melakukan Namaskara kepada Guru 3 kali setiap harinya (pagi, siang, dan senja). Lakukan dengan penuh rasa hormat sebagaimana terhadap Buddha.


第二條:起最上恭敬 合掌以持花

Pasal 2
恒散彼曼荼羅 頭面接足禮
解釋:對壇城獻花,對上師恭敬的行五體投地的大禮。
Penjelasan: mempersemahkan bunga di altar mandala, lalu lakukan mahanamsaksara kepada Guru.


第三條:彼師或在家 及新受具戒

Pasal 3
恒置經像于前 則息諸疑謗
解釋:上師不管是在家或出家,或剛受具足戒,祇要在佛像前、經前,都要恭敬,不得有懷疑及毀謗的惡念頭。
Penjelasan: Guru Acarya, baik merupakan seorang bhiksu maupun non-bhiksu, atau yang baru saja diupasampada, jika berada di hadapan rupang, atau kitab suci, harus diberi salam penghormatan, jangan samapi menaruh curiga atau timbul niat jahat untuk memfitnah.


第四條:若出家弟子 常淨心承事

Pasal 4
恒已坐當起迎 唯除於敬禮
解釋:對上師淨心承事,懂得讓座之禮。
Penjelasan: Mengabdi pada Guru dengan setulus hati, memahami sopan santun ntuk memberikan tempat duduk kepada Guru.


第五條:彼師及弟子 當互審其器

Pasal 5
恒若不先觀察 同得越法罪
解釋:拜師前要先觀察老師,是否可承師,老師也要注意這位弟子可教導否,否則,同樣犯了不如法的過失,都是輕忽罪。
Penjelasan: Teliti terlebih dahulu sebelum berguru, apakah layak diangkat sebagai Guru. Selaku Guru juga harus mengamati siswa, apakah layak dibina. Kalau tidak, sama-sama telah melanggar sila meremehkan.


第六條:若忿恚無慈 貪愛多輕浮

Pasal 6
恒傲慢自誇矜 抉擇不應依
解釋:容易發脾氣,無慈悲心,貪心愛虛榮,傲慢自我誇張,這樣的老師,不應去皈依,所以要皈依先看清楚老師的習性。
Penjelasan: Jangan berlindung pada seorang Guru yang pemarah, tidak berwelas asih, serakah, suka kemewahan, sombong, suka memuji diri sendiri. Untuk itu, sebelumnya harus memahami sifat dan kebiasaan Guru dengan jelas.


第七條:具戒忍悲智 尊重無諂曲

Pasal 7
恒了秘密儀範 博閑諸論議
解釋:有大慈悲的,有大智慧的,守住戒律的,自我尊重,不諂不曲,通一切法的,才是好的上師,所以擇師時就必須注意了。
Penjelasan: Guru yang baik selalu bermaitri karuna, mahabijaksana,  menaati sila, menjaga kehormatan diri, tidak memihak, memahami Dharma.  Untuk itu, harus teliti sebelum berguru.


第八條:善達真言相 曼荼羅事業

Pasal 8
恒契證十真如 諸根悉清淨
解釋:一切法通達,親證十地菩薩之果位,六根清淨,沒有煩惱,才是好上師也。
Penjelasan: Guru yang bijak selalu memahami segenap Dharma, telah mencapai Dasabhumi Bodhisattva, menjaga kesucian enam indera, tidak punya kilesa.


第九條:若彼求法者 於師生輕毀

Pasal 9
恒則謗諸如來 常得諸苦惱
解釋:求法的弟子,不可譭謗上師,罵上師如同罵佛,一定很苦惱。
Penjelasan: seorang siswa yang belajar sadhana tidak boleh memfitnah Guru. Memfitnah Guru bagaikan memfitnah Sang Buddha, pasti berakibat duka.


第十條:由增上愚痴 而獲于現報

Pasal 10
恒為惡曜執持 重病相纏縛
解釋:譭謗上師,是很愚痴的,很快得到報應,天上惡神入其心,必得重病,不得解脫。
Penjelasan: menfitnah Guru adalah tindakan yang sangat bodoh. Akibat fatalnya segera tampak, makhluk halus mudah merasuki dirinya hingga menderita sakit dan tak terbebaskan.


第十一條:王法所逼切 及毒蛇傷螫

Pasal 11
恒冤賊水火難 非人得其便
解釋:譭謗上師,必犯王法,被毒物所傷,水災火災盜賊均至,一切惡鬼神常給災難。
Penjelasan:  menfitnah Guru berarti melanggar hukum berat, mudah terluka oleh racun serta tertimpa petaka banjir, kebakaran, perampokan, dan rasukan makhluk halus.


第十二條:彼頻那夜迦 常作諸障礙

Pasal 12
恒從此而命終 即墮於惡趣
解釋:譭謗上師,自有惡神來賜災難,死後入三惡道,即地獄、餓鬼、畜生。
Penjelasan:   menfitnah   Guru   akan mendatangkan rintangan dari makhluk halus, setelah meninggal akan masuk ke alam samsara, yakni alam neraka, alam preta, dan alam hewan.


第十三條:勿令阿闍梨 少分生煩惱

Pasal 13
恒無智相違背 定入阿鼻獄
解釋:弟子承事上師,勿令上師有一點煩惱,若違上師意旨,背叛上師,入阿鼻地獄。
Penjelasan: siswa yang mengabdi pada Guru, jangan menyulitkan Guru. Melawan petunjuk Guru atau mengkhianati Guru akan terjerumus ke Neraka Avici.


第十四條:受種種極苦 說之深可怖

Pasal 14
恒由謗阿闍梨 於中常止住
解釋:阿鼻地獄是最苦的地獄,由於譭謗上師,就如此恐怖,痛苦無盡。
Penjelasan: Neraka Avici adalah neraka yang paling sengsara. Demikianlah penderitaan menakutkan yang tiada habisnya bila memfitnah Guru.


第十五條:彼阿闍梨者 弘持正法藏

Pasal 15
恒是故當一心 輒莫生輕慢
解釋:弘持正法的上師,弟子要一心承事,若有輕慢心,就犯以上重罪。
Penjelasan: seorang siswa wajib sepenuh hati membantu Guru yang membabarkan sadharma. Dalam hal ini, sikap meremehkan sama dengan melanggar sila.


第十六條:常於阿闍梨 承事而供養

Pasal 16
恒發生尊重心 則蠲除障惱
解釋:盡心供養上師,尊重上師,由於上師加持,始可滅障礙、煩惱。
Penjelasan: setulus hati berdana kepada Guru, menghormati Guru. Berkat adhistana dari Guru akan melenyapkan rintangan dan kilesa.


第十七條:又復於師所 樂行於喜捨

Pasal 17
不於已身 何況於財物
解釋:自己生命都可犧牲,何況財物,喜歡施捨的人有福報。
Penjelasan: seorang Tantrika, nyawa pun siap dikorbankan apalagi harta benda. Oleh karena itu, orang yang suka berdana akan memiliki karma baik.


第十八條:勤修無量劫 難證如來果

Pasal 18
恒今於一生中,阿闍梨賜予
解釋:修行人若未逢上師,無法修持成佛,所以上師傳法,修持成佛,功德由上師所賜。
Penjelasan: seorang sadhaka tak dapat mencapai kebuddhaan sebelum menjumpai seorang Guru. Oleh karena itu, keberhasilan seorang sadhaka adalah berkat jasa dan anugerah seorang Guru.


第十九條:普護其深誓 供養諸如來

Pasal 19
恒恭敬阿闍梨 等同一切佛
解釋:奉事上師,是自己初入門的誓願,同供養佛一樣重要。
Penjelasan: mengabdi pada Guru adalah tekad awal seorang siswa yang sama pentingnya dengan memberi persembahan kepada Buddha.


第二十條:微細所愛物 特諸最上珍

Pasal 20
恒求無盡菩提 誠心悉奉獻
解釋:上師是一體三寶,用最好的東西承事,有無量無邊功德。
Penjelasan: Guru mewakili Triratna. Oleh karena itu, memberikan persembahan yang terbaik kepada Guru akan membuahkan pahala yang tiada tara.


第二十一條:施佛阿闍梨 念念常增長

Pasal 21
恒是最勝福田 速得菩提果
解釋:供養上師,供養佛,是最勝福田,很快得證菩提果。
Penjelasan: memberi persembahan kepada Guru dan Buddha adalah ladang kebajikan terbaik, mudah mencapai kebodhian.


第二十二條:如是求法者 具戒忍功德

Pasal 22
恒不虛誑於師 當獲金剛智
解釋:對上師很誠意的敬奉,有忍耐性,不虛假的,一定可得如來金剛的智慧。
Penjelasan: menghormati Guru secara tulus, penuh kesabaran, dan ikhlas, pasti akan memperoleh kebijaksanaan dari Tathagata.


第二十三條:若足踏師影 獲罪如破塔

Pasal 23
恒於床坐資具 騎驀罪過是
解釋:不得足踏上師的影子,不得坐上師的床,不得用其常用之器具,這都有罪。
Penjelasan: jangan menginjak bayangan Guru, jangan menduduki Dharmasana Guru, dan jangan menggunakan peralatan yang sering dipakai oleh Guru, semua tindakan ini termasuk melanggar sila.


第二十四條:若師所教誨 歡喜當聽受

Pasal 24
恒自己或不能 則善言啟白
解釋:歡喜接受上師的教誨,若辦不到,可婉轉將情形表達。
Penjelasan: Terimalah nasihat Guru dengan sukacita. Beritahulah dengan cara yang halus jika tidak sanggup terlaksana dengan baik.


第二十五條:由依止師故 所作皆成就

Pasal 25
恒現樂及生天 何敢違其命
解釋:由於上師傳法,弟子才能成就一切法,上師是無上福田,弟子勿違其命令。
Penjelasan: berkat pengajaran sadhana oleh Guru sehingga siswa bisa mencapai keberhasilan. Maka dikatakan Guru adalah ladang kebajikan terbaik, janganlah seorang siswa sampai melawan perintah Guru.


第二十六條:師財如己命 師愛敬若師

Pasal 26
恒師眷如己親 敬奉毋疏怠
解釋:替上師守財,如同己命,不得浪費。恭敬上師所恭敬的人,恭敬上師之眷屬,不得怠慢。
Penjelasan: merawat harta benda Guru sama seperti jiwa sendiri, jangan sampai ada pemborosan. Hormatilah orang yang dihormati Guru, dan hormatilah sanak saudara Guru. Jangan meremehkannya.


第二十七條:不應於師前 覆頂及乘御

Pasal 27
恒翹足手扠腰 安然而坐臥
解釋:在上師面前,儀表要端莊,像惡形惡狀的動作,翹腳或手扠腰的動作均不可。
Penjelasan: di hadapan Guru harus berpenampilan rapi, jangan bertingkah aneh atau kurang sopan seperti mengangkat kaki atau bertolak pinggang.


第二十八條:或事緣令坐 勿舒於雙足

Pasal 28
恒常具諸威儀 師起速當起
解釋:威儀是佛弟子應有的,坐時雙足勿圖舒服而伸,上師一起立,馬上要跟著起立。
Penjelasan: umat Buddha wajib bertingkah santun, jangan selonjorkan kaki saat duduk, segera berdiri jika Guru sudah berdiri.


第二十九條:若於經行處 不應隨舉步

Pasal 29
恒端謹立於傍 無棄於涕唾
解釋:上師必經之路,宜在旁肅立,恭迎恭送。上師若咳嗽、鼻涕,也不得有嫌惡之心。
Penjelasan: siswa hendaknya siap berdiri di sisi jalan yang akan dilalui Guru untuk penyambutan atau pengantaran. Jangan merasa jijik jika Guru sedang batuk atau usap ingus.


第三十條:亦勿於師前 私竊而言說

Pasal 30
恒及鄰近語笑 歌舞作唱等
解釋:在上師面前,不可竊竊私語,一切不莊重的舉動,一律去除。
Penjelasan: jangan berbisik-bisik di hadapan Guru. Semua tingkah yang kurang sopan harus dihentikan.


第三十一條:或令坐或起 各安徐禮敬

Pasal 31
恒若於險路中 自己作前導
解釋:對上師的指示,都要安詳敬禮,走在較危險之路上,要自己引導上師前進。
Penjelasan: hendaknya bersikap tenang dan penuh rasa hormat saat menerima petunjuk dari Guru. Wajib berjalan mendahului Guru jika sedang berada di jalanan yang berbahaya.


第三十二條:又不應於前 身現疲勞相

Pasal 32
恒屈指節作聲 倚柱及牆壁
解釋:在上師面前,精神要振作,不要有氣無力之樣,小動作均須停止,身體不倚柱靠壁。
Penjelasan: hendaknya bersemangat dan tidak tampak lesu di hadapan Guru, hentikan gerakan yang tak pantas, jangan menyandarkan tubuh ke pilar atau dinding.


第三十三條:或浣衣濯足 及澡浴等事

Pasal 33
恒先白師令知 所作無令見
解釋:洗衣洗澡洗足,先告上師,勿令上師看見。
Penjelasan: permisilah pada Guru sebelum mencuci pakaian, mandi, atau membasuh kaki, agar tidak terlihat oleh Guru.


第三十四條:又復於師名 不應輒稱舉

Pasal 34
恒設有困問者 當示之一字
解釋:不得隨意呼叫上師的名字,有人問,告於法號。
Penjelasan: jangan menyebut nama Guru sesukanya, bila ada yang bertanya, sebutlah nama Buddhis.

第三十五條:師或令幹集 當伺其遣使
Pasal 35
恒於彼所作事 憶持常不忘
解釋:常聽候上師之差遣,牢記上師交代的事,盡力去完成。
Penjelasan: siap menerima tugas dari Guru, jangan mengabaikan tugas yang diberikan oleh Guru, dan usahakanlah selesai dengan tuntas.


第三十六條:或笑嗽伸欠 則以手遮口

Pasal 36
恒若有事啟聞 當曲躬軟語
解釋:凡想笑、打哈欠、咳嗽,均用手遮口。有事情要講,須躬身恭敬。
Penjelasan: Tutupi mulut dengan tangan saat tertawa, bersin, atau batuk. Jika ingin berbicara, berilah hormat terlebih dahulu.


第三十七條:若在家女子 淨心來聽法

Pasal 37
恒合掌具威儀 專視於師面
解釋:女子聽法,端莊第一,雙手合十,專注精神。
Penjelasan: umat wanita yang sedang mendengarkan ceramah Dharma harus berpenampilan rapi, beranjali, dan penuh perhatian.


第三十八條:聞已當奉持 捨離於憍慢

Pasal 38
恒常如初適嫁 低顏甚慚赧
解釋:上師傳法,女子要細心奉持,不可自高自大,如新嫁娘一般,低頭學法。
Penjelasan:umatwanitayangmenerimaajaran Dharma dari Guru harus mengamalkannya dengan seksama, tidak angkuh, bersikaplah seperti seorang pengantin baru yang menundukkan kepala.


第三十九條:於彼嚴身具 無復生愛樂

Pasal 39
恒與善非相應 皆思惟遠離
解釋:女子學法,要離虛榮,世俗飾物,不生喜愛,凡是不善的,要思遠離。
Penjelasan: umat wanita yang belajar Dharma harus berpenampilan sahaja, tidak melekat pada perhiasan. Segala hal yang tidak baik harus dijauhi.


第四十條:常慕於師德 不應窺小過

Pasal 40
隨順獲成就 求過當自損
解釋:學師之德行,上師若有小過,不應擴大渲染,要學會隨順上師才有成就,若渲染上師之過,自己反而學法不成,有輕慢心,害了自己。
Penjelasan: belajarlah budi pekerti Sang Guru, dan janganlah membesar-besarkan kesalahan kecil Guru. Jadilah siswa yang penurut agar cepat memperoleh hasil. Kalau membesar-besarkan kesalahan Guru, meremehkan Guru, hal ini justru akan merugikan siswa sendiri dan gagal mencapai keberhasilan dalam Dharma.


第四十一條:說法度弟子,曼荼羅護摩

Pasal 41
城邑同師居 無旨不應作
解釋:凡是一切法事,全應照上師的意思而作,沒有上師指示的,不可作之。
Penjelasan: Hal yang berkaitan dengan ritual harus sesuai dengan petunjuk Guru. Tidak boleh melakukan ritual di luar petunnjuk Guru.


第四十二條:或說法所得 淨施諸財物

Pasal 42
悉以奉其師 隨得而可用
解釋:講經說法傳法的收入,應是上師的,若上師應許如何支配,才能動用之。
Penjelasan: dana paramita dari upaya pembabaran Dharma seharusnya untuk Guru. Jangan dipergunakan tanpa seizin Guru.


第四十三條:同學及法裔 不應為弟子

Pasal 43
亦不於師前 受承事禮敬
解釋:傳承法統,不可亂,同拜一位上師,不可再互為師或徒,這是法統。
Penjelasan: silsilah Guru harus dijaga, sesama siswa tidak diperbolehkan saling mengangkat Guru, semua ini ada aturannya.


第四十四條:若以物上師 二手持奉獻

Pasal 44
師或有所施 當恭敬頂受
解釋:呈物給上師,二手恭敬。師有施予,同樣雙手恭敬過頂領受。
Penjelasan: memberikan sesuatu kepada Guru harus menggunakan dua tangan. Begitu pula menerima sesuatu dari Guru juga harus menggunakan dua tangan lalu mengangkat di atas kepala.


第四十五條:自專修正行 常憶持不忘

Pasal 45
他或非律儀 愛語相教示
解釋:佛弟子須專注修行功課,永恒不止,不合戒律的,不可行,不可故意尋上師之過。
Penjelasan: umat Buddha wajib belajar dengan sepenuh hati dan konsisten. Jangan bertindak tidak sesuai sila, dan jangan secara sengaja mencari-cari kesalahan Sang Guru.


第四十六條:若師所教 或病緣不作

Pasal 46
當作禮咨陳 斯則無其咎
解釋:上師的教導,要一一遵行,若因病,作不成,要婉轉解釋,如此才沒有過失。
Penjelasan: ajaran Guru harus dilaksanakan semuanya. Jika tidak dapat melaksanakan karena sakit, harus memberi penjelasan secara baik-baik agar tidak melanggar sila.

第四十七條:常令師歡喜,離諸煩惱事
Pasal 47
當勤而行之 恐繁故不述
解釋:一切所作所為,必須常使上師歡喜,所有一切煩惱事,替上師解決,努力行之,恭敬供養,侍奉上師,不懈怠。事師法甚多,所以不全部說出。
Penjelasan: semua tingkah laku siswa harus membahagiakan Guru, wajib berusaha membantu Guru mengatasi masalah yang sulit, tekun berdana dan melayani Guru dengan rasa hormat. Banyak cara untuk mengabdi pada Guru, tidak disebutkan satu per satu.


第四十八條:彼金剛如來,親如是宣說

Pasal 48
及餘教所明 依師獲成就解釋:佛如此說,依止上師,能得大成就。
Penjelasan: demikianlah sabda Sang Buddha, “Berlindung kepada Guru, akan mendapatkan keberhasilan yang besar.”


第四十九條:若弟子清淨 皈依三寶已

Pasal 49
當付事師法 先令熟諷誦
解釋:凡有弟子來皈依,要他熟讀「事師法」,不得犯錯。
Penjelasan: bagi siswa yang baru bersarana wajib membaca “Abdiguru” agar tidak melanggar sila.


第五十條:次授秘密教 使成正法器

Pasal 50
根本十四墮 同應善誦持
解釋:弟子皈依灌頂後,再傳密法,使其成正法之修者,有密宗根本十四墮之戒律,也須教授之,使之受持,而成善金剛修持者。
Penjelasan: siswa yang sudah menerima abhiseka sarana akan diberikan ajaran Tantra agar menjadi seorang sadhaka yang benar, juga harus diajari “14 Sila Dasar  Tantrayana” agar menjadi sadhaka Vajrayana yang sejati.

source :  http://www.zhenfozong.org

Sila-Sila Zhen Fo Zong

Sila-Sila Zhen Fo Zong



Jumlah siswa Zhen Fo Zong sampai saat ini telah mencapai 4 juta siswa berdasarkan jumlah sertifikat sarana yang telah diterbitkan. Setiap hari banyak orang yang bercatur sarana dalam Zhen Fo Zong. Sebagian dari mereka datang secara pribadi ke U.S.A. untuk memohon catur sarana. Saya percaya dalam beberapa tahun mendatang, jumlahnya akan berlipatganda.

Banyak siswa telah bertanya pada Saya, sila apa yang harus ditaati oleh siswa Zhen Fo Zong. Di dalam sertifikat catur sarana, tertulis : "Yang tersebut di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bersarana dalam agama Buddha, bersarana pada Guru Sejati Maha Vajra Acarya Lian Sheng. Selama hayat masih dikandung badan, bertekad menjunjung tinggi silsilah, menghormati Guru, menghargai Dharma, mengamalkan sadhana. Selama hayat masih dikandung badan, bertekad menaati sila. Selama hayat masih dikandung badan, bertekad melakukan kebajikan, berbakti pada orang tua. Demikianlah hal ini akan dilakukan dengan sungguh-sungguh. Semoga para Buddha Bodhisattva sepuluh alam Dharma menjadi saksi."

Saya sekarang ingin menjelaskan sila-sila dalam Zhen Fo Zong. Salah satu ikrar dalam sertifikat bersarana adalah, menghargai Dharma dan menaati sila dengan sungguh-sungguh seumur hidup. Ini berarti seseorang harus bersedia sepanjang hidupnya dengan sungguh-sungguh menjunjung tinggi Dharma dan dengan serius menjalankan sila. Sila berikut ini adalah Pancasila dalam agama Buddha.

Karena dalam Zhen Fo Zong kita sungguh-sungguh melatih diri sesuai Buddha Dharma, maka kita harus menaati Pancasila, yaitu:

1. Tidak Membunuh
Seseorang harus berwelas asih kepada semua makhluk dan tidak membunuh makhluk hidup. Perwujudan langkah dari komitmen ini adalah melepaskan makhluk hidup.
2. Tidak Mencuri
Seseorang tidak boleh mengambil barang yang bukan merupakan miliknya.
3. Tidak Berzinah
Semua bentuk hubungan seksual tidak diperbolehkan kecuali antara suami dan istri.
4. Tidak Berdusta
Seseorang tidak boleh mengadu domba, menyelewengkan ucapan orang lain, menfitnah orang lain atau Dharma sejati akan berakibat pada akumulasi karma buruk ucapan.
5. Tidak Bermabuk-mabukan
Seseorang tidak boleh mabuk atau kehilangan kesadaran karena minuman yang memabukkan.

Ini adalah sila dasar Zhen Fo Zong termasuk juga di dalam agama Buddha itu sendiri. Sadhaka Zhen Fo Zong adalah seorang Buddhis, oleh sebab itu harus mematuhi sila. Sebagai tambahan, melatih Buddha Dharma harus berbakti kepada orang tua, menghormati guru, dan rekan-rekan se-Dharma, ini adalah sikap dasar sebagai seorang manusia. Seorang siswa yang tidak menaati sila akan membuat catur sarananya menjadi tidak berguna dan mengakibatkan sertifikat bersarana menjadi sehelai kertas tak bernilai.

Bagi siswa Zhen Fo Zong yang menaati Pancasila dan menjalankan Kusala Karmapatha1, semoga mereka diberkati sehingga:
1. Mereka tidak mempunyai musuh yang membenci, mereka dijauhi dari penyakit, berusia panjang, dan berbahagia, damai dan beruntung.
2. Semua anggota keluarga menjadi harmonis, tanpa perselisihan dan umpatan, serta dihormati oleh orang banyak.
3. Mereka tidak akan menemui kecelakaan, bencana atau kematian sebelum waktunya.
4. Segenap dewata dan makhluk suci berkenan melindungi mereka, membimbing mereka untuk menghormati dan bersarana pada Sang Tri Ratna (Buddha, Dharma dan Sangha) dan memberkati mereka untuk teguh menapaki jalan Bodhi (jalan penerangan).
5. Mereka semua mempunyai ladang kebajikan dan kesejahteraan.

Dikarenakan tidak semua orang bersikap bijaksana, akan ada orang yang melanggar sila. Jika orang demikian ingin bertobat, maka mereka perlu menekuni sadhana pertobatan. Ini memerlukan tekad untuk membuat suatu pengakuan dan bertobat (dari dasar hati) di hadapan Buddha dan Guru atas semua perbuatan yang telah dilakukan.

Hampir tak terhitung banyaknya karma buruk yang dilakukan umat manusia. Sebagai contoh, banyak orang yang tidak percaya hukum sebab akibat atau tidak percaya adanya hukum karma. Mereka sering berkata, "Saya tidak percaya apapun." Ucapan demikian menggambarkan ego yang terlalu tinggi. Sikap ini dengan cepat berubah menjadi sikap seenaknya sendiri, membiarkan dirinya berbuat karma buruk. Banyak orang tidak percaya apapun disebabkan oleh harga dirinya, kelebihannya, kekayaannya, statusnya, usia panjangnya atau tidak adanya penyakit serius yang dideritanya. Buddha Sakyamuni suatu ketika menasihati kita untuk tidak angkuh karena keangkuhan akan melahirkan sikap seenaknya sendiri dan sikap ini cenderung mengakibatkan seseorang untuk menciptakan karma buruk.

Di dunia ini sedikit sekali orang yang bijaksana, tapi banyak sekali orang tidak bijaksana. Perilaku orang tidak bijaksana ini disebabkan oleh kebodohannya. Sekali saja seseorang berteman dengan orang berkebiasaan buruk, mudah sekali untuk berbuat buruk yang sama. Karenanya, kita hendaknya berhati-hati memilih teman. Jauhi orang yang mempunyai kebiasaan buruk karena sekali saja kita mengikuti mereka, bibit untuk mengikuti mereka lagi akan tertanam dan kita mungkin tidak sadar untuk terus melakukan karma buruk.

Keinginan yang tak pernah puas juga merupakan salah satu karakteristik kecenderungan dalam diri manusia. Hawa nafsu yang tak pernah puas adalah penyebab utama manusia untuk melakukan karma buruk. Sebagai contoh, keinginan akan nafsu seksual. Semua orang menyukai kecantikan ragawi dan terkadang seseorang tergoda untuk melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan. Bibit dari nafsu yang tak pernah puas, sulit untuk dikendalikan. Sadhaka Tantra harus melatih Visualisasi Kesunyataan dan Visualisasi Asubha2 untuk mengalihkan nafsu seksual yang berlebihan. Tanpa berlatih demikian, bahkan seorang bhiksu dan penganut Taois yang senior pun akan mengalami mimpi basah di malam hari. Jika seseorang tidak menuruti nafsu seksualnya, maka dia sungguh-sungguh adalah sadhaka suci. Jika seseorang menuruti nafsu seksnya tanpa terkendali, maka ia akan melakukan karma buruk. Keinginan yang tak pernah puas akan kekayaan juga salah. Pepatah Tiongkok mengatakan, Manusia mati karena harta, burung mati karena makanan. Keserakahan akan kekayaan melebihi apa yang dibutuhkan adalah bibit dari kekesalan dan kekuatiran. Sadhaka harus mengerti bahwa pikiran yang puas adalah kebahagiaan abadi. Mempunyai pikiran yang puas akan menghentikan keserakahan seseorang. Tanpa keserakahan, karakter moral seseorang akan mulia.

Begitu pula jika seseorang melukai orang lain karena kecemburuan, maka batinnya akan selalu dalam kekesalan.
Lebih lanjut, pelanggaran terberat yang dapat dilakukan seseorang adalah Panca Akusala Garukha Karma, seperti menghancurkan stupa Buddha atau vihara, membakar buku kebajikan atau kitab Sutra, merusak pratima Buddha, mencuri barang milik Tri Ratna. Menjelekkan Buddha Dharma, menghina dan memaki ajaran suci, mencelakai sadhaka yang berlatih Dharma yang benar. Membunuh atau mencelakai orang tua, melukai tubuh Buddha, memecahbelah Sangha, membunuh Arahat. Menyebarkan isu bahwa tidak ada hukum karma, kerap melakukan sepuluh karma buruk, inilah Panca Akusala Garukha Karma yang sangat berat.

Bagi yang telah melakukan perbuatan ini, harus segera bertobat dan
menyebarluaskan Dharma untuk membimbing manusia di dunia. Mereka harus menggunakan Dharma untuk menaklukkan Mara3 pikiran. Mereka harus memutar roda Dharma dan menjalani Sad Paramita4 untuk melenyapkan sepuluh perbuatan karma buruk dan menaklukkan keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin.
Jika mereka melakukan ini maka semua kekesalan dan kesengsaraan akan berakhir dan sifat jati diri akan bercahaya dan menjadi murni.
Siswa Zhen Fo Zong akhirnya akan memperoleh kebijaksanaan besar untuk mengetahui kehidupan lampau diri sendiri dan orang lain. Mereka akan mempu mengingat ratusan dan ribuan dari kehidupan lampau mereka, menjalani Dharma yang diwariskan oleh Tathagatha, berbuat kebajikan secara spontan dan melayani Guru. Mereka akan menjauhkkan diri dari karma buruk, selamanya berlatih Dharma sejati. Akibatnya, mereka akan merasa bahagia dan tenteram pada tubuh dan pikiran mereka. Penampilannya akan sempurna dan mereka akan mampu menunjukkan berbagai metode luar biasa untuk melindungi dan menjaga makhluk hidup, sehingga semua makhluk hidup akan secepatnya mencapai kebuddhaan.

Berikut ini ada lima langkah Sadhana Pertobatan:
1. Mengundang kehadiran dua puluh satu Buddha untuk menjadi saksi atas pertobatan.
2. Bervisualisasikan para Buddha memancarkan cahaya dan melenyapkan rintangan.
Kekuatan dari dua puluh satu Buddha dapat melenyapkan karma buruk dan memberikan pemberkatan. Ini adalah pahala sejati dari pengundangan dua puluh satu Buddha, Sadhaka bervisualisasi dalam meditasinya muncul dua puluh satu Buddha di angkasa. Setiap Buddha memancarkan cahaya tak terbatas melalui pori-pori. Cahayanya mula-mula memancar dari pori-pori wujud Buddha kemudian menyebar luas. Cahaya tersebut saling berbaur menghasilkan warna yang tak terhitung banyaknya. Pancaran cahaya mengubah dunia di sepuluh penjuru menjadi alam suci. Kelima kotoran duniawi (kekotoran kalpa, pandangan, penderitaan, makhluk hidup dan kehidupan) terpancar oleh cahaya Buddha. Cahaya yang dipancarkan oleh dua puluh satu Buddha, pertama-tama menyinari kekotoran dunia dan mengubahnya menjadi alam suci. Kemudian menyinari makhluk hidup dan melenyapkan karma buruknya seperti Akusala Karmapatha, Garukha Karma, memfitnah Tri Ratna, tidak sopan kepada Guru, tidak menghormati orang tua. Mereka yang ditakdirkan untuk jatuh ke dalam tiga alam samsara (neraka, preta dan hewan) akan terbebaskan karena cahaya dari dua puluh satu Buddha. Akhirnya, cahaya tersebut memancari sadhaka untuk melenyapkan karma buruknya. Dikarenakan pemberkatan dari cahaya Buddha, sadhaka akan berbahagia, tulus, penuh dengan prajna dan keberuntungan dan mempunyai penampilan bagaikan Buddha. Dia akan senantiasa melihat Buddha dari sepuluh penjuru dan tiga masa.
3. Menjapa nama agung dan mantra.
Ketika sadhaka merasakan cahaya, mereka harus dengan tulus menyebut nama agung dua puluh satu Buddha dan kemudian menjapa 108 kali atau 1080 kali Mantra Sapta Tathagata Pelenyap Karma Buruk.
4. Mudra.
Tangan kiri mengepal dan diletakkan dekat pinggang. Telapak tangan kanan terbuka dan kelima jari dijulurkan keluar seolah-olah kelima sinar memancar keluar secara alamiah. Telapak tangan kanan diletakkan di depan dada.
5. Pelimpahan jasa.
“Semua karma burukku yang terkumpul selama kehidupan lampau yang tak terhitung lamanya yang seharusnya membuatku terlahir di alam neraka, alam preta, alam hewan atau asura atau ke dalam astavaksana5. Tetapi dengan mengamalkan Dharma dan bertobat, semua pelanggaran dan karma buruk dapat terhapus. Semua akibat yang tidak diinginkan tidak akan muncul. Bagaikan semua Maha Bodhisattva yang berlatih di jalan ke-Buddha-an dan bertobat atas segala pelanggaranku tanpa ada yang ditutupi. Saya berharapsemua pelanggaranku sepenuhnya diampuni dan bersumpah untuk tidak melakukan pelanggaran lagi di masa mendatang. Semoga dua puluh satu Buddha menjadi saksi.
Kelima langkah di atas adalah Sadhana Pertobatan mendasar dalam Zhen Fo Zong. Mereka yang berlatih Sadhana Pertobatan harus pada saat yang bersamaan berlatih Catur Prayoga. Dengan mengikuti tata caranya, pelanggaran seseorang akan dihapuskan dan memperoleh berkah tak terbatas.
(Sumber: Buku Lu Sheng-yen “Maha Sadhana Vajra Ling Xian” hal.139)


1. Sepuluh perbuatan baik: tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berzinah, tidak berdusta, tidak mengadu domba, tidak berbicara kasar, tidak berbicara cabul, tidak serakah, tidak membenci/mendendam, dan tidak berpandangan salah
2. Bervisualisasi objek yang dilihat adalah hal yang kotor menjijikkan.
3. Mara melambangkan nafsu yang menguasai menusia maupun segala sesuatu yang berakibat terhalangnya akar dan kemajuan dari jalan menuju kebenaran.
4. Enam Cara Menyeberang ke Pantai Seberang: Dana Paramita (beramal), Sila Paramita (menaati sila), Ksanti Paramita (kesabaran), Virya Paramita (semangat), Dhyana Paramita (meditasi), Prajna Paramita (kebijakanaan)
5. Delapan Kondisi Tidak Menguntungkan: alam neraka, alam preta (setan kelaparan), alam binatang, Uttakuru (benua utara dimana semuanya sangat menyenangkan), usia panjang di alam dewa (dimana masa kehidupan sangat panjang dan penuh kenikmatan), sebagai orang tuli, buta dan bisu, sebagai seorang filsafat, masa jeda antara dua Buddha dimana sangat sulit untuk bertemu Buddha dan mendengarkan Dharma.

Sumber : tbsn.org

Pancasila Buddhis

PANCASILA BUDDHIS


1. Berwelas kasih tidak membunuh
memandang semua makhluk hidup adalah sederajat, oleh karena itu jangan membunuh. Agama Buddha mengutamakan bahwa Buddhata itusamata, dan menganjurkan berwelas kasih untuk penyelamatan, itu sebabnya Sang Buddha lewat ajaran samata dan maitri karuna menunjukkan bahwa semua makhluk memiliki Buddhata, tidak tidak boleh dibunuh. Konghucu berkata bahwa tidak tega menyantap dagingnya setelah mendengar suara rintihannya. Welas kasih sungguh sebuah dasar utama menujju Jalan Kebenaran. Seorang sadhaka hendaknya berwelas kasih dan menaruh simpati untuk tidak membunuh makhluk hidup, tidak menciptakan karma kebencian, dengan demikian semua makhluk akan hidup secara alami, pertengkaran dan kebencian dapat dihindari, dan dunia universal pun terwujud.

2. Bersikap alim tidak mencuri
seorang hendaknya menjaga kejujuran. Anggaplah semua jasa, nama, keuntungan, dan kejayaan ibarat sebuah lembayung, jangan sampai tergoda oleh faktor materi lantas melakukan penipuan atau perampokan. seorang sadaka tidak boleh mengambil yang bukan miliknya, karena mengambil yang tidak diberikan, mengambil yang bukan bagiannya, mengambil yang bukan haknya, semuanya termasuk tindak pencurian. Ketahuilah, banyak manusia yang tidak memahami sila ini dan tidak memiliki solidaritas, sehingga setiap hari muatan surat kabar sarat dengan kasus perampokan dan pencurian. Ketenangan masyarakat akan terpelihara apabila setiap orang mematuhi sila ini.

3. Menjaga kesucian diri tidak berzinah
yang dimaksud tidak berjinah adalah perzinahan di luar hubungan suami istri yang resmi, Sebagai orang yang belajar Jalan Kebenaran, ketemu wanita cantik ibarat ketemu macan ganas, seharusnya ditakuti dan dijauhi; suami istri harus saling menghormati; menganggap wanita yang lebih tua sebagai ibu; menganggap wanita yang lebih muda sebagai adik;.Jangan sampai timbul khayalan perzinahan. Ketahuilah, tubuh wanita pesona terdapat sebilah pedang yang siap menghunus pria, wa;aupun tidak tampak kepala manusia jatuh tergolek, diam-diam membuat sumsum tulang pria mengering. Sebait pepatah panjang usia berbunyi, "Apakah orang awam mampu merasa puas atas berkah bawaan? "Apakah bisa menjaga keutuhan energi pada usia remaja? Apakah tidak menyelewang setelah menikah? Apakah bisa tidak memadui pelayan wanita diluar istri sah? Selain pelayan wanita, apakah bisa tidak berbuat maksiat dengan wanita asusila atau melecehi wanita dibawah umur? Tubuh manusia bukan terbuat dari baja, perzinahanakan menguras habis energi dan membuan imun menjadi rapuh." Oleh karena itu, menjaga kesucian diri, selain dapat memperpanjang usia, jiwa pun tidak akan menyimpang untuk memperoleh Jalan Kebenaran

4. Bersikap jujur tidak berdusta
kejujuran merupakan landasan dasar langit dan bumi. Agar hati manusia dapat menyatu dengan hati yang di Atas, faktor utama adalah kejujuran. Tanpa kejujuran, tidak akan ada rasa hormat, tidak ada gunanya berbicara Jalan Kebenaran, omong kosong. Membodohi orang dengan tipu muslihat, menipu orang lewat perkataan manis, suka berbohong, berbicara tidak sebenarnya, memutarbalikkan fakta, semua ini adalah dusta. Perkataan munafik dan penipuan jangan sembarangan diucapkan, hal itu akan membuahkan karma ucapan.

5. Tidak minum minuman keras agar pikiran tidak kacau
masalah minuman keras, nasihat orang bijak zaman dulu berbunyi, "Jangan kira manusia itu dewa arak, kalau sudah mabuk apapun bisa terjadi, mengundang bencana dan menghancurkan kepercayaan, setelah sadar, menyesal pun tiada gunanya lagi." Seorang sadhaka hendaknya menjaga kesadaran dan jangan sembarangan menyentuh minuman keras. Minuman keras ibarat narkotik, sekali mabuk, kepribadian pun mencadi cacat. Banyak kejadian tidak wajar yang dikarenakan mabuk-mabukan. Orang yang mendalami Jalan Kebenaran harus menjaga ketenangan batin dan kebersihan jiwa, patuhilah sila tidak minum minuman keras ini.

sumber : Vinaya Tantrayana

14 Sila Dasar Tantra (14 Mula Sila Tantrayana)

14 Sila Dasar Tantra (14 Mula Sila Tantrayana)
 
1. Tidak menghormati Mulacarya melalui ucapan, pikiran dan perbuatan.
Penjelasan : Mulacarya mewakili Buddha membabarkan Dharma, merupakan perwujudan dari Tri Ratna. Dalam Tantrayana, Catur Sarana yang pertama adalah bersarana kepada Mulacarya, untuk itu sehari-hari hendaknya memperlakukan Mulacarya layaknya seorang Buddha. Sebelum bersarana, hendaknya seorang siswa terlebih dahulu memahami Mulacarya, agar tidak terjadi penyesalan di kemudian hari, yang mengakibatkan tidak menghormati serta menghargai Mulacarya, dengan demikian akan memperoleh karma baik dan kelak mencapai keberhasilan dalam mempelajari  Buddha Dharma. Sebaiknya apabila mengecam Mulacarya, berarti telah melanggar sila ke-1 dari "14 Mula Sila Tantrayana" dan kelak akan terjerumus ke dalam Neraka Vajra. Bila setelah bersarana kepada mulacarya ternyata Mulacarya tersebut memang tidak benar, dan tidak memiliki kemampuan dalam Buddha Dharma, maka jauhilah Mulacarya tersebut dan bersarana kepada Mulacarya lain yang sejati. Namun sebagai seorang sadhaka Vajrayana, janganlah mengecam mantan Mulacarya tersebut.

2. Tidak mematuhi Tata Sila dalam Tantra maupun non Tantra.
Penjelasan : Dalam Tantrayana maupun non Tantra terdapat banyak sila, dan sila-sila ini bermaksud untuk mencegah umat Buddha melakukan perbuatan jahat, antara lain Pancasila Buddhis, Kusala Karmapatha dan 250 sila. Kekuatan yang diperoleh dari mematuhi sila disebut kekuatan sila. Sadhaka Vajrayana wajib mematuhi Tata Sila dalam Tantrayana maupun non Tantra.

3. Menaruh rasa dendam dan menghujat sadhaka sedharma.
Penjelasan : Sesama saudara sedharma baik Tantra maupun non Tantra, hendaknya tidak menaruh rasa dendam ataupun menghujat. Oleh sebab itu, dalam Zhenfo Zong terdapat sila yang amat penting, yaitu "Menghormati saudara sedharma dan menghormati Mulacarya"

4. Tidak memiliki maitri karuna.
Penjelasan : Sadhaka Vajrayana hendaknya memiliki maitri karuna, janganlah ber-iri hati.

5. Gentar kesulitan dan meninggalkan Bodhicitta.
Penjelasan : Hendaknya memiliki maitri karuna dalam upaya membebaskan sesama makhluk dari samsara, sekalipun terhadap insan yang berwatak jahat. Tidak gentar dan tidak patah semangat dengan menyadarkan bahwa semua makhluk memiliki sifat Buddha. Gentar terhadap kesulitan akan mengakibatkan lenyapnya Bodhicitta, padahal dalam mengembangkan Bodhicitta yang utama adalah membantu bebaskan sesama makhluk dari samsara.

6. Mengecam sutra Tantrayana maupun non Tantra bkan berasal dari Buddha.
Penjelasan : Dewasa ini di kalangan masyarakat banyak orang mengecam bahwa sutra yang ini palsu, sutra yang itu palsu. Hendaknya jangan sembarang memberi komentar bila belum mengerti dengan jelas, sebab salah komentar dalam hal ini merupakan kecaman yang juga melanggar sila.

7. Mengajari Sadhana Tanra tanpa memiliki kualifikasi.
Penjelasan : Hanya orang yang memiliki kualifikasi seorang Acarya, yang telah diakui keabsahannya oleh seorang Mulacarya dan Adinata, baru diperkenankan mengajari Sadhana Tantra, dan itupun setelah ia mampu melebur dalam samudra kemurnian sifat Vairocana. Jadi kalau belum memperoleh abhiseka dan keabsahan dari Mulacarya, seseorang tidak diperkenankan mengajari Sadhana Tantra.

8. Melekat pada panca skandha yang merugikan sesama.
Penjelasan : Seorang Vajracarya layaknya seorang Buddha, dan sadhaka Vajrayana juga layaknya Pewaris Dharma. Perbuatan merugikan orang lain dan menyakiti diri sendiri yang penuh dengan kemelekatan pada panca skandha, semua ini tidak sesuai dengan vinaya Buddha Dharma.

9. Mengabaikan sunya dan abhava.
Penjelaran : Sunya dan abhava kedua-duanya amat penting. Dan jangan mengabaikan upaya pelatihan mencapai sunyata.

10. Bersekutu dengan orang yang mengecam Buddhadharma dan merugikan sesama.
Penjelasan : Sila ke-10 ini kelihatannya bertentangan dengan sila ke-5, sebenarnya tidak demikian. Kita boleh berupaya membantu bebaskan mereka yang mengecam Buddhadharma agar meninggalkan samsara, begitu pula mereka yang perbuatannya merugikan orang banyak, namun kita tidak bersekutu dengan mereka, artinya kita tidak melibatkan diri dengan perbuatan mereka, juga tidak bersenda gurau dengan mereka.

11. Memamerkan kekuatan spiritual dan melupakan makna mulia sebenarnya.
Penjelasan : Sering memamerkan kekuatan spiritual pribadi, dan telah melupakan makna mulia semula belajar Sadhana Tantra, yaitu mencapai ke-Buddha-an, membantuk bebaskan sesama makhluk dari samsara serta mengembangkan Bodhicitta.

12. Tidak mengajarkan Sadhana Tantra yang sejati berarti merusak akar kebajikan.
Penjelasan : Seorang Acarya yang sejati wajib mengajarkan Sadhana Tantra yang sejati, dan membantu bebaskan sesama makhluk dari samsara. Kalau tidak, ia telah merusak akar kebajikan dan termasuk melangar sila.

13. Tidak memiliki alat ritual yang lengkap.
Penjelasan : Setiap pelatihan dan pengajaran Sadhana Tantra harus memiliki perlengkapan alat ritual yang komplit, agar tidak melanggar sila.

14. Mengecam kebijaksanaan kaum wanita.
Penjelasan : Tidak mengecam kebijaksanaan kaum wanita, berarti menjalani konsep persamaan derajat.

Sadhaka yang telah menerima abhiseka Catursarana, wajib memahami dan mematuhi 14 Mula Sila Tantrayana.


Sumber : Vinaya Tantrayana