Makna dan Kebajikan Homa
Dalam Tantrayana,
persembahan api homa menempati posisi yang sangat penting. Baik dalam
Tantra Tibet, Tantra Timur maupun dalam Tantra Cina, semuanya sangat
penting. Terutama dalam Tantra Timur, homa ditempatkan sebagai suatu
metode Dharma yang sangat penting. Harus berlatih lebih dahulu "Yoga
Delapan Belas Jalur", kemudian menyelesaikan "Prosedur Penjapaan
Garbhakosadhatu" dan "Prosedur Penjapaan Wajradhatu". Terakhir, baru
boleh berlatih "Metode Agung Homa". Homa adalah tataran yang cukup
tinggi dan terakhir dari keempat Metode Utama Pelatihan Tantra Timur.
Homa merupakan metode utama pencapaian siddhi dalam Tantrayana.
Dalam
Tantra Timur, setiap Acarya harus menyelesaikan dulu upacara homa
sebanyak 100 kali, 200 kali, bahkan 500 kali, barulah memenuhi syarat
sebagai Acarya.
Oleh karena itu homa sangat penting sekali.
Mengapa
pelaksanaan homa begitu penting? Karena melakukan homa sama saja dengan
melakukan persembahan. Persembahan yang lazim anda berikan hanyalah
persembahan kecil. Misalnya memberi persembahan sebuah pisang,
mempersembahkan sebuah lilin, menyalakan beberapa batang dupa.
Sedangakan untuk melangsungkan sekali upacara homa, identik dengan
memberi persembahan selama setahun, bahkan 10 tahun. Dalam hal menambah
kesejahteraan dan menambah kearifan, merupakan suatu metode yang sangat
efektif.
Buddha Shakyamuni bersabda kepada siswanya:
"Persembahan api dapat mengubah nasib, mentransformasikan semua urusan,
terutama berdasarkan kekuatan samadhi diri sendiri ditambah dengan
bantuan adhisthana dari para dewa."
Saat kita melakukan
homa, setiap dewa akan datang membantu persembahan api ini, 12 Dewa, 28
Dewa, 33 Dewa, Dewa Sakra, Dewa Mahabrahma dan lain sebagainya,
semuanya mungkin saja datang memberi bantuan dan sokongan. Oleh karena
itu, homa merupakan upaya pemunculan fenomena "manunggaling kawula
gusti" yang bersandar pada "daya sokongan para dewa serta kekuatan
samadhi dari Tantrika", dapat menghasilkan kekuatan siddhi (pencapaian)
yang sangat besar.
Api homa juga memiliki makna yang sangat penting:
Api
homa melambangkan "kekuatan pikiran". Pikiran manusia memiliki wujud
yang sangat mirip dengan api. Ini merupakan rahasia besar.
Api homa melambangkan penerangan, dapat menyingkirkan segala kegelapan dan kebodohan (kegelapan batin).
Api homa melambangkan pembersihan, membakar habis semua kekotoran batin dan rintangan.
Api homa melambangkan kearifan. Api merupakan simbol dari kearifan.
Api homa melambangkan penghormatan kepada dewa, merupakan persembahan yang sangat istimewa, dapat menambah kesejahteraan.
Api homa melambangkan nirwana.
Kebajikan
dari api homa besar sekali. Sadhaka Satyabuddha yang melaksanakan homa,
dapat memperoleh penerangan dan kesucian, melenyapkan rintangan
kegelapan batin, menyingkirkan karma buruk serta kekotoran batin,
menambah kesejahteraan, meningkatkan kearifan. Kekuatan pikiran dan daya
kemampuan batin diri sendiri pun akan bertambah dan meningkat dengan
sendirinya.
Pencapaian pelaksanaan homa dapat dibagi menjadi 3 tingkatan:
- Pencapaian superior------bagai sang Maharesi Widyadhara, melesat dan mengembara di angakasa dengan leluasa.
- Pencapaian medium-----memperoleh daya kemampuan batin yang besar, dapat menghilangkan wujud, menyembunyikan jejak.
- Pencapaian inferior--- menolak bala, menambah kesejahteraan,
merukunkan, menaklukan dan sebagainya, memperoleh pencapaian Karman,
memenuhi semua permohonan duniawi.
Adhinatha dan Fungsi Homa
Dalam situasi apa harus melaksanakan homa?
Metode
homa merupakan metode Karman yang bersifat duniawi. Keempat Karman
Utama yakni Santika, Paustika, Wasikarana dan Abhicaruka, semuanya dapat
diterapkan dalam homa.
- Santika----menolak bala. Menyingkirkan anekan malapetaka,
melenyapkan berbagai perselisihan dan penuntutan, mengobati
bermacam-macam deraan penyakit, melenyapkan karma buruk, dosa berat,
kekotoran, dan rintangan batin.
- Paustika---menambah kesejahteraan. Memohon rejeki, memohon harta
kekayaan, memohon keberhasilan dalam berdagang, minta rumah dan mobil,
minta kenaikan gaji, minta kenaikan pangkat, minta panjang umur, minta
kedudukan baik.
- Wasikarana---merukunkan. Menyempurnakan semua hubungan antara
manusia, meningkatkan hubungan baik antar manusia, membuat agar orang
menghormati dan menyayangi Anda, minta jodoh, mohon kerukunan suami
istri seta keluarga, memohon disayangi atasan mendapatkan kenaikan
karier atau promosi.
- Abhicaruka---manaklukan. Menundukkan pihak lawan, mematahkan niat
dan pikiran jahat pihak lain membuatnya berpaling kepada kebaikan serta
beriman kepada Buddha. Titik tolak dari pelaksanaan sadhana ini adalah
cinta kasih.
(Tatacara Empat Karmawan Utama dapat dililhat dalam buku "Penerangan Saat Berkepala Gundul")
Akarsana (mengait) kerapkali digabungkan dengan Wasikarana.
Selain itu sebelum dan sesudah retret harus melaksanakan homa, memohon kelancaran dan keberhasilan retret.
Memohon perlindungan diri---saat memohon para dewa untuk datang melindungi Tantrika, harus melaksanakan homa.
Memohon
agar gangguan Mara disingkirkan----bila ada yang sakit ditimbulkan
gangguan mahluk halus, karma penyakit datang melanda, kebajikan tidak
cukup, Dharmapada tidak hadir, harus melaksanakan homa.
Memohon
para dewa melindungi dan menyokong upacara---sebelum dan sesudah
upacara, memohon para dewa datang memberkati, harus melaksanakan homa.
Memohon
adhisthana silsilah----ingin mendapatkan kontak (yoga) dalam sadhana,
memohon daya adhisthana silsilah, mengadhisthana Anda agar berhasil
dalam ber sadha-na, harus melaksanakan homa.
Memohon
ketentraman dan kedamaian suatu lokasi----homa terbesar dapat
menenteramkan pergolakan disuatu lokasi. Misalnya perang antar dua
negara. Atau bencana alam dan malapetaka di suatu teritorial.
Memohon
peingkatan kekuatan batin----melaksanakan homa dapat meningkatkan
kesejahteraan seseorang, dapat meingkatkan kearifan; bila kebajikan
(kesejahteraan) dan kearifan bertambah, itu sama saja dengan peningkatan
kekuatan batin. Melenyapkan rintangan kegelapan batin, memperoleh
cahaya kesucian.
Yang lainnya seperti peringatan para
mahluk suci, abhiseka, pendoaan arwah (Chau Tu), pembangunan Vihara,
memohon keramahan cuaca dan lain sebagainya, semuanya dapat melaksanakan
homa.
Manfaat homa banyak sekali, keberhasilannya pun besar sekali.
Dalam
Tantrayana ada ketentuan, setiap homa harus memiliki Adhinatha (mahluk
suci yang diutamakan). Masing-masing sekte dalam Tantrayana pun memiliki
Adhinatha Homa yang berbeda-beda.
Adhinatha Homa dalam aliran Satyabuddha adalah:
- Santika(Si Cai Fa)-----Awalokiteswara sebagai Adhinatha. Karena pertolongannya yang penuh welas asih.
- Paustika(Cen Yi Fa)---Jambhala(Dewa Waisrawana) sebagai Adhinatha. Karena kerelaanya untuk membantu dalam hal harta kekayaan.
- Wasikarana(Cin Ai Fa)-----Bhagawati Cundi sebagai Adhinatha. Karena antusiasnya dalam hal menganyomi.
- Abhicaruka(Siang Fu Fa)---Padmasambhawa atau Acalanatha sebagai Adhinatha. Karena keperkasaan dan kemampuan penaklukannya.
- Memohon adhisthana silsilah---Mula-Acar ya (Pamakumara Putih)
sebagai Adhinatha. Merupakan sumber/ akar adhisthana, mengadhisthana
agar berhasil dalam sadhana.
- Memohon kesejahteraan-----Padmakumara Putih sebagai Adhinatha, atau Jambhala sebagai Adhinatha.
- Sebelum dan sesudah retret------Acalanatha atau Yamantaka sebagai
Adhinatha, atau Catur Maharajakayika(Empat Raja Surgawi) sebagai
Adhinatha.
- Memohon penyembuhan sakit--------Tathagata Bhaisajyaguru(Buddha Pengobat) sebagai Adhinatha.
- Memohon perlindungan diri------Acalanatha Widyaraja atau Catur Maharajakayika atau Yamantaka sebagai Adhinatha.
- Memohon panjang umur-----Buddha Amitayus(Buddha Panjang Umur) atau Tara Putih sebagai Adhinatha.
- Memohon agar gangguan Mara disingkirkan, penyakit yang ditimbulkan
mahluk halus atau penyakit kejiwaan disembuhkan------Acalanatha atau
Yamantaka(Pemimpin Dewa) sebagai Adhinatha.
- Memohon lindungan dari para dewa---------Catur Maharajakayika sebagai Adhinatha.
- Mendoakan para arwah (Chau Tu)---------Bodhisatwa Ksitigarbha atau Buddha Amitabha atau Padmakumara Putih sebagai Adhinatha.
- Memohon peningkatan batin-----Mula Acarya( Padmakumara Putih) sebagai Adhinatha.
Selain itu ada "Dua Puluh Satu Tara", misalnya "Tara
Penumbuh Kebajikan dan Kearifan", "Tara Penyelamat Bencana Pengurungan",
"Tara Penyelamat Bencana Angin", "Tara Penyelamat Bencana Angin", "Tara
Penyelamat Bencana Peperangan", "Tara Penyelamat Bencana Air" dan
sebagainya, semuanya dapat dipilih sebagai Adhinatha Homa.
Homapun
dapat digabungkan dengan Catur Karman Utama Guruyoga, Mengambil
Padmakumara Putih sebagai Adhinatha untuk melakukan penolakan bala,
peningkatan kesejahteraan, perukunan dan penaklukan, empat urursan.
Dalam
homa jenis apapun, selain memberi persembahan kepada Adhinatha dan
kerabatnya, juga harus memberi persembahan kepada Krodha (Dharmapala
berwajah murka) serta para dewa Pelindung Dharma. Ini penting sekali.
Peralatan Homa
Menurut
peraturan kuno Tantrayana, perlengkapan homa, jenisnya banyak sekali.
Santika, Paustika, Wasikarana dan Abhicaruka, peralatanya tidak sama,
cara penggunaanyapun masing-masing berbeda.
Aliran
Satyabuddha adalah Tantrayana yang paling cocok untuk orang-orang zaman
sekarang. Bilal perlengkapan homa Tantrika Satyabuddha dapat sesuai
dengan perlengkapan kuno tentu saja baik sekali. Tetapi bila tidak dapat
sepenuhnya mengikuti peraturan kuno, harus melakukan penyesuaian, tidak
perlu meniru cara kunko secara kaku, disesuaikan agar sebanyak mungkin
siswa Satyabuddha dapat memparaktekkannya.
Perlengkapan Homa Tantrika Satyabuddha harus memperhatikan dua prinsip utama:
- Yang diuatmakan adalah praktis, tidak melenceng dari fungsinya.
- Elok dan luwes, tidak melupakan keanggunan.
Umumnya, perlengkapan dasar yang dipakai dalam pelaksanaan homa Tantrika Satyabuddha meliputi:
- Meja homa----digunakan sebagai altar homa(paling baik menggunakan bahan anti api).
- Tungku homa----untuk pembakaran bahan persembahan homa(terbuat dari tembaga atau besi cor).
- Wadah homa (mangkuk, piring, nampan)-----digunakan untuk menampung
bahan persembahan (terbuat dari tembaga atau produk stainless-steel,
atau produk keramik yang tahan terhadap suhu tinggi).
- Sepit homa, cedok(sauk) homa------untuk menjepit atau mencedok bahan
persembahan lalu dimasukkan ke dalam tungku (terbuat dari tembaga atau
produk stainless-steel).
- Tongkat Wajra----untuk melakukan sima-badhana dengan mengetuk ke-empat penjuru.
- Wajraghanta dan Wajra.
Bahan Persembahan Homa
Cakupan
jenis bahan persembahan homa luas sekali. Yang utama adalah kayu homa,
madu, susu, minyak nabati, daun the, dupa, serbuh cendhana, parfum,
wijen putih, wijen hitam, gula putih, lima jenis padi-padian, kacang
aneka warna, berbagai jenis biskuit, aneka kembang dan buah-buahan.
Bahkan semua bahan makanan dan busanapun dapat dijadikan bahan persembahan.
- Pakaian----memberi persembahan kepada tubuh Adhinatha.
- Makanan-----memberi persembahan kepada mulut Adhinatha.
- Urapan Wangi-----memberi persembahan tubuh Adhinatha.
- Kembang-----memberi persembahan kepada tangan Adhinatha.
- Teh dan minuman ---memberi persembahan pada seputar Adhinatha.
Ini hanya sekedar contoh bahan persembahan yang berbeda-beda.
Pemilihan
kayu homa, termasuk hal yang cukup penting. Dalam peraturan kuno,
banyak sekali batasan-batasan terhadap kayu homa, cukup ketat. Santika
(Si), Paustika (Cen), Wasikarana ( Huai) dan Abhicaruka (Shu), keempat
Karman, kayu homa dari setiap jenis Karman ini ditetapkan menggunakan
bahan yang tidak sama, tempat penghasilnya tidak sama, warnanya tidak
sama dan lain sebagainya.
Misalnya menurut peraturan
kuno, Santika harus menggunakan kayu cendana putih, atau kayu yang
menghasilkan getah putih yang ditanam di tempat kelahiran orang suci.
Paustika menggunakan kayu yang menghasilkan getah kuning yang ditanam di
istana kerajaan. Wasikarana menggunakan kayu cendana merah atau kayu
yang menghasilkan getah merah. Abhicaruka menggunakan kayu cendana
hitam, atau kayu hitam produk pohon yang mati mengering atau yang
ditanam di bekas medan perang atau pejagalan.
Kalau mau menuruti peraturan kuno ini, kebanyakan sangat sulit diperoleh.
Dalam
menyiapkan kayu homa kita berusaha memenuhi peraturan kuno, tetapi
dengan penyesuaian dengan zaman modern, kita menerapkan cara-cara yang
memudahkan agar lebih banyak lagi Tantrika Satyabuddha dapat
mempraktekkan homa.
Asal menghasilkan getah, teksturnya
bersih, tidak bengkok, tidak retak tidak cacat tidak berlubang, tidak
lapuk digerogoti ulat, memilki panjang 23 cm (7 chun). Ujung dan pangkal
memiliki lebar yang sama. Ketebalan tidak dibatasi.
Dalam Santika, digunakan kayu yang agak putih, dicelupkan dalam susu ( atau madu ) yang berwarna putih.
Dalam Paustika, digunakan kayu yang agak kuning, dicelupkan dalam madu berwarna kuning.
Dalam Wasikarana, digunakan kayu yang agak merah, dicelupkan dalam minyak nabati (atau madu) berwarna merah.
Dalam Abhicaruka, digunakan kayu yang agak hitam, dicelupkan dalam tinta hitam atau cairan anggur berwarna ungu kehitaman.
Yang demikian sudah dianggap sesuai dengan peraturan.
Bahan persembahan yang lain, dalam Santika, Paustika, Wasikarana, dan Abhicaruka, juga dibedakan berdasarkan warna:
Santika----diutamakan
yang berwarna putih. Misalnya wijen putih, biji sawi (mustard) putih,
susu putih, kembang putih, madu putih, gula putih, beras putih, kacang
berwarna putih, kuaci putih, buah berwarna putih, biskuit/kue yang agak
putih dan lain sebagainya. Dalam homa untuk tujuan pengobatan, boleh
memberi persembahan obat-obatan.
Paustika----diutamakan
yang berwarna kuning. Misalnya kacang berwarna kuning, madu kuning,
gula kuning, dupa berwarna kuning, serbuk cendana (berwarna kuning),
kembang kuning, biskuit berwarna kuning, gandum, jelai(barli),
malt-sugar (maltosa/mai-ya-thang), minyak kacang tanah, roti, buah
berwarna kuning dan sebagainya.
Wasikarana---diutamakan
yang berwarna merah. Misalnya kacang merah, beras merah, dupa merah,
minyak goreng berwarna merah, kembang merah, buah berwarna merah, semua
makanan berwarna merah seperti bakso/ronde merah dan sebagainya.
Abhicaruka-----diutamakan
yang berwarna hitam. Misalnya kacang hitam, wijen hitam, beras hitam,
jus warna ungu kehitaman, dupa hitam, serbuk cendana hitam, kembang
warna ungu atau biru, buah berwarna hitam (misalnya pir berwarna hitam,
anggur hitam), kembang berduri (misalnya mawar), semua makanan berwarna
hitam (misalnya cincau, pasta wijen dan sebagainya).
Pilihan bahan persembahan luas sekali, asal makanan atau barang yang bermakna dapat dipersembahkan.
Waktu
sedang membakar homa, semua bahan persembahan, setiap macam harus
dibayangkan berubah banyak sekali laksana samudra, memenuhi alam
semesta. Bahan persembahan yang dapat terbakar diusahakan semua
dimasukkan ke tungku. Setiap bahan bersembahan yang dimasukkan ke
tungku, sebelumnya harus divisualisasikan seperti yang telah disinggung
terdahulu.
Setiap jenis buah-buahan atau roti, setelah divisualisasi, diiris sehelai kemudian dimasukkan ke tungku untuk dibakar.
Semua
cairan yang tak dapat terbakar, (misalnya susu, anggur, madu, jus)
kecuali untuk celupan kayu homa, semuanya tak boleh dimasukkan ke
tungku, untuk mencegah padamnya api homa. Kalau tetap mau ditungkukan,
cukup menuangkan sedikit di luar tungku.
Setiap
pelaksanaan homa, bahan persembahan yang utama adalah kayu homa, dupa,
kembang, pelita, daun the, madu, susu, parfum, buah-buahan, minyak
goreng (minyak nabati). Ini merupakan bahan persembahan yang selalu
harus ada.
Penataan Altar Homa
Penataan
altar (mandala) homa, dibedakan berdasarkan empar jenis Karman yakni
Santika, Paustika, Wasikarana dan Abhicaruka, dibeda-bedakan berdasarkan
warna dan bentuk.
Berdasarkan warna: Santika
menggunakana warna putih, Paustika menggunakan warna kuning, Wasikarana
menggunakan warna merah, Abhicaruka menggunakan warna hitam.
Berdasarkan
bentuk : Santika berbentuk bulat, Paustika berbentuk persegi,
Wasikarana berbentuk setengah lingkaran, Abhicaruka berbentuk segi tiga.
Kalu
perlu, untuk sementara boleh menyusun mandala atau tungku dengan batu
bata. (Misalnya di luar ruangan, atau saat penyelenggaraan upacara
homa). Menata menurut bentuk di dalam atau bentuk di luar semuanya
boleh.
Umumnya, meja homa yang berbentuk persegi empat
sudah mewakili Paustika, tungku homa yang berbentuk bulat sudah mewakili
Santika.
Tepat di depan meja homa, disemayamkan
Adhinatha dan Dharmapala, boleh diletakkan lima bahan persembahan atau
delapan bahan persembahan. Keempat tiang dari meja homa melambangkan
Catur Maharajakayika. Keempat sudut meja homa harus diletakkan
persembahan pelita atau lilin. Warna dari semua bahan persembahan serta
lilin pelita teratai harus dibedakan berdasarkan Santika, Paustika,
Wasikarana dan Abhicaruka.
Bila ingin menyemayamkan Panca Tathagata di mandala, posisinya harus tepat:
Tengah-----Wairocana (putih)
Barat----Amitabha (merah)
Selatan----Ratnasambhawa (hijau)
Timur-----Aksobhya (kuning)
Utara------Amoghasiddhi (hitam)
"Pintu Langit" melambangkan mulut dewa, bahan persembahan diberikan kepada para dewa melalui pintu langit.
Tali
Panca-Warna melambangkan sima-bandhana (pembatasan lokasi) dan
kesucian, juga untuk membuat mandala tampak anggun dan agung.
Bahan
persembahan utama diletakkan di sekeliling tungku homa. Bahan lain
berturut-turut mengitarinya. Bila meja homa tidak cukup besar untuk
menampung bahan persembahan, boleh menambahkan meja kecil.
Penataan perlengkapan upacara dan bahan persembahan dapat dilihat pada gambar di halaman berikut.
Tatacara Homa
Tatacara
homa aliran Satyabuddha dapat dibagi dua. Pertama, tatacara umum,
ditunjukkan kepada siswa yang sudah mendapatkan abhiseka homa dari
aliran ini untuk keperluan pribadi. Tatacara yang satunya lagi ditujukan
kepada Acarya aliran ini untuk menyelenggarakan upacara homa. Kedua
tatacara ini memiliki banyak kesamaan.
Tatacara umum adalah sebagai berikut:
1. Bertepuk tangan, menjentikkan jari.
2. Mantera penyucian.
3. Sima-bandhana
4. Mantera pengundangan (tiga kali).
- Mengundang : Namo Lien Sheng Mahacaryaya (Namo Ken Pen Chuan Cheng
Sang Se Lien-Sheng Huo Fo), Namo Yang Mahasuci Mahapadmakumara Putih (
Namo Ta Pai Lien Hua Thong Ce Seng Cun), Namo Sukusumajyotiriswara
Bud-dhaya (Namo Hua Kuang Ce Cai Fo), Namo Para Guru Silsilah (Namo Li
Tai Chuan Cheng Cu Se) (membentuk mudra, mengucapkan tiga kali).
- Mengundang : Namo Dwaresi Yochi (Namo Wu Ci Yao Ce Ta Seng Si Wang
Cin Mu Ta Thien Cun), Namo Delapan Yidam Utama (Namo Pa Ta Pen Cun).
- Mengundang Adhinatha homa (membentuk mudra, mengucapkan tiga kali).
- Mengundang : Namo Acalanatha Widyarajaya (Namo Cong Yang Ta Seng Pu
Tong Ming Wang), Namo Ucchusuma Widyarajaya (Namo Hui Ci Cin Kang), Namo
Catur Maharajakayika (Namo Se Ta Thien Wang).
- Mengundang para Buddha, Boddhisattva, Dharmapala dan mahluk suci lainnya dari Wihara Wajragarbha (Lei Cang Se) atau cetiya.
- Mengundang para Buddha, Boddhisatva, Dharmapala dan mahluk suci lainnya dari mandala rumah.
- Mengundang Dewa Agni (Api).
- Mengundang para dewa pelindung, Dewa Gunung, Dewa Air, Dewa Tanah (Fu Te Ceng Sen).
5. Mahanamaskara visualisasi (Persujudan Agung).
6. Catur Sarana (Empat Perlindungan).
7. Membuat perisai pelindung diri.
8. Mantra Sataksara (tiga kali) (Manatra Vajrasattva).
9. Menjapa "Mantra Hati Padmakumara" (mantra panjang 49 kali atau 108 kali).
10. Memutar japamala untuk adhisthana (cuan-cu-ming).
11.
Memberkati (mengadhisthana)bahan persembahan dengan Wajra dan
Wajraghanta. Menjapa Mantra Pemberkatan Bahan Persembahan : "Om Wajra
Hasa" (49 kali).
12. Persembahan Mahamandala (Persembahan Agung).
13. Bayangkan Adhinatha dan menjapa mantra hati Adhinatha (membentuk mudra Adhinatha dan menjapa mantra 21 kali).
14.
Menyalakan api, masukkan bahan persembahan ke dalam tungku ( teruskan
penjapaan mantra hati Adhinatha tak terhitung banyaknya).
- Mengulangi sampai tiga kali pengundangan para mahluk suci, membentuk mudra mereka, menjapa mantra mereka.
- Mengulangi sampai tiga kali visualisasi pemberian persembahan kepada para mahluk suci.
- Mengulangi sampai tiga kali membayangkan Adhinatha dan para mahluk suci menyinari Tantrika.
- Mengulangi sampai tiga kali pengucapan doa. Bayangkan Tantrika,
Adhinatha dan api, bersatu-padu tritunggal, karmawarana dilenyapkan,
harapan tercapai.
15. Membunyikan Wajraghanta untuk pemberkatan.
16. Membaca Mantra Hati Mula Acarya (mantra pendek 108 kali).
17. Memasuki Samadhi.
18. Menjapa Mantra Hati lainnya.
19. Nian-fo.
20. Mantra Sataksara (3 kali).
21. Parinamana ,berdoa.
22. Mahanamaskara.
23. Mantra Paripurna (Pelengkap).
24. Bertepuk Tangan, menjentikkan jari.
Tatacara Upacara Homa (digunakan oleh Acarya dalam penyelenggaraan upacara homa).
Menyanyikan lagu Pendupaan dan lagu Kesucian Dharmakaya.
1. Bertepuk tangan, menjentikkan jari (membunyikan wajraghanta).
2. Mantra Penyucian.
3. Sima-bandhana, memercikkan air Dharani.
4. Mantra Pengundangan (tiga kali).
- Mengundang : Namo Lien Sheng Mahacarya (Namo Ken Pen Chuan Cheng
Sang Se Lien-Sheng Huo Fo), Namo Yang Mahasuci Mahapadmakumara Putih (
Namo Ta Pai Lien Hua Thong Ce Seng Cun), Namo Sukusumajyotiriswara
Bud-dhaya (Namo Hua Kuang Ce Cai Fo), Namo Para Guru Silsilah ( Namo Li
Tai Chuan Cheng Cu Se). Memohon maha Adhisthana guru silsilah (membentuk
mudra Padmakumara, mengucapkan tiga kali).
- Mengundang : Namo Dwaresi Yochi (Namo Wu Ci Yao Ce Ta Seng Si Wang
Cin Mu Ta Thien Cun), Namo Delapan Yidam Utama (Namo Pa Ta Pen Cun).
- Mengundang Adhinatha homa (membentuk mudra, mengucapkan tiga kali).
- Mengundang : Namo Acalanatha Widyarajaya (Namo Cong Yang Ta Seng Pu
Tong Ming Wang) Namo Ucchusuma Widyarajaya (Namo Hui Ci Cin Kang ). Namo
Catur Maharajakayika (Namo Se Ta Thien Wang), semua Dharmapala, para
dewanaga pelindung Dharma, serta para dewata.
- Mengundang para Buddha, Boddhisattva, Dharmapala dan mahluk suci lainnya dari Wihara Wajragarbha (Lei Cang Se) atau cetiya.
- Mengundang para Buddha, Boddhisattva, Dharmapala dan mahluk suci lainnya dari Wihara atau citiya disekitar sini.
- Mengundang Dewa Agni (Api).
- Mengundang para dewa pelindung, Dewa Gunung, Dewa Air, Dewa Tanah (Fu Te Ceng Sen).
5. Mahanamaskara visualisasi.
6. Membacakan naskah doa, memberkati daftar nama peserta upacara. ( Membakar naskah doa dan daftar nama peserta upacara.)
7. Menjapa Mantra Catur Sarana.
8. Membuat perisai pelindung diri.
9. Mantra Sataksara (3~7 kali).
10. Menjapa "Mantra Hati Padmakumara" (Mantra panjang 49 kali atau 108 kali).
11. Memutar japamala untuk adhisthana (cuan-cu-ming).
12. Memberkati bahan persembahan dengan Wajra dan Wajraghanta.
13. Persembahan Mahamandala.
14. Bayangakan kehadiran Adhinatha dan menjapa mantra hatin Adhinatha (membentuk mudra Adhinatha, menjapa mantra 49~108 kali).
15. Menyalakan api homa.
16.
Memasukkan bahan persembahan ke dalam tungku (umat terus menerus
membentuk mudra dan menjapa mantra hati Adhinatha tak terhitung
banyaknya).
- Mengulangi sampai tiga kali pengundangan para mahluk suci. (Pemimpin
upacara membentuk mudra dan menjapa mantra para mahluk suci).
- Mengulangi sampai tiga kali visualisasi pemberian persembahan kepada Adhinatha dan para mahluk suci.
- Mengulangi sampai tiga kali membayangkan Adhinatha dan para mahluk suci menyinari umat.
- Mengulangi sampai tiga kali pengucapan doa. Bayangkan Tantrika,
Adhinatha dan api, bersatu-padu tritunggal, karmawarana dilenyapkan,
harapan tercapai.
17. Membunyikan Wajraghanta untuk pemberkatan.
18.
Acarya pemimpin upacara memperagakan mudra. (Umat melantunkan Mantra
Hati Padmakumara, atau Namo Amitabhabuddhaya atau Namo
Awakoliteswaraya.)
19. Memasuki Samadhi, memasuki samadhi Adhinatha, kembali bervisualisasi semua harapan tercapai.
20. Menjapa Mantra Hati lainnya.
21. Nian-fo.
22. Parinamana, berdoa
23. Mantra Sataksara (3~7 kali).
24. Mahanamaskara.
25. Mantra Paripurna.
26. Bertepuk tangan, menjentikkan jari.
Intisari dan Kunci Pelaksanaan Homa
*
Bertepuk tangan dan menjentikkan jari----- pada awal sadhana, maksud
bertepuk tangan dan menjentikkan jari adalah membangunkan dan mengundang
para Buddha, Bodhisattva dan dewa, agar mereka mengetahui Tantrika akan
melaksanakan homa. Pada akhir sadhana, maksud bertepuk tangan dan
menjentikkan jari adalah membubarkan dan mengantarkan para dewa kembali
ke kediaman mereka.
* Intisari dan kunci
sima-bandhana-----cara melakukan sima-bandhana (pembatasan lokasi) ada
beberapa macam. Pada umumnya, dalam pelaksanaan homa, sima-bandhana
dilakukan dengan tongkat Wajra. Dengan tongkat Wajra mengetuk bagian
tengah, timur, selatan, barat, dan utara, kelima penjuru dari meja homa
masing-masing sebanyak tujuh kali. Harus mendengarkan suara ini,
bayangkan setiap suara ini melesat jauh. Sejauh mana suara ini melesat,
sejauh itulah batasnya (sima-bandhana). Dengan mengetuk kelima penjuru
berarti telah memberikan perbatasan di sekeliling mandala.
*
Intisari dan kunci pengundangan-----mengundang harus dengan hati yang
setulus-tulusnya, dengan nada yang terlembut dan termedu. Waktu
mengundang secara umum, tangan beranjali. Pada saat mengundang secara
satu-persatu, harus membentuk mudra dan menjapa mantra masing-masing,
membayangkan wujud-Nya hadir di depan Mandala. Mengundang dengan
jasmani-ucapan-pikiran yang manunggal, ini penting sekali.
*
Makna menjapa Mantra Sataksara-------pada awal homa, menjapa Mantra
Sataksara dimaksudkan untuk memohon bantuan dan lindungan dari
Wajrasattwa, dengan demikian homa yang dilakukan barulah berhasil-guna.
Pada akhir homa, menjapa Mantra Sataksara bertujuan untuk menambal
hekhilafan yang terjadi dalam tatacara.
* Intisari dan
kunci memutar japamala-----memohon Bodhisattva memancarkan cahaya suci
memberkati japamala dan kedua tangan, serta sekujur tubuh Tantrika
sehingga semuanya disucikan. Dengan demikian Tantrika boleh memegang
bahan persembahan untuk dibakar dalam homa. Waktu memutar japamala
(cuan-cu-ming) bayangkan Mula Acarya memancarkan cahaya menyinari
japamala dan kedua tangan serta sekujur tubuh Tantrika dari angakasa
raya.
* Pemberkatan dengan Wajra dan
Wajraghanta-----memperagakan Wajra dan Wajraghanta, melindungi,
melakukan sima-bandhana, menolak bala (Santika), menambah kesejahteraan (
Paustika), merukunkan (Wasikarana), menaklukan (Abhicaruka); ini adalah
memberkati semua bahan persembahan, menyucikan semuannya. Bayangkan
Wajraghanta menyinari semua bahan persembahan, menyucikan semuanya.
*
Intisari dan kuci penyalaan api dan pembakaran bahan
persembahan-------sebelum penyalaan api, letakkan dulu dupa pemancing
api di dalam tungku, kemudian tambahkan sedikit minyak goreng (minyak
nabati).
Setelah penyalaan api, sebelum kayu homa
pertama dimasukkan ke tungku, sentuhkan dulu kayu homa ini pada japamala
yang menggelantung di tubuh Tantrika. Karena japamala telah melewati
proses pemutaran japamala, alias sudah disucikan sehingga ini jga
berarti kayu homa sudah diberkati, semuanya sudah suci.
Sebelum
dimasukkan ke dalam tungku, kedua ujung kayu homa harus dicelupkan ke
dalam madu. Ini berarti semua "kepahitan" diubah menjadi manis, semua
derita dilenyapkan, semua bencana dihilangkan, dari ujung sampai pangkal
diubah menjadi manis.
Waktu membakar homa, api homa
harus menggelora, tidak boleh padam. Bahan persembahan yang dapat
memadamkan api (misalnya susu dan arak), tidak boleh dituang ke dalam
tungku. Bila api tidak menggelora, harus segera menambahkan sedikit
minyak goreng.
Intisari dan kunci visualisasi
pembakaran homa---------setiap bahan persembahan yang akan dimasukkan ke
tungku harus divisualisasikan berbah menjadi banyak sekali, memenuhi
seluruh jagat. Setiap bahan persembahan memiliki makna tersendiri. Ambil
bunga, dupa, pelita, teh dan buah seperti contoh :
Persembahan
bunga, dengan pikiran terpusat bayangkan sekuntum bunga berubah menjadi
sebidang bunga, kemudian seluruh angkasa raya dipenuhi degan bunga,
membuat ucapan dan tindakan Tantrika, lahir dan batin, anggun dan agung
bagai bunga, elok cemerlang.
Persembahan dupa, sebatang
dupa berubah menjadi hutan dupa, lalu seluruh jagat dipenuhi dupa,
semuanya dipersembahkan kepada Buddha, membuat semua yang telah tercium
wangi dupa ini menghormati dan membantu Tantrika.
Persembahan
pelita, sebuah pelita berubah menjadi lautan cahaya, seluruh angkasa
raya dipenuhi dengan cahaya yang terang benderang, membuata semua usaha
dan latihan Tantrika dijauhkan dari kegelapanm semuanya terang benderang
penuh berkah.
Persembahan teh, daun teh melambangkan
makanan/minuman dan rasa Dharma. Bayangkan sejumput daun teh berubah
menjadi memenuhi seluruh penjuru jagat, lalu dipersembahkan kepada para
mahluk suci, membuat Tantrika dianugerahi dengan makanan dan minuman
yang melimpah ruah, puas dan bahagia dalam rasa Dharma.
Persembahan
buah, satu buah dibayangkan berubah menjadi memenuhi angkasa raya,
semuanya dipersembahkan kepada para mahluk suci, membuat semua
permohonan Tantrika berbuah, penuh dengan pahala.
Dalam
proses pembakaran api homa, harus mengulangi sampai tiga kali
pengundangan Mula Acarya, guru-guru dalam silsilah, Adhinatha homa,
delapan Yidam utama serta para Dharmapala dan mahluk suci. Menyebut nama
mereka, menjapa mantra mereka, membentuk mudra mereka, membayangkan
mereka datang menerima persembahan. Kemudian Tantrika terus menerus
berdoa dan memohon dengan tulus.
Harus berulang-ulang
membayangkan Mula-Acarya dan Adhinatha saat menerima persembahan
menyinari diri sendiri (misalnya dalam Santika adalah sinar putih,
Paustika sinar kuning, Wasikarana sinar merah, Abhicaruka sinar hitam
menyinari pihak lawan.) Diri sendiri bersama Adhinatha bersatu-padu
dalam api, memasuki keadaan manunggalnya Tantrika, Adhinatha dan api.
Intisari
dan kunci terpenting dari homa------pikiran sangat terpusat. Batin dan
jasmani dari Tantrika, serta Adhinatha dan api, ketiganya bersatu-padu.
Hal-Hal yang Wajib Diperhatikan
*
Abhiseka homa-----siswa Satyabuddha yang belum memperoleh abhiseka yang
dilakukan sendiri oleh Mula Acarya Lien Sheng tidak diperbolehkan
melaksanakan homa. (Abhiseka jarak jauh tidak dapat diterapkan dalam
sadhana ini.)
* Membuat karma hitam atau
kejahatan--------dilarang menggunakan persembahan api homa untuk
melakukan kejahatan baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.
* Tindakan penyerangan----dilarang memanfaatkan persembahan api homa untuk membantu tindakan penyerangan apapun.
*
Abhicuraka (penaklukan)------melakukan homa Abhicaruka harus ditimbang
masak-masak, harus direnungkan dulu apakah tujuannya benar-benar untuk
melindungi sadharma, (bukan untuk membalas dendam pribadi), titik
tolaknya adalah pertolongan yang benar-benar penuh kasih sayang dan niat
baik, hanya ini yang diperbolehkan. Setelah itu juga wajib melakukan
homa Santika untuk pihak lawan.
* Syarat agar terjadi kontak (yoga) dalam homa:
1. Harus mahir dalam tatacaranya, serius dan tahu tatakrama.
2. Berdoa harus dengan hati yang tulus, penuh keyakinan.
3. Tantrika selalu dilindungi oleh delapan jenis naga.
4. Tantrika memiliki daya konsentrasi yang kuat.
5. Tantrika telah mengembangkan mahabodhicitta.
6. Sempurna dalam memenuhi berbagai syarat homa.
7. Peserta penuh dengan keyakinan.
Penanganan sisa abu homa:
Homa
Santika-----abu dituang ke dalam air yang mengalir jauh; juga dapat
mengambil sedikit untuk diberikan kepada orang sakit (diminum).
Homa Pautika------ditanam dalam tanah/sawah. Pedagang dapat mengambil sedikit untuk ditaburkan di toko.
Homa Wasikarana-------abu diletakkan di tanah yang tinggi, atau mengambil sedikit untuk dibawa serta setiap saat.
Homa Abhicuraka-------paling baik ditanam di jalan raya, agar diinjak-injak banyak orang.
*
Semua homa yang dilakukan untuk membantu orang lain, harus melakukan
substitusi (penukaran). Oleh kerena itu Tantrika sendiri harus memiliki
kekuatan latihan dan kebajikan yang berlimpah, dan pihak lawan juga
harus mengembangkan bodhicitta, ber buat bajik, giat berlatih melakukan
nian-fo menjapa mantra; Tantrika juga harus terus menerus berlatih,
dengan demikian baru dapat membantu orang lain.
*
Umumnya siswa Satyabuddha harus melakukan homa untuk diri sendiri
sebanyak 200 kali. Para Acarya Satyabuddha harus melaksanakan homa untuk
diri sendiri sebanyak 400 kali.
* Semoga setiap siswa Satyabuddha menerima sendiri abhiseka homa, setiap orang memperaktekkan homa.
Q/A :
Jawaban
Maha Acarya Lien-Sheng mengenai homa dalam tanya jawab saat memberikan
ceramah "Rangkuman Buddhisme" di kompleks pelangi tanggal 12 Mei 1993.
Tanya:
Persembahan api, memberi persembahan kepada Catur Maharajakayika,
paling baik menggunakan persembahan apa? Apakah besok boleh memohon
Abhiseka Homa? Harus bagaimana bervisualisasi saat abhiseka?
Jawab:
Boleh. Harus bagaimana bervisualisasi saat abhiseka? Inilah yang akan
dibicarakan besok. Saat menerima abhiseka homa, umumnya Anda harus
menyalakan api, api harus dinyalakan, kemudian bayangkan api ini masuk
ke dalam dahi Anda, bergerak turun sampai ke cakra hati. Mula-mula
membakar tubuh bagian atas, lalu membakar tubuh bagian bawah. Anda larut
dalam api, inilah visualisasi saat abhiseka homa. Jadi besok, saat
menerima abhiseka, saat kepala Anda disentuh, Anda juga dapat
membayangkan ada segumpal api masuk ke dalam tubuh Anda, membakar
sekujur tubuh Anda, Anda berubah menjadi api yang menggelora. Inilah
abhiseka homa. Bagaimana dengan kuncinya, yaitu "api ,yidam, Anda,
semuanya manunggal", inilah kuncinya.
Bahan persembahan
apa yang sebaiknya diberikan kepada Maharajakayika? Catur
Maharajakayika berada dalam lingkup permohonan harta, termasuk kategori
Paustika. Oleh karena itu Anda boleh memberi persembahan buah-buahan
berwarna kuning, memberi minuman anggur, ada anggur yang berwarna
kuning. Semua bahan persembahan diutamakan yang berwarna kuning. Apa
saja boleh dijadikan bahan persembahan , asal dapat terbakar boleh
dijadikan bahan persembahan.
Tanya: Umumnya bila siswa
telah memperoleh abhiseka homa, setelah kembali ke tempat asalnya,
apakah boleh membantu orang lain melakukan homa? Setelah kembali, apakah
boleh menyelenggarakan homa?
Jawab: Wah, mau memimpin
upacara homa ya (hadirin terbahak-bahak), mau merebut langganan nih yee!
(Hadirin terbahak) Begini, dalam Tantrayana ada satu aturan, homa
termasuk tiga tataran bawah, dalam Tantrayana menempati posisi yang
sangat penting. Setiap siswa, siswa Tantrayana pada umumnya harus
melaksanakan 200 kali. Jadi, setelah melakukan 200 kali, setelah
mempraktekanya, sudah mahir, api-Yidam-Tantrika dapat bersatu padu, saat
melaksanakan Homa sama sekali tidak terjadi kekhilafan, barulah boleh
membantu orang lain. Kalau Anda mau memimpin upacara homa, sebaiknya
dilakukan oleh Acarya, paling baik dilaksanakan oleh para Acarya. Kalau
pemimpin cetiya (Thang Cu), seharusnya boleh, tetapi dengan syarat
pelaksanaan homa Anda sudah tidak cacat lagi, baru boleh. Jadi, bantulah
diri sendiri dulu. Membantu anggota keluarga mengurangi karma-warana,
untuk sementara waktu jangan dulu menyelenggarakan homa. Kalau mau
membantu orang lain, harus menunggu sampai pelaksanaan homa Anda sudah
sama sekali bebas dari cacat baru diperbolehkan.
Tanya:
Setelah pemimpin cetiya menerima abhiseka homa, apakah boleh
menyelenggarakan upacara homa? Secara terbuka menerima pendaftaran
penyertaan khalayak ramai?
Jawab: Pertanyaan ini sudah saya jawab tadi.
Tanya: Siswa yang belulm menerima abhiseka homa dari Mula Acarya, apakah boleh melaksanakan homa sendiri?
Jawab:
Tidak boleh. Ini tidak boleh. Karena dalam Tantrayana, yang ditekankan
adalah penurunan ajaran dari guru silsilah. Dalam ceramah selama 7
sampai 8 hari ini, saya sudah pernah menyinggungnya. Anda telah menerima
abhiseka apa, baru boleh mempraktekan sadhana yang bersangkutan. Belum
menerima abhiseka homa, tidak diperbolehkan melaksanakan homa.
Tanya: Apakah homa dapat dipakai untuk melakukan pendoaan arwah (Chau Tu)?
Jawab: Homa boleh dilakukan untuk pendoaan arwah.
Tanya: Abhiseka homa apakah boleh diberikan secara jarak jauh?
Jawab: Lebih baik abhiseka nyata. Lebih baik benar-benar hadir untuk menerima abhiseka dari Mula Acarya.