嗡。古魯。蓮生。悉地。吽 - Om Guru Lian Sheng Siddhi Hum

嗡。古魯。蓮生。悉地。吽 - Om Guru Lian Sheng Siddhi Hum
Showing posts with label Ritual Lain. Show all posts
Showing posts with label Ritual Lain. Show all posts

Friday, November 21, 2014

Sekilas Mengenai Upacara Ritual Agama Tao

Untuk diketahui, dalam agama Tao kita terdapat banyak upacara ritual keagamaan yang bisa kita implementasikan dalam kehidupan kita sehari-hari, diantaranya adalah :
* Upacara Doa Hari Kebesaran Dewa-Dewi (Shen Xian Ji Ri Qing Dian Yi Shi)
Pada saat hari kebesaran Dewa-Dewi diadakan ritual/upacara di taokwan-taokwan/klenteng-klenteng. Dalam upacara ini biasa digunakan satu hio besar untuk pemimpin upacara dan seluruh umat masing-masing menggunakan satu hio kecil.
* Upacara Doa Pernikahan Umat Tao (Dao Jiao Jie Hun Yi Shi)
Pada saat ini upacara pernikahan secara agama Tao sudah dapat dilaksanakan secara resmi di beberapa taokwan/kelenteng.
* Upacara Doa Awal Mulai Melakukan Kegiatan yang Sangat Penting (Gong Cheng Kai Gong Yi Shi)
Dalam agama Tao, ada semacam ritual untuk mengawali suatu kegiatan yang sangat penting antara lain : Peresmian sebuah taokwan/kelenteng, peresmian gedung, doa bersama untuk kedamaian negara dan lain-lain. Biasanya ritual ini dimulai dengan sembahyang kepada Tuhan Yang Maha Esa (Thien Kung)
* Upacara Doa Pindah Rumah (Nuan Wu Yi Shi)
Upacara ini adalah ritual pemberkatan untuk umat yang pindah rumah baru, agar penghuni rumah mendapatkan kehangatan, rejeki, kesehatan dan perlindungan dari Tuhan (Thien Kung) dan Dewa-Dewi.
* Upacara Dao Yin/Inisiasi (Dao Yin Yi Shi)
Agama Tao karena umurnya yang sudah ribuan tahun tentu saja mempunyai banyak aliran. Aliran-aliran ini tentu saja menimbulkan berbagai perguruan yang mempunyai aturan sendiri-sendiri. Upacara Dao Yin biasa dilakukan sebagai cara inisiasi penerimaan di salah satu perguruan-perguruan agama Tao.
* Upacara Peresmian Tempat Sembahyang Baru (Kai Guang Yi Shi)
Upacara Kai Guang dilakukan bila ada umat kelenteng yang meresmikan altar untuk sembahyang.
* Upacara Pembersihan Rumah (Xi Wu Qu Xie Yi Shi)
Dalam kehidupan manusia memang tidak bisa dipungkiri bahwa banyak kejadian-kejadian aneh yang menimpa. Seperti misalnya adanya penghuni rumah yang sering mengalami gangguan dari dimensi lain yang tidak bisa dijelaskan secara logika. Untuk mengatasi hal ini, ritual Xi Wu inilah yang dilakukan.
* Upacara Penangkal Bala Tahunan (Bao Yun Yi Shi)
Dalam kepercayaan suku Hua, nasib manusia setiap tahun itu selalu berubah-ubah. Kita tidak tahu apakah tahun yang akan dilalui ini akan baik atau buruk. Oleh karena itu di setiap pergantian tahun Imlek, kelenteng-kelenteng mengadakan suatu upacara penangkal bala.
* Upacara Merukunkan Suami-Istri (He he Yi Shi)
Upacara ini adalah upacara untuk merukunkan kembali hubungan suami istri yang kurang harmonis agar tercipta kembali hubungan suami istri yang baik sehingga ketentraman rumah tangga dapat tercipta.
* Upacara Memohon Perpanjangan Umur (Yan Shou Yi Shi)
Upacara Yan Shou ini termasuk upacara unik yang dilakukan dalam ritual agama Tao, mungkin karena agama ini sudah berumur sekitar 5000 tahun. Upacara ini dilakukan untuk memohon perpanjangan umur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Dewa-Dewi sebagai usaha untuk menolong seseorang yang sedang sakit keras untuk dapat sembuh dan berumur lebih panjang.
* Upacara memohon anak (Qiu Zi Yi Shi)
Keturunan merupakan suatu hal penting dalam kehidupan manusia. Upacara ini dilaksanakan untuk memohon anak bagi pasangan suami istri yang sulit mendapatkan anak.
* Upacara syukuran bayi genap sebulan (Man Yue Yi Shi)
Man Yue adalah ritual syukuran yang dilakukan oleh umat Tao ketika bayinya genap berumur satu bulan
* Upacara pengakuan anak angkat dewa (Guo Fang Yi Shi)
Guo Fang/Kwee Pang adalah istilah yang sering kita dengar dalam suku Hua. Anak-anak yang sakit-sakitan atau yang mempunyai nasib kurang baik biasanya disiasati dengan kwee pang(diangkat anakkan kepada orang lain). Tapi dalam agama Tao sebaiknya anak di kwee pang kan kepada Dewa-Dewi, karena Dewa-Dewi akan lebih bisa melindungi dan menjaga anak tersebut daripada manusia.
* Upacara memasukkan jenazah ke dalam peti (Ru Lian Yi Shi)
* Upacara pengantaran arwah orang yang baru meninggal (Chao Du Yi Shi)
Ritual ini adalah upacara doa untuk mengantarkan arwah orang yang baru meninggal, biasanya dilakukan pada malam ‘kembang’, malam sebelum dikuburkan. Semua anak dan cucu ikut dalam ritual ini.
* Upacara berangkat ke penguburan (Chu Bin Yi Shi)
* Upacara penguburan penurunan peti (Xia Zang Yi Shi)
* Upacara Penaburan Abu Jenazah (Sa Gu Hui Yi Shi)
Bagi jenazah yang tidak dikubur namun dibakar, abu jenazah ditabur di laut yang jernih agar anak cucu mendapatkan kecerahan dan hoki yang bagus.
* Upacara pindah kuburan (Qian Zang Yi Shi)
Memindahkan kuburan atau membongkar kuburan untuk dibakar sisa-sisa jenazahnya merupakan hal yang kadang tidak bisa dihindari pada jaman modern ini seperti kena gusur misalnya. Upacara ini juga biasa dilakukan apabila keluarga yang ditinggalkan mengetahui kalau kuburan nenek moyangnya tidak mendapat hong sui yang bagus sehingga dipindahkan ke tempat yang hong suinya lebih bagus.
* Upacara sublimasi arwah (Lien Hun Du Jie Yi Shi)
Kehidupan dan kematian merupakan hal yang wajar/alamiah. Ada kalanya arwah orang yang kita cintai mengalami kendala di alam sana.
Upacara ini dalam agama Tao adalah sebuah ritual kuno yang dilakukan dengan tujuan menolong arwah yang mengalami keadaan kurang baik disana dimohonkan kepada Dewa agar dapat ditolong untuk diberikan tempat yang baik.
Itulah beberapa ritual upacara dalam agama Tao yang dapat kita gunakan agar kehidupan kita menjadi lebih baik lagi.(red)
Disadur dari : Buku Serba-Serbi Agama Tao, karangan DR I Djaja L MSc, terbitan Paguyuban Umat Tao Indonesia edisi 2008

10 Pahala Pelepasan Satwa

Pelepasan satwa (fangshen / Satwamocana) memiliki sepuluh pahala kebajikan berikut:
  1. Tiada petaka akibat senjata tajam dan peperangan.
  2. Berbagai kemujuran akan berkumpul.
  3. Panjang usia dan sehat.
    Sutra Buddha mengatakan : seorang yang menjalankan sila tidak membunuh dan melakukan pelepasan satwa akan memperoleh dua macam pahala yaitu panjang usia, serta banyak rejeki dan tiada penyakit.
  4. Banyak anak dan harapan akan anak laki laki.
  5. Para Buddha bersuka cita.
  6. Para hewan akan mengenang jasa. (bibit jodoh baik masa mendatang.)
  7. Tiada petaka.
  8. Terlahir di surga, bagi yang menekuni metode Tanah Suci akan terlahir di Tanah Suci.
  9. Dewasa ini adalah masa masa petaka dalam dunia manusia, rokok, arak, mara kemelekatan cinta, semua mengikat para insan. Bila para insan mengerti saling membalas budi, berbagai kejahatan akan sirna, setiap saat akan tenteram.
  10. Dunia hewan ada kondisi kemajuan perlahan dari kehidupan rendah menuju tinggi, seperti halnya umat manusia yang semula liar berubah semakin berbudaya. Seperti yang dikatakan oleh para ahli, bahwa setiap makhluk hidup mengalami perubahan karena kondisi luar.
Bila tiap orang dapat menjaga sila dan melepas satwa, maka batin penuh kebajikan akan saling bertaut, turun temurun pada anak cucu, selamanya tenteram dan makmur.

Sumber: Padmakumara's Blog

Wednesday, September 24, 2014

Pantangan Dalam Persetubuhan

Memperhatikan pantangan dalam persetubuhan adalah untuk Menjaga diri dan meneruskan keturunan yang sehat dan normal.

Shang Su mengatakan :

Pada zaman dahulu pria menikah pada usia 30 tahun dan wanita menikah pada usia 20 tahun dengan harapan yin yang-nya sempurna baru boleh bersetubuh untuk memperoleh keturunan.

Gu mengatakan dengan sedikit nafsu banyak melahirkan anak.
Orang tingkat menengah, akan menunggu haid wanita bersih baru dijalankan atau malam bulan purnama tanpa angin dan hujan juga boleh, sedangkan pada hari biasa tidak menghampiri tubuh wanita lebih baik pisah kamar.
Orang tingkat rendah tidak peduli waktu atau hari 3-5 sekali.
Yang lebih rendah lagi setiap malam malah bisa sampai 2 kali

Yang Arya mengatkan ada beberapa waktu yang tidak boleh menjalankan persetubuhan yaitu :

  1. Setiap tanggal 1 dan 15 penanggalan imlek.
  2. Dini hari jam 5 pagi dimana hawa yang baru terbentuk dalam tubuh melakukan satu kali capeknya sama dengan ratusan kali.
  3. Pada saat tubuh terserang penyakit.
  4. Setelah mabuk dan kenyang.
  5. Naik kapal yang sedang berjalan (dalam 2-3 hari)
  6. Angin ribut dan hujan deras.
  7. Cuaca sangt panas atau sangat dingin
  8. Gerhana matahari dan gerhana bulan
  9. Setelah dewa menjalankan peti mati
  10. Menjalankan puasa dan bersembahyang.
  11. Di alam terbuka di bawah tiga cahaya, matahari, bulan dan bintang.
  12. Pada hari keng shen dan jia Zi, hari ulang tahun sendiri, setiap bulan tgl 28 (manusia sedang dalam kondisi negatip)
 Sumber : Padmakumara

Hukum Langit Atas Pelanggaran Perzinaan

“Hukum Langit Dari Raja Akhirat Mengenai Pelanggaran Perzinahan”

Pelanggaran dari persetubuhan dan perzinahan termasuk didalamnya adalah sebagai berikut:
  1. Hati tergerak oleh expresi suara dan kata-kata erotis = tidak dapat mengontrol pikiran karena mendengarkan percakapan yang sembarangan dan penuh birahi.
  2. Voyeurism/mengintip = mencari kenikmatan seksual secara mengintip memperhatikan aktivitas seksual pasangan lain, dengan merekamnya pada kamera tersembunyi atau sejenisnya.
  3. Terlibat dalam percakapan yang penuh birahi dan genit = pembicaraan mengenai seks dan gossip.
  4. Pelecehan seksual = menyentuh atau meraba pihak lain.
  5. Menulis buku-buku porno = menggambarkan seks/melukis gambar porno.
  6. Fantasi seksual membawa pikiran dan imajinasi seseorang kedalam birahi dan persetubuhan = terhadap kondisi yang belum terjadi, pikiran seseorang telah membangkitkan kesalahan dan gagasan penuh ilusi seperti : Pada saat rencana merayu tidak berhasil maka mengakibatkan pikiran yang berbahaya dan pahit. Pada saat melihat kecantikan, mengakibatkan hati yang tergila-gila dan obsesi. Melihat diri sendiri tidak memiliki sesuatu yang dimiliki orang lain timbul iri hati. Melihat ada yang lebih cantik dari diri sendiri timbul kecemburuan. Melihat kecantikan orang lain timbul pengharapan yang sia-sia.
  7. Mencari kenikmatan persetubuhan = memakai alat bantu seks dan perdagangan alat-alat bantu seks.
  8. Melakukan perselingkuhan dan bercinta dengan siapapun = melaksanakan hasrat seksualnya kapan dan dimanapun dia mau.
  9. Perbudakan seksual dan pelacuran = perdagangan manusia dalam pasar seks.
  10. Memaksa persetubuhan dengan pihak lain seperti melakukan perkosaan = pelanggaran karma buruk atas tindakan asusila yang berat dan keinginan memiliki orang lain dengan kekerasan.
  11. Berlawanan dengan moralitas = melakukan hubungan seks abnormal dengan sejenis atau hewan.
  12. Melakukan hubungan seks di tempat yang tidak tepat = di tempat ibadah didepan pratima atau gambar buddha/dewa atau hu.
  13. Melakukan hubungan seks dibawah tiga sinar = sinar matahari, sinar bulan, sinar bintang.
  14. Merusak kebajikan pelatih diri = ingin merusak kesucian seorang pelatih diri seperti biksuni/biarawati dll..
  15. Melakukan hubungan seks pada saat yang tidak tepat = Hari ulang tahun Buddha dan hari kematian orang tua hari-hari suci keagamaan.
Inilah Dekrit dari Raja Akhirat berkenaan dengan pelaksanaan persetubuhan melalui mata, telinga, tangan, ucapan, tubuh dan pikiran. Selain 15 poin ini ada juga banyak catatan kecil menjelaskan tiap poin dengan lebih jelas.

Teks ini benar-benar mencakup semuanya dengan detail, sempurna dan berhubungan dengan berbagai pelanggaran karma. Sila larangan berhubungan seks dengan pasangan resmi tergantung kondisi masing-masing :

Dilarang berhubungan seks :
  • Pada saat marah.
  • Pada saat lapar.
  • Setelah menderita penyakit serius.
  • Sebelum melahirkan.
  • Selama menstruasi.
  • Pada saat terkena flu.
  • Pada saat mengkonsumsi zat perangsang dan obat penambah stamina kecuali impotent
  • Pada saat gerhana matahari atau gerhana bulan karena dapat mengakibatkan janin cacat
Dekrit ini bertujuan untuk melindungi kesehatan dan menstabilkan kehidupan. Hal ini tercermin dari prinsip-prinsip untuk memperoleh pemberkatan dan meningkatkan kebajikan serta menghindari kenikmatan jasmaniah dan bencana. Pada akhirnya tidak saja seseorang dilarang melakukan penyelewengan tetapi hubungan haram antara sepasang manusia juga tidak boleh diabaikan. Pasangan harus memperhatikan sila larangan untuk menghormati langit, bumi dan manusia. Harus diingat bencana dan keberuntungan tidak muncul begitu saja tetapi disebabkan oleh manusia itu sendiri. harus belajar mempunyai kemampuan mengontrol diri sendiri, hanya menggenggam kenikmatan sementara dan tidak menyadari kesedihan tak terhingga sebagai akibatnya.

Source : Padmakumara