嗡。古魯。蓮生。悉地。吽 - Om Guru Lian Sheng Siddhi Hum

嗡。古魯。蓮生。悉地。吽 - Om Guru Lian Sheng Siddhi Hum
Showing posts with label Lain Lain. Show all posts
Showing posts with label Lain Lain. Show all posts

Friday, November 21, 2014

Buddha Tantrayana - Esoteris

Agama Buddha Tantrayana sebenarnya merupakan perkembangan lanjutan dari agama Buddha Mahayana yang dianggap cukup memegang peranan penting dalam penyebarannya di wilayah India hingga ke Asia sejak awal tahun 400 Masehi. Aliran agama Buddha Tantrayana ini menekankan pada hal akhir tentang "keselamatan tertinggi / Nibbana" yang dapat dicapai melalui berbagai macam metode meditasi dan visualisasi (segi pikiran), mantera (segi ucapan) serta pembentukan mudra (segi jasmani) hasil observasi dan analisa yang mendalam dari para Guru Akar, dimana hal-hal tersebut harus dilakukan secara harmonis oleh seorang sadhaka dengan cara berusaha memahami sifat jati diri ke-Tuhan-an yang absolut dan pemanfaatan kekuatan alam semesta lewat bimbingan seorang guru spiritual Tantrayana yang ahli.
Aliran agama Buddha Tantrayana ini juga biasa disebut sebagai aliran esoteris atau aliran rahasia yang mengandung kegaiban, sedangkan aliran agama Buddha lainnya disebut sebagai aliran eksoteris atau aliran yang terbuka dan umum.
Perbedaan dasarnya adalah, bila aliran esoteris meyakini : kemampuan pencapaian Nibbana atau tubuh ke-Buddha-an dapat diraih dalam waktu sekejab di kehidupan ini lewat sadhana yang benar, sedangkan aliran eksoteris lebih meyakini : kemampuan pencapaian Nibbana atau tubuh ke-Buddha-an hanya dapat diraih dengan melewati beberapa kali kehidupan secara bertahap dan terus menerus bertumimbal lahir hingga waktu yang tepat (bisa dalam tujuh kali kehidupan atau lebih, bahkan ada yang sampai bermilyar-milyar kali kehidupan).

Menurut peraturan beberapa aliran esoteris yang melakukan disiplin keras di Tibet, seorang sadhaka baru diijinkan mempelajari agama Buddha Tantrayana setelah menguasai lebih dari 70 % dasar filsafat dan pengetahuan umum mengenai aliran eksoteris lewat ujian lisan maupun tulisan (masa pembelajaran Tri Pitaka secara umum sekitar 10 s/d 15 tahun), hal ini penting dilakukan agar tidak terjadi kesalah-pahaman penerapan ajaran agama Buddha yang membutuhkan daya pemahaman universal yang cukup rumit. Sedangkan kini, di luar Tibet, peraturan-peraturan tersebut sudah lebih disesuaikan dengan kultur dan lingkungan tempat tinggal mayoritas dari para penganutnya.

Penggunaan kata "Tantra" sendiri memiliki arti merajut atau menenun, ini merupakan sebuah istilah yang mengarah pada gabungan kondisi pikiran, ucapan, tindakan yang bersifat rahasia dan memiliki tujuan untuk berusaha memahami sifat sejati "seseorang" yang sebenarnya adalah seorang Buddha, hanya saja "seseorang" tersebut masih seorang insan calon Buddha yang belum menyadari kebijaksanaan ke-Buddha-an dalam dirinya sendiri saat ini.
Untuk itulah aliran esoteris sangat menekankan pentingnya latihan sadhana yang benar, dimulai dari :
  1. Tingkat awal / eksternal = berlatih Catur Prayoga ---> Guru Yoga ---> Yidam Yoga & Dharmapala
  2. Tingkat lanjutan / internal = melatih prana, nadi dan bindu ---> Vajra Dharma Yoga
  3. Tingkat esoterik = Anuttara Yoga Tantra
  4. Tingkat maha esoterik = Maha Dzogchen

Dalam esoteris, sebuah kegiatan sadhana merupakan hal yang amat sakral dan penting sehubungan dengan adanya kemungkinan pencapaian Nibbana atau tubuh ke-Buddha-an secara sekejab, dan hal pencapaian ini sangat berhubungan erat dengan keberadaan seorang guru spiritual Tantrayana yang ahli dan yang diyakini mampu untuk memberikan pertolongan dan bimbingan ajaran secara jelas kepada seorang sadhaka pemula melalui sebuah ritual pemberkatan khusus pada tahap awal memulai pelajaran esoteris (biasa disebut : inisiasi / abhiseka / anuttement / visudhi abhisecani).
Pentingnya sebuah ritual pemberkatan khusus ini didasarkan pada kepercayaan tentang adanya perbedaan tingkatan pencapaian spiritual yang dimiliki oleh seorang guru dengan seorang calon murid, yang pada umumnya tingkat spiritual seorang guru adalah dianggap "lebih menguasai dan suci" jika dibandingkan dengan tingkat spiritual seorang murid. Sehingga atas dasar inilah seorang guru dalam tradisi Tantrayana memiliki tanggung jawab maksimal untuk menyelamatkan dan menanggung seluruh karma-karma buruk yang dimiliki oleh murid tersebut.
Dikarenakan seorang guru memiliki tanggung jawab berat seperti diatas, maka perlindungan utama di dalam aliran esoteris didasarkan pada 4 (empat) mustika yaitu : berlindung kepada Guru - berlindung kepada Buddha - berlindung kepada Dharma - berlindung kepada Sangha, biasa disebut sebagai Catur Sarana.

Pada masa lalu, penganut esoteris mayoritas berada di daerah Tibet, Nepal, China dan sebagian wilayah India bagian Selatan dan Barat Laut, kini seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan teknologi yang canggih, proses penyebaran agama Buddha Tantrayana menjadi semakin pesat mencapai hampir seluruh wilayah seperti Seattle - Chicago - San Francisco - California - Los Angeles - New York - Alaska - Kanada - Brasil - Australia - Inggris - Afrika - Perancis - Spanyol - Thailand - Vietnam - Jepang - Singapura - Hong Kong - China - Malaysia - Indonesia dan sebagainya.

Ringkasan perjalanan tumbuhnya aliran-aliran esoteris (agama Buddha Tantrayana) secara umum :
A.
Mahayana
B.
Tantrayana

B.1.
System Pan - Chiao

B.2.
Buddhism Sukhavati (Chin - Tu)

B.3.
Sekte Avatamsaka

B.4.
Sekte Tien - Tai

B.5.
Sekte Chan (Zen)

B.6.
Sekte Vajrayana


B.6.I.
Tantra Timur


B.6.II.
Tantra Barat di Tibet



B.6.II.a.
Sekte Nyingmapa (aliran Tantra Merah)



B.6.II.b.
Sekte Kadampa



B.6.II.c.
Sekte Gelugpa (aliran Tantra Kuning)



B.6.II.d.
Sekte Kargyupa (aliran Tantra Putih)



B.6.II.e.
Sekte Sakyapa (aliran Tantra Bunga)



B.6.II.f.
Sekte Shibedpa



B.6.II.g.
Sekte Vinaya



B.6.II.h.
Sekte Tri Sastra



B.6.II.i.
Sekte Nichiren



B.6.II.j.
Sekte Hinayana




B.6.II.j.1.
Sekte Abhidharma - Kosa




B.6.II.j.2.
Sekte Satyasidhi


B.6.III.
Tantra Satya Buddha

Dalam kebudayaan Buddhisme Tantrayana di Tibet biasanya para pejabat, pemuka masyarakat atau guru spiritual dari sebuah kelompok tertentu, memiliki gelar kehormatan seperti : Rinpoche, Hu Thu Ge Thu, Dalai Lhama, Maha Acarya, Siddhacarya, Tulku, Panchen Lhama dan sebagainya. Gelar-gelar tersebut memiliki arti mendasar dan posisinya masing-masing di dalam struktur organisasi politik atau keagamaan yang bersangkutan. Tetapi pada intinya, memiliki arti harafiah Tibetan yang berarti "Yang telah berhasil menguasai persoalan hidup dan mati serta telah mencapai penerangan bijaksana" atau "Yang Menitis Kembali".
Sebagai contoh, kita ambil pemahaman dari gelar Rinpoche, yang dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai Buddha Hidup (Living Buddha - inggris / Huo Fo - mandarin), pada umumnya gelar tersebut bernilai sarat religius dan prestisius, dan gelar ini diberikan hanya kepada "seseorang" yang telah dianggap layak dan diakui oleh satu atau beberapa komunitas aliran agama Buddha Tantrayana seperti sekte Nyingmapa, Sakyapa, Kargyupa, Gelugpa, Kadampa dan lain-lainnya lewat sebuah transmisi rahasia.
Di daerah Tibet, pribadi-pribadi Rinpoche atau "Yang Menitis Kembali" dalam tumimbal lahirnya amatlah banyak dan hal ini berada diluar kemampuan pemikiran manusia (bersifat metafisika, mengandung unsur reinkarnasi) karena para Rinpoche tersebut dianggap merupakan penitisan kembali dari para mahkluk-mahkluk agung welas asih atau eliminasi-Nya yang bersimpati terhadap kehidupan manusia seperti Amitabha Buddha, Bodhisattva Kuan Se In yang Maha Karuna, Vajrasattva, Bodhisattva Vajrapani, para dewa/i dan sebagainya, sehingga mereka sangat dihormati dan dijunjung tinggi di Tibet.
Dan dari pengetahuan metafisika tentang penguasaan kelahiran dan kematian inilah kita mengenal beberapa cerita nyata tentang pencarian seorang atau beberapa bayi titisan Rinpoche yang sebelumnya telah diramalkan kedatangan-Nya berdasarkan waktu kelahiran dan tanda-tanda lahir khusus serta melewati banyak ujian-ujian fisik / batin tertentu.

Pada dasarnya, bila seorang Buddha, Arahat, Bodhisattva dan mahkluk-mahkluk agung suci lain yang berasal dari alam yang lebih tinggi berkenan untuk datang turun ke dunia dan bertumimbal lahir dalam rangka menyelamatkan umat manusia di dunia, maka pada kehidupan-Nya tersebut, layak untuk kita sebut sebagai "Orang Yang Telah Berhasil" yang telah terbebaskan dari segala macam kilesa, bebas menentukan kapan datang (lahir / menjelma) atau pergi (meninggal / parinirvana) dan telah mencapai penerangan kebijaksanaan, itulah yang benar-benar layak untuk disebut sebagai seorang Rinpoche sejati.

Sejarah Agama Buddha

SEJARAH AGAMA BUDDHA


Sejarah agama Buddha mulai dari abad ke-6 SM sampai sekarang dari lahirnya Buddha Siddharta Gautama. Dengan ini, ini adalah salah satu agama tertua yang masih dianut di dunia. Selama masa ini, agama ini sementara berkembang, unsur kebudayaan India, ditambah dengan unsur-unsur kebudayaan Helenistik (Yunani), Asia Tengah, Asia Timur dan Asia Tenggara. Dalam proses perkembangannya ini, agama ini praktis telah menyentuh hampir seluruh benua Asia. Sejarah agama Buddha juga ditandai dengan perkembangan banyak aliran dan mazhab, serta perpecahan-perpecahan. Yang utama di antaranya adalah aliran tradisi Theravada , Mahayana, dan Vajrayana (Bajrayana), yang sejarahnya ditandai dengan masa pasang dan surut.

Kehidupan Buddha
Menurut tradisi Buddha, tokoh historis Buddha Siddharta Gautama dilahirkan dari suku Sakya pada awal masa Magadha (546–324 SM), di sebuah kota, selatan pegunungan Himalaya yang bernama Lumbini. Sekarang kota ini terletak di Nepal sebelah selatan. Beliau juga dikenal dengan nama Sakyamuni (harafiah: orang bijak dari kaum Sakya”).
Setelah kehidupan awalnya yang penuh kemewahan di bawah perlindungan ayahnya, raja Kapilavastu (kemudian hari digabungkan pada kerajaan Magadha), Siddharta melihat kenyataan kehidupan sehari-hari dan menarik kesimpulan bahwa kehidupan nyata, pada hakekatnya adalah kesengsaraan yang tak dapat dihindari. Siddharta kemudian meninggalkan kehidupan mewahnya yang tak ada artinya lalu menjadi seorang pertapa. Kemudian ia berpendapat bahwa bertapa juga tak ada artinya, dan lalu mencari jalan tengah (majhima patipada ?). Jalan tengah ini merupakan sebuah kompromis antara kehidupan berfoya-foya yang terlalu memuaskan hawa nafsu dan kehidupan bertapa yang terlalu menyiksa diri.
Di bawah sebuah pohon bodhi, ia berkaul tidak akan pernah meninggalkan posisinya sampai ia menemukan Kebenaran. Pada usia 35 tahun, ia mencapai Pencerahan. Pada saat itu ia dikenal sebagai Gautama Buddha, atau hanya “Buddha” saja, sebuah kata Sansekerta yang berarti “ia yang sadar” (dari kata budh+ta).
Untuk 45 tahun selanjutnya, ia menelusuri dataran Gangga di tengah India (daerah mengalirnya sungai Gangga dan anak-anak sungainya), sembari menyebarkan ajarannya kepada sejumlah orang yang berbeda-beda.
Keengganan Buddha untuk mengangkat seorang penerus atau meresmikan ajarannya mengakibatkan munculnya banyak aliran dalam waktu 400 tahun selanjutnya: pertama-tama aliran-aliran mazhab Buddha Nikaya, yang sekarang hanya masih tersisa Theravada, dan kemudian terbentuknya mazhab Mahayana, sebuah gerakan pan-Buddha yang didasarkan pada penerimaan kitab-kitab baru.

Tahap awal agama Buddha
Sebelum disebarkan di bawah perlindungan maharaja Asoka pada abad ke-3 SM, agama Buddha kelihatannya hanya sebuah fenomena kecil saja, dan sejarah peristiwa-peristiwa yang membentuk agama ini tidaklah banyak tercatat. Dua konsili (sidang umum) pembentukan dikatakan pernah terjadi, meski pengetahuan kita akan ini berdasarkan catatan-catatan dari kemudian hari. Konsili-konsili (juga disebut pasamuhan agung) ini berusaha membahas formalisasi doktrin-doktrin Buddhis, dan beberapa perpecahan dalam gerakan Buddha.

Konsili Buddha Pertama (abad ke-5 SM)
Konsili pertama Buddha diadakan tidak lama setelah Buddha wafat di bawah perlindungan raja Ajatasattu dari Kekaisaran Magadha, dan dikepalai oleh seorang rahib bernama Mahakassapa, di Rajagaha(sekarang disebut Rajgir). Tujuan konsili ini adalah untuk menetapkan kutipan-kutipan Buddha (sutta (Buddha)) dan mengkodifikasikan hukum-hukum monastik (vinaya): Ananda, salah seorang murid utama Buddha dan saudara sepupunya, diundang untuk meresitasikan ajaran-ajaran Buddha, dan Upali, seorang murid lainnya, meresitasikan hukum-hukum vinaya. Ini kemudian menjadi dasar kanon Pali, yang telah menjadi teks rujukan dasar pada seluruh masa sejarah agama Buddha.

Konsili Kedua Buddha (383 SM)
Konsili kedua Buddha diadakan oleh raja Kalasoka di Vaisali, mengikuti konflik-konflik antara mazhab tradisionalis dan gerakan-gerakan yang lebih liberal dan menyebut diri mereka sendiri kaum Mahasanghika.
Mazhab-mazhab tradisional menganggap Buddha adalah seorang manusia biasa yang mencapai pencerahan, yang juga bisa dicapai oleh para bhiksu yang mentaati peraturan monastik dan mempraktekkan ajaran Buddha demi mengatasi samsara dan mencapai arhat. Namun kaum Mahasanghika yang ingin memisahkan diri, menganggap ini terlalu individualistis dan egois. Mereka menganggap bahwa tujuan untuk menjadi arhat tidak cukup, dan menyatakan bahwa tujuan yang sejati adalah mencapai status Buddha penuh, dalam arti membuka jalan paham Mahayana yang kelak muncul. Mereka menjadi pendukung peraturan monastik yang lebih longgar dan lebih menarik bagi sebagian besar kaum rohaniawan dan kaum awam (itulah makanya nama mereka berarti kumpulan “besar” atau “mayoritas”).
Konsili ini berakhir dengan penolakan ajaran kaum Mahasanghika. Mereka meninggalkan sidang dan bertahan selama beberapa abad di Indian barat laut dan Asia Tengah menurut prasasti-prasasti Kharoshti yang ditemukan dekat Oxus dan bertarikh abad pertama.
Lihat pula: mazhab awal Buddha

Dakwah Asoka (+/- 260 SM)
Kapital (pucuk pilar) sebuah pilar yang didirikan oleh maharaja Asoka di Sarnath +/- 250 SM.
Maharaja Asoka dari Kekaisaran Maurya (273–232 SM) masuk agama Buddha setelah menaklukkan wilayah Kalingga (sekarang Orissa) di India timur secara berdarah. Karena menyesali perbuatannya yang keji, sang maharaja ini lalu memutuskan untuk meninggalkan kekerasan dan menyebarkan ajaran Buddha dengan membangun stupa-stupa dan pilar-pilar di mana ia menghimbau untuk menghormati segala makhluk hidup dan mengajak orang-orang untuk mentaati Dharma. Asoka juga membangun jalan-jalan dan rumah sakit-rumah sakit di seluruh negeri.
Periode ini menandai penyebaran agama Buddha di luar India. Menurut prasasti dan pilar yang ditinggalkan Asoka (piagam-piagam Asoka), utusan dikirimkan ke pelbagai negara untuk menyebarkan agama Buddha, sampai sejauh kerajaan-kerajaan Yunani di barat dan terutama di kerajaan Baktria-Yunani yang merupakan wilayah tetangga. Kemungkinan besar mereka juga sampai di daerah Laut Tengah menurut prasasti-prasasti Asoka.

Konsili Buddha Ketiga (+/- 250 SM) 
Maharaja Asoka memprakarsai Konsili Buddha ketiga sekitar tahun 250 SM di Pataliputra (sekarang Patna). Konsili ini dipimpin oleh rahib Moggaliputta. Tujuan konsili adalah rekonsiliasi mazhab-mazhab Buddha yang berbeda-beda, memurnikan gerakan Buddha, terutama dari faksi-faksi oportunistik yang tertarik dengan perlindungan kerajaan dan organisasi pengiriman misionaris-misionaris Buddha ke dunia yang dikenal.
Kanon Pali (Tipitaka, atau Tripitaka dalam bahasa Sansekerta, dan secara harafiah berarti “Tiga Keranjang”), yang memuat teks-teks rujukan tradisional Buddha dan dianggap diturunkan langsung dari sang Buddha, diresmikan penggunaannya saat itu. Tipitaka terdiri dari doktrin (Sutra Pitaka), peraturan monastik (Vinaya Pitaka) dan ditambah dengan kumpulan filsafat (Abhidharma Pitaka).
Usaha-usaha Asoka untuk memurnikan agama Buddha juga mengakibatkan pengucilan gerakan-gerakan lain yang muncul. Terutama, setelah tahun 250 SM, kaum Sarvastidin (yang telah ditolak konsili ketiga, menurut tradisi Theravada) dan kaum Dharmaguptaka menjadi berpengaruh di India barat laut dan Asia Tengah, sampai masa Kekaisaran Kushan pada abad-abad pertama Masehi. Para pengikut Dharmaguptaka memiliki ciri khas kepercayaan mereka bahwa sang Buddha berada di atas dan terpisah dari anggota komunitas Buddha lainnya. Sedangkan kaum Sarvastivadin percaya bahwa masa lampau, masa kini dan masa depan terjadi pada saat yang sama.

Dunia Helenistik
Beberapa prasati Piagam Asoka menulis tentang usaha-usaha yang telah dilaksanakan oleh Asoka untuk mempromosikan agama Buddha di dunia Helenistik (Yunani), yang kala itu berkesinambungan tanpa putus dari India sampai Yunani. Piagam-piagam Asoka menunjukkan pengertian yang mendalam mengenai sistem politik di wilayah-wilayah Helenistik: tempat dan lokasi raja-raja Yunani penting disebutkan, dan mereka disebut sebagai penerima dakwah agama Buddha: Antiokhus II Theos dari Kerajaan Seleukus (261–246 SM), Ptolemeus II Filadelfos dari Mesir (285–247 SM), Antigonus Gonatas dari Makedonia (276–239 SM), Magas dari Kirene (288–258 SM), dan Alexander dari Epirus (272–255 SM).
Dakwah agama Buddha semasa pemerintahan maharaja Asoka (260–218 SM).
“Penaklukan Dharma telah dilaksanakan dengan berhasil, pada perbatasan dan bahkan enam ratus yojana (6.400 kilometer) jauhnya, di mana sang raja Yunani Antiochos memerintah, di sana di mana empat raja bernama Ptolemeus, Antigonos, Magas dan Alexander bertakhta, dan juga di sebelah selatan di antara kaum Chola, Pandya, dan sejauh Tamraparni.” (Piagam Asoka, Piagam Batu ke-13, S. Dhammika)
Kemudian, menurut beberapa sumber dalam bahasa Pali, beberapa utusan Asoka adalah bhiksu-bhiksu Yunani, yang menunjukkan eratnya pertukaran agama antara kedua budaya ini:
“Ketika sang thera (sesepuh) Moggaliputta, sang pencerah agama sang Penakluk (Asoka) telah menyelesaikan Konsili (ke-3) […], beliau mengirimkan thera-thera, yang satu kemari yang lain ke sana: […] dan ke Aparantaka (negeri-negeri barat yang biasanya merujuk Gujarat dan Sindhu), beliau mengirimkan seorang Yunani (Yona) bernama Dhammarakkhita”. (Mahavamsa XII).
Tidaklah jelas seberapa jauh interaksi ini berpengaruh, tetapi beberapa pakar mengatakan bahwa sampai tingkat tertentu ada sinkretisme antara falsafah Yunani dan ajaran Buddha di tanah-tanah Helenik kala itu. Mereka terutama menunjukkan keberadaan komunitas Buddha di Dunia Helenistik kala itu, terutama di Alexandria (disebut oleh Clemens dari Alexandria), dan keberadaan sebuah ordo-monastik pra-Kristen bernama Therapeutae (kemungkinan diambil dari kata Pali “Theraputta”), yang kemungkinan “mengambil ilham dari ajaran-ajaran dan penerapan ilmu tapa-samadi Buddha” (Robert Lissen).
Koin raja Yahudi, Raja Alexander Yaneus (103-76 SM), dengan sebuah cakra berisikan delapan ruji.
Mulai dari tahun 100 SM, simbol “bintang di tengah mahkota”, juga secara alternatif disebut “cakra berruji delapan” dan kemungkinan dipengaruhi desain Dharmacakra Buddha, mulai muncul di koin-koin raja Yahudi, Raja Alexander Yaneus (103-76 SM). Alexander Yaneus dihubungkan dengan sekte falsafi Yunani, kaum Saduki dan dengan ordo monastik Essenes, yang merupakan cikal-bakal agama Kristen. Penggambaran cakra atau roda berruji delapan ini dilanjutkan oleh jandanya, Ratu Alexandra, sampai orang Romawi menginvasi Yudea pada 63 SM.
Batu-batu nisan Buddha dari era Ptolemeus juga ditemukan di kota Alexandria, dengan hiasan Dharmacakra (Tarn, “The Greeks in Bactria and India”). Dalam mengkomentari keberadaan orang-orang Buddha di Alexandria, beberapa pakar menyatakan bahwa “Kelak pada tempat ini juga beberapa pusat agama Kristen yang paling aktif didirikan” (Robert Linssen “Zen living”).

Ekspansi ke Asia
Di daerah-daerah sebelah timur anak benua Hindia (sekarang Myanmar), Budaya India banyak mempengaruhi sukubangsa Mon. Dikatakan suku Mon mulai masuk agama Buddha sekitar tahun 200 SM berkat dakwah maharaja Asoka dari India, sebelum perpecahan antara aliran Mahayana dan Hinayana. Candi-candi Buddha Mon awal, seperti Peikthano di Myanmar tengah, ditarikh berasal dari abad pertama sampai abad ke-5 Masehi.
Penggambaran suku Mon mengenai (Dharmacakra), seni dari Dvaravati, +/-abad ke-8.
Seni Buddha suku Mon terutama dipengaruhi seni India kaum Gupta dan periode pasca Gupta. Gaya manneris mereka menyebar di Asia Tenggara mengikuti ekspansi kerajaan Mon antara abad ke-5 dan abad ke-8. Aliran Theravada meluas di bagian utara Asia Tenggara di bawah pengaruh Mon, sampai diganti secara bertahap dengan aliran Mahayana sejak abad ke-6.
Agama Buddha konon dibawa ke Sri Lanka oleh putra Asoka Mahinda dan enam kawannya semasa abad ke-2 SM. Mereka berhasil menarik Raja Devanampiva Tissa dan banyak anggota bangsawan masuk agama Buddha. Inilah waktunya kapan wihara Mahavihara, pusat aliran Ortodoks Singhala, dibangunt. Kanon Pali dimulai ditulis di Sri Lanka semasa kekuasaan Raja Vittagamani (memerintah 29–17 SM), dan tradisi Theravada berkembang di sana. Beberapa komentator agama Buddha juga bermukim di sana seperti Buddhaghosa (abad ke-4 sampai ke-5). Meski aliran Mahayana kemudian mendapatkan pengaruh kala itu, akhirnya aliran Theravada yang berjaya dan Sri Lanka akhirnya menjadi benteng terakhir aliran Theravada, dari mana aliran ini akan disebarkan lagi ke Asia Tenggara mulai abad ke-11.
Ada pula sebuah legenda, yang tidak didukung langsung oleh bukti-bukti piagam, bahwa Asoka pernah mengirim seorang misionaris ke utara, melalui pegunungan Himalaya, menuju ke Khotan di dataran rendah Tarim, kala itu tanah sebuah bangsa Indo-Eropa, bangsa Tokharia.
Lihat pula: Piagam-piagam Asoka

Penindasan oleh dinasti Sungga (abad ke-2 sampai abad ke-1 SM)
Dinasti Sungga (185–73 SM) didirikan pada tahun 185 SM, kurang lebih 50 tahun setelah mangkatnya maharaja Asoka. Setelah membunuh Raja Brhadrata (raja terakhir dinasti Maurya), hulubalang tentara Pusyamitra Sunga naik takhta. Ia adalah seorang Brahmana ortodoks, dan Sunga dikenal karena kebencian dan penindasannya terhadap kaum-kaum Buddha. Dicatat ia telah “merusak wihara dan membunuh para bhiksu” (Divyavadana, pp. 429–434): 84.000 stupa Buddha yang telah dibangun Asoka dirusak (R. Thaper), dan 100 keping koin emas ditawarkan untuk setiap kepala bhiksu Buddha (Indian Historical Quarterly Vol. XXII, halaman 81 dst. dikutip di Hars.407). Sejumlah besar wihara Buddha diubah menjadi kuil Hindu, seperti di Nalanda, Bodhgaya, Sarnath, dan Mathura.
Lihat pula: Kekaisaran Sungga

Interaksi Buddha-Yunani (abad ke-2 sampai abad pertama Masehi)
Drakhma perak Menander I (berkuasa +/- 160–135 SM).
Obv: huruf Yunani, BASILEOS SOTHROS MENANDROY secara harafiah “Raja Penyelamat Menander”.
Di wilayah-wilayah barat Anak benua India, kerajaan-kerajaan Yunani yang bertetangga sudah ada di Baktria (sekarang di Afghanistan utara) semenjak penaklukan oleh Alexander yang Agung pada sekitar 326 SM: pertama-tama kaum Seleukus dari kurang lebih tahun 323 SM, lalu Kerajaan Baktria-Yunani dari kurang lebih tahun 250 SM.
Arca Buddha-Yunani, salah satu penggambaran Buddha, abad pertama sampai abad ke-2 Masehi, Gandhara.
Raja Baktria-Yunani Demetrius I dari Baktria, menginvasi India pada tahun 180 SM dan sampai sejauh Pataliputra. Kemudian sebuah Kerajaan Yunani-India didirikan yang akan lestari di India bagian utara sampai akhir abad pertama SM.
Agama Buddha berkembang di bawah naungan raja-raja Yunani-India, dan pernah diutarakan bahwa maksud mereka menginvasi India adalah untuk menunjukkan dukungan mereka terhadap Kekaisaran Maurya dan melindungi para penganut Buddha dari penindasan kaum Sungga (185–73 SM).
Salah seorang raja Yunani-India yang termasyhur adalah Raja Menander I (yang berkuasa dari +/- 160–135 SM). Kelihatannya beliau masuk agama Buddha dan digambarkan dalam tradisi Mahayana sebagai salah satu sponsor agama ini, sama dengan maharaja Asoka atau seorang raja Kushan dari masa yang akan datang, raja Kaniska. Koin-koin Menander memuat tulisan “Raja Penyelamat” dalam bahasa Yunani, dan “Maharaja Dharma” dalam aksara Kharosti. Pertukaran budaya secara langsung ditunjukkan dalam dialog Milinda Panha antara raja Yunani Menander I dan sang bhiksu Nagasena pada sekitar tahun 160 SM. Setelah mangkatnya, maka demi menghormatinya, abu pembakarannya diklaim oleh kota-kota yang dikuasainya dan ditaruh di stupa-stupa tempat pemujaannya, mirip dengan sang Buddha Gautama (Plutarkhus, Praec. reip. ger. 28, 6).
Interaksi antara budaya Yunani dan Buddha kemungkinan memiliki pengaruh dalam perkembangan aliran Mahayana, sementara kepercayaan ini mengembangkan pendekatan falsafinya yang canggih dan perlakuan Buddha yang mirip dengan Dewa-Dewa Yunani. Kira-kira juga kala seperti ini pelukisan Buddha secara antropomorfis dilakukan, seringkali dalam bentuk gaya seni Buddha-Yunani: “One might regard the classical influence as including the general idea of representing a man-god in this purely human form, which was of course well familiar in the West, and it is very likely that the example of westerner’s treatment of their gods was indeed an important factor in the innovation” (Boardman, “The Diffusion of Classical Art in Antiquity”).
Lihat pula: Agama Buddha-Yunani

Berkembangnya aliran Mahayana (Abad Pertama SM-Abad ke-2)
Koin emas Kekaisaran Kushan memperlihatkan maharaja Kanishka I (~100–126 Masehi) dengan sebuah lukisan Helenistik Buddha, dan kata “Boddo” dalam huruf Yunani.
Berkembangnya agama Buddha Mahayana dari abad ke-1 SM diiringi dengan perubahan kompleks politik di India barat laut. Kerajaan-kerajaan Yunani-India ini secara bertahap dikalahkan dan diasimilasi oleh kaum nomad Indo-Eropa yang berasal dari Asia Tengah, yaitu kaum Schytia India, dan lalu kaum Yuezhi, yang mendirikan Kekaisaran Kushan dari kira-kira tahun 12 SM.
Kaum Kushan menunjang agama Buddha dan konsili keempat Buddha kemudian dibuka oleh maharaja Kanishka, pada kira-kira tahun 100 Masehi di Jalandhar atau di Kashmir. Peristiwa ini seringkali diasosiasikan dengan munculnya aliran Mahayana secara resmi dan pecahnya aliran ini dengan aliran Theravada. Mazhab Theravada tidak mengakui keabsahan konsili ini dan seringkali menyebutnya “konsili rahib bidaah”.
Konon Kanishka mengumpulkan 500 bhiksu di Kashmir, yang dikepalai oleh Vasumitra, untuk menyunting Tripitaka dan memberikan komentar. Maka konon pada konsili ini telah dihasilkan 300.000 bait dan lebih dari 9 juta dalil-dalil. Karya ini memerlukan waktu 12 tahun untuk diselesaikan.
Konsili ini tidak berdasarkan kanon Pali yang asli (Tipitaka). Sebaliknya, sekelompok teks-teks suci diabsahkan dan juga prinsip-prinsip dasar doktrin Mahayana disusun. Teks-teks suci yang baru ini, biasanya dalam bahasa Gandhari dan aksara Kharosthi kemudian ditulis ulang dalam bahasa Sansekerta yang sudah menjadi bahasa klasik. Bagi banyak pakar hal ini merupakan titik balik penting dalam penyebaran pemikiran Buddha.
Wujud baru Buddhisme ini ditandai dengan pelakuan Buddha yang mirip dilakukan bagaikan Dewa atau bahkan Tuhan. Gagasan yang berada di belakangnya ialah bahwa semua makhluk hidup memiliki alam dasar Buddha dan seyogyanya bercita-cita meraih “Kebuddhaan”. Ada pula sinkretisme keagamaan terjadi karena pengaruh banyak kebudayaan yang berada di India bagian barat laut dan Kekaisaran Kushan.

Penyebaran Mahayana (Abad pertama sampai abad ke-10 Masehi)
Penyebaran aliran Mahayana antara abad pertama - abad ke-10 Masehi.
Dari saat itu dan dalam kurun waktu beberapa abad, Mahayana berkembang dan menyebar ke arah timur. Dari India ke Asia Tenggara, lalu juga ke utara ke Asia Tengah, Tiongkok, Korea, dan akhirnya Jepang pada tahun 538.

Kelahiran kembali Theravada (abad ke-11 sampai sekarang)
Penyebaran aliran Buddha Theravada dari abad ke-11.
Mulai abad ke-11, hancurnya agama Buddha di anak benua India oleh serbuan Islam menyebabkan kemunduran aliran Mahayana di Asia Tenggara. Rute daratan lewat anak benua India menjadi bahaya, maka arah perjalanan laut langsung di antara Timur Tengah lewat Sri Lanka dan ke China terjadi, menyebabkan dipeluknya aliran Theravada Pali kanon, lalu diperkenalkan ke daerah sekitarnya sekitar abad ke-11 dari Sri Lanka.
Raja Anawrahta (1044–1077), pendiri sejarah kekaisaran Birma, mempersatukan negara dan memeluk aliran Theravada. Ini memulai membangun ribuan candi Budha Pagan, ibu kota, di antara abad ke-11 dan abad ke-13. Sekitar 2.000 di antaranya masih berdiri. Kekuasaan orang Birma surut dengan kenaikan orang Thai, dan dengan ditaklukannya ibu kota Pagan oleh orang Mongolia pada 1287, tetapi aliran Buddha Theravada masih merupakan kepercayaan utama rakyat Myanmar sampai hari ini.
Kepercayaan Theravada juga dipeluk oleh kerajaan etnik Thai Sukhothai sekitar 1260. Theravada lebih jauh menjadi kuat selama masa Ayutthaya (abad ke-14 sampai abad ke-18), menjadi bagian integral masyarakat Thai. Di daratan Asia Tenggara, Theravada terus menyebar ke Laos dan Kamboja pada abad ke-13.
Tetapi, mulai abad ke-14, di daerah-daerah ujung pesisir dan kepulauan Asia Tenggara, pengaruh Islam ternyata lebih kuat, mengembang ke dalam Malaysia, Indonesia, dan kebanyakan pulau hingga ke selatan Filipina.

Referensi
(en) “Dictionary of Buddhism” by Damien Keown (Oxford University Press, 2003) ISBN 0-19-860560-9
(en) “The Diffusion of Classical Art in Antiquity” by John Boardman (Princeton University Press, 1994) ISBN 0-691-03680-2
(en) “Living Zen” by Robert Linssen (Grove Press, New York, 1958) ISBN 0-8021-3136-0
(en) “National Museum Arts asiatiques- Guimet” (Editions de la Reunion des Musées Nationaux, Paris, 2001) ISBN 2-7118-3897-8.
(en) “Religions of the Silk Road” by Richard Foltz (St. Martin’s Griffin, New York, 1999) ISBN 0-312-23338-8
(en) “The Shape of Ancient Thought. Comparative studies in Greek and Indian Philosophies” by Thomas McEvilley (Allworth Press, New York, 2002) ISBN 1-58115-203-5
(en) “The Times Atlas of Archeology” (Times Books Limited, London, 1991) ISBN 0-7230-0306-8
(en) “Japanese Buddhism” by Sir Charles Eliot, ISBN 0-7103-0967-8
(en) “Hinduism and Buddhism: An Historical Sketch” by Sir Charles Eliot, ISBN 81-215-1093-7

Sejarah Munculnya Aliran Buddha Tantra

SEJARAH MUNCULNYA ALIRAN BUDDHA TANTRA


Menanggapi banyaknya kritikan dan perpecahan diantara umat Buddha mengenai ajaran yang murni dan ajaran bukan dari Buddha Sakyamuni itu tidak murni itu hanya mencerminkan kesombongan orang yang tidak mempunyai pencapaian, pintar dalam berteori dan semua harus berdasarkan logika, mujijat /kesaktian itu sesat. Ajaran yang mengajarkan ajaran rahasia, kesaktian, mudra dari CFC adalah berasal dari ajaran tantrayana, jadi tidaklah tepat, seharusnya mengkritik langsung ajaran tantrayana.

Ajaran dari CFC adalah mencakup ajaran seluruh alam semesta tidak terikat dengan pikiran yang membatasi, sehingga membatasi pencapaian seseorang.

Secara umum ajaran Buddha dikenal terbagi dalam tiga aliran
  1. Theravada/hinayana pencapaian tertinggi seorang Arahat.
  2. Mahayana pencapaian tertingginya menjadi seorang Bodhisatva.
  3. Tantrayana/vajrayana pencapaian tertingginya adalah menjadi seorang Buddha.

Sedangkan aliran Zen dapat digolongkan ajaran tingkat tertinggi dari Mahayana dan Tantrayana. Buddha Sakyamuni secara umum memberikan ajaran Buddha mencakup semuanya, hanya tidak semua umat mendapatkan semua ajarannya dan tidak semua dapat berhasil dengan latihannya, semua tergantung dengan kapasitas dan kemampuan masing-masing individu. Ajaran yang paling umum dan beredar luas adalah ajaran Theravada dan dapat diterima semua kalangan. sedikit meningkat yang diluar logika yang mulai mengenal kesaktian/mujijat mantera adalah aliran Mahayana dan untuk kalangan terbatas dan berbakat adalah dikenal dengan ajaran rahasia Tantrayana.

Selanjutnya yang mempopulerkan/memperluas Ajaran Buddha yang paling dikenal

adalah Buddha Nagajurna yang sampai masuk ke istana naga mengambil sutra-sutra Mahayana yang pada akhirnya menimbulkan sebutan aliran Mahayana, dari aliran mahayana terbagi lagi untuk ajaran rahasia hanya untuk murid yang berbakat yang kemudian dipopulerkan oleh Buddha Padmasambhava.

Buddha Padmasambava yang terlahir dari sebuah teratai tidak mempunyai orang tua kandung, langsung terlahir dalam sebuah teratai dengan berwujud seorang bocah yang telah berusia delapan tahun. Dari kelahirannya yang sangat mujijat dan rahasia (disebuah pulau yang tidak berpenghuni manusia) ini saja sudah tercermin dari ajarannya.(silahkan baca buku Kisah Padmasambava).

Kisah kelahiran dan munculnya Buddha Padmasambava telah diramalkan juga oleh Buddha Sakyamuni dalam sutra-sutra misalnya :
Sutra Dewi tak bernoda :

Aktivitas yang berjaya dari sepuluh penjuru

akan menyatu dalam satu bentuk tunggal

Seorang putra Buddha yang meraih pencapaian ajaib,

Seorang guru yang mewujudkan semua aktivitas Buddha

Akan muncul di sebelah barat Uddiyana.”



Sutra “Rahasia-rahasia yang tak terbayangkan”

Suatu perwujudan Para Buddha dari ketiga masa

Bersama dengan karya-karya agung di zaman baik ini.

Akan muncul sebagai seorang Vidyadhara

Di tengah sekuntum teratai ajaib.



Sutra “Nirvana”

Dua belas tahun sesudah

Aku memasuki Nirvana

Seseorang yang melampaui yang lain

Akan muncul dari sekuntum teratai

Di danau suci Kosha

Di sebelah barat laut perbatasan negeri Uddiyana.


Buddha Sakayamuni juga bersabda di dalam sutra Ramalan Magadha

Saya akan wafat mengikis pandangan kekekalan

Namun setelah dua belas tahun dari sekarang,

Untuk mengusir pandangan kemusnahan mutlak,

Saya akan muncul dari sekuntum teratai di danau suci Kosha

Sebagai seorang putra agung menggembirakan sang raja

Dan memutar roda dharma makna inti yang tak tertandingi.



Banyak orang yang tidak senang dengan pernyataan ini, mereka membuat beraneka ragam keberatan. Bukan pula dalam kemampuan saya untuk menyatakan bahwa Buddha Padmasambava secara tegas adalah perwujudan belas kasih dari semua Buddha di sepuluh penjuru terhadap manusia. Buddha Padmasambava muncul dalam wujud Nirmanakaya untuk mendamaikan mahluk-mahluk dari Zaman kegelapan.

Ini bukanlah pendapat pribadi yang saya kemukakan secara paksa dengan obsesi yang kotor. Sang Guru Agung telah diramalkan oleh Buddha Sakayamuni sendiri. Walaupun dalam hal ini dia tidak melalui tingkatan orang biasa yang harus menempuh berbagai tingkatan sadhana dan mencapai tingkatan Arahat, atau Pratyeka Buddha. (silahkan baca bukunya kisah Padmasambhava)

Buddha Sakyamuni memuji Padmasambava dengan melukiskannya memiliki lima kualitas yang membuatnya terunggul di antara perwujudan Para Buddha yang lain

Kutipan berikut ini bersumber dari Nirvana sutra “


“Kyeho! Dengar yang hadir, dengan bathin satu titik Perwujudan diriKu ini

Akan unggul dari perwujudan lain di tiga zaman

Tidak lapuk oleh zaman dan kemerosotan

Bentuknya yang sempurna akan unggul dari perwujudan yang lain

Sejak mula menaklukkan empat mara

Kekuatannya yang sangat Berwibawa menaklukkan pemimpin dari perwujudan yang lain

Mengajarkan wahana besar Kebuddhaan dalam satu kehidupan

Pencapaiannya akan terunggul dari semua perwujudan yang lain

Merubah negeri tengah dan negeri-negeri di sekeliling di Jambu Dwipa

Manfaat dirinya bagi mahluk hidup akan terunggul dari perwujudan yang lain

Tidak wafat di zaman baik ini

Rentang hidupnya akan unggul dari perwujudan yang lain

Ini karena ia adalah perwujudan dari Buddha Amithaba.”



Yang membuat Padmasambava unggul karena ia mengajarkan instruksi visualisasi / mudra yang mendalam berikut mantera rahasianya yang dapat mencapai kebuddhaan dalam tubuh yang ini dengan kehidupan ini juga.

Padmasambava muncul di zaman kegelapan untuk menyelamatkan mahluk hidup seperti rembulan welas asih di atas danau keyakinan para pengikutnya.

Dari pernyataan ini juga akan menimbulkan perdebatan dan pertikaian semua penolakan dan dukungan adalah ibarat seorang anak mencoba mengukur tingginya langit.

Yang paling penting dan layak dipercaya adalah kata-kata Buddha

“Jangan bergantung pada makna yang pantas, melainkan pada makna yang mutlak.

Jangan andalkan yang berkondisi, melainkan yang tidak terkondisi. Jangan mengandalkan kata-kata melainkan maknanya atau buktinya. Untuk mendapatkan buktinya kata-kata cobalah melaksanakannya”.

Memasuki tahun angka 2000 mulai memasuki zaman kegelapan dimana ajaran logika mulai ditinggalkan. Dahulu ajaran logika bersumber dari sebelah utara orang-orang eropa dan amerika (agama samawi). Sekarang bisa dilihat banyak munculnya orang-orang yang dapat membuat mujijat dan dari film-film sudah bergerak ke arah diluar logika seperti film harry potter, Lord of the ring,Narnia film-film jepang. Orang mulai bisa menerima hal-hal yang diluar logika berdasarkan bukti/hasilnya. Orang-orang cenderung suka ke hal-hal yang gaib dan mujijat. kalau film tidak ada khayalannya/gaib kurang laku ?! itu karena sudah memasuki zaman kegaiban.

Ajaran Padamasambava (Tantra) di zaman ini juga terpecah menjadi empat aliran yang berdiri sendiri. Bahkan Dalai Lama juga mendapatkan ajaran yang kurang komplit dari tantrayana. Dalai Lama juga tidak mempunyai waktu yang cukup untuk bersadhana dengan tenang dan tempat yang beraura mistis tinggi untuk mendukung keberhasilan sadhana. seseorang karena hidup dalam pelarian dan masih sibuk memikirkan masalah duniawi. Sibuk berpolitik.!! jabatan itu hanya nama belaka bukan yang sejati !!!,

Memasuki zaman kegelapan ini Ajaran Buddha Padmasambava sejati dipersatukan kembali dan (diperkenalkan kembali)Dirintis oleh Buddha Lian Shen yang mendirikan aliran Zhen Fo Zong (CFC/TBSN). Dengan lebih sempurna memperjelas ajaran-ajaran yang lebih terperinci yang dimulai dari tingkatan orang biasa sehingga mencapai kebuddhaan dalam tubuh yang ini dan kehidupan ini.

Ajaran ini telah dibuktikan dan dilaksanakan sendiri oleh Master Lu Sheng Yen sehingga mencapai keBuddhaan (Buddha Lien Shen/Padmakumara). dan memberikan jaminan kepada setiap orang akan mencapai kebuddhaan bila melaksanakan ajarannya dengan baik

Pernyataan ini juga akan banyak menimbulkan keberatan dan perdebatan. Seperti layaknya setiap aliran ada yang pro dan kontra Waktu yang akan membuktikan yang sejati tidak akan lekang oleh waktu. Dan kebanyakan yang keberatan belum mempunyai mata dharma sejati jadi susah menjelaskannya.

Ajaran Guru Padmasambhava tidak bisa dikatakan terpecah menjadi 4 aliran (empat topi). Ajaran Dzogchen Guru Rinpoche diwarisi oleh aliran Nyingma sampai sekarang dan juga lewat para murid lain baik murid India atau Tibet tersebar luas ke tempat-tempat lain.

4 aliran utama Tibet diwarisi oleh guru yang berbeda. Memang Guru Rinpoche yang pertama kali membawa tantra ke Tibet, namun kemudian menurun karena tekanan raja yang anti-dharma. Di kemudian hari, beberapa ratus tahun setelah itu, YM Marpa Sang Penerjemah memulai aliran Kagyud, YM Atisha dan siswanya Dromtonpa memulai aliran Kadam (aliran Gelug merupakan turunan dari Kadam), lalu Lotsawa bersaudara memulai aliran Sakya. Semuanya ini berasal dari silsilah yang berbeda.
Nyingma walaupun aliran tertua tapi bukan sumber dari 3 aliran lainnya.
Memang di zaman sekarang ini, para lama di aliran saling menerima inisiasi, semacam pertukaran ajaran. Jadi tidak heran bila Dalai Lama yang dari Gelug juga belajar Dzogchen dan Mahamudra.

Tantrayana pun awalnya telah dimulai dari Buddha Gautama sendiri, dan Vidyadhara saat itu adalah YM Vimalakirti dari klan Licchavi. Pengetahuan ini awalnya memang hanya diwariskan secara rahasia, sampai YM Nagarjuna, YM Asanga, YM Tilopa, YM Naropa, YM Virupa, dan 84 mahasiddha lain muncul dan ajaran tersebar lebih luas. Bahkan Seorang Agung seperti Guru Rinpoche sendiri pun masih harus menerima berbagai inisiasi formal Tantra dari Guru pemegang silsilah sebagai prasyarat dan berlatih keras sebelum merealisasikan Kebuddhaan dalam satu kehidupan. Maka, silsilah lineage tanpa putus adalah awal utama dan terpenting dalam Tantra.


Aliran tantra terpecah atas 4 aliran di tibet dan 1 aliran tantra timur (jepang) karena perbedaan jodoh (pemahaman) walaupun tiap aliran itu juga dapat mencapai pencerahan. saya berkomentar demikian karena adanya segelintir orang yang suka menyombongkan diri mengaku aliran buddha asli yang lain meniru. dan tidak suka dengan adanya pencampuran agama buddha dan tao.
Dalam hal pencampuran saya berpendapat seperti kita bertujuan mau ke bulan kita harus membuat sebuah kendaraan yang bisa membawa kita ke bulan. dalam membuat kendaraan ini kita tidak bisa terpaku hanya dengan satu ilmu/aliran misalnya hanya fisika saja, yang lain seperti kimia , aspek biologi dan perhitungan matematika. Jadi semua ilmu akan terpakai selama itu membawa manfaat dan tidak mengalami kemandekan. senantiasa berlatih selalu ada yang baru kita tahu. termasuk pembelajaran sedikit ilmu hitam (seperti yang dialami milarepa karena ada karma untuk mempelajarinya) karma itu harus dijalankan. Jadi seperti apakah Buddha dharma itu ?

Apa Itu Buddhadharma?
by Lu Shen Yen

Saya ingat DR. Zhang Chengji pernah menulis satu buklet berjudul " Apa itu Buddhadharma?"

DR. Zhang Chengji pernah berjodoh dengan saya, karena ia pernah mengundang saya mensurvei fengshui rumahnya di Gunung Bagua, Changhua.
Kemudian, DR. Zhang Chengji juga bersarana pada saya dan menerima abhiseka Mahakala dari saya.

Sebelumnya, DR. Zhang Chengji dan Acarya Chen Jianmin adalah siswa dari Gongga Rinpoche, pernah bertapa dan bersadhana bersama Gongga Rinpoche di Gunung Gongga.

Selesai memperkenalkan DR. Zhang Dengji, selanjutnya, saya memperkenalkan Upasaka Li Bingnan, saya pernah berjodoh dengan Li Bingnan (Xue Lu).

Saat saya mengabdi di kompi geodesi 5802, Upasaka Li berceramah tentang "Sastra Pelafalan Nama Buddha dari Bodhisattva Maha-Sthamaprapta" di Taixu Memorial Hall, Rumah Sakit Bodhi.

Di tepi Nanmenqiao, Taichung, kebetulan kompi geodesi tempat saya mengabdi berdekatan dengan Taixu Memorial Hall, saya jalan kaki pergi mendengarkan Upasaka Li Bingnan menjelaskan Sutra.

Saya bersarana kepada Guru Yinshun juga atas rekomendasi Upasaka Li Bingnan.

Suatu ketika, saat saya di rumah Upasaka Li Bingnan (Jalan Zhengqi), ada seorang rekan Dharma, membawa buklet berjudul "Apa itu Buddhadharma" karya DR. Zhang Chengji dan memperlihatkannya pada Upasaka Li.
Setelah Upasaka Li membaca sejenak, lalu membuangnya, dan membentak, "Saya mau bertanya pada Zhang Chengji, apa itu Buddhadharma?"
Upasaka Li tak disangka naik darah, Beliau tidak puas dengan pendapat Zhang Chengji.
Saat itu saya ada di lokasi. Saya bertanya, "Apapun adalah Buddhadharma. Apakah ada yang bukan Buddhadharma?"
Upasaka Li memelototi saya tanpa berkata-kata. (Saat itu saya baru berusia 26 tahun!)

Peristiwa tersebut telah berselang 40 tahun, saya teringat lalu ini, mau tak mau saya jadi malu sendiri.
Kini, seseorang bertanya pada saya, "Apa itu Buddhadharma?"
Saya jawab, "Praktisnya, apapun yang dapat menyingkirkan loba, dosa dan moha adalah Buddhadharma."
"Apa yang dapat menyingkirkan loba, dosa dan moha?"
Saya jawab, "Memiliki keyakinan murni terhadap ajaran Sang Buddha, mampu mempraktekkan secara nyata, memandang para insan itu setara dan tiada bedanya, menurut saya, dengan demikian dapat menyingkirkan loba, dosa, dan moha."

Saya menambahkan, "Bila saya setara dan tiada bedanya dengan para insan, maka loba, dosa, dan moha dapat disingkirkan. Hanya orang demikian yang mampu mencapai pantai seberang, mampu mencapai Anuttara Samyaksambodhi."
Orang tersebut bertanya, "Apakah Buddhadharma itu dibedakan menjadi besar, sedang, dan kecil?"
Saya menjawab, "Memahami prajna dan mahakaruna sekaligus, disebut besar. Memahami ada, memahami tiada, memahami sunya , disebut sedang. Mengetahui hukum karma, benar dan salah, baik dan jahat , disebut kecil."

"Apa itu Buddhadharma?"

Saya jawab, "Segala hal ikhwal di kolong langit ini adalah Buddhadharma, sebab, tidak peduli siapapun, apapun, semuanya membimbing kita ke jalan kebuddhaan dan Nirvana. Tidak peduli kebajikan atau kejahatan, benar atau salah, baik atau buruk, betul atau keliru, lurus atau sesat, semua adalah Buddhadharma.

Susunan Kitab Pitaka

STRUKTUR KITAB SUCI TIPITAKA
( Tiga kelompok Ajaran Buddha )



I. VINAYA PITAKA ( Peraturan/ Disiplin Bhikkhu/ Bhikkhuni )

Vinaya Pitaka ini terdiri dari 5 Buku ; yaitu :
1. Parajika = Peraturan / disiplin berat.
2. Pacittiya = Peraturan / disiplin ringan.
3. Mahavagga = Bagian yang lebih besar.
4. Cullavagga = Bagian yang lebih kecil.
5. Parivara = Formasi peraturan / disiplin .



II. SUTTA PITAKA ( Kumpulan kotbah Sang Buddha )

Sutta Pitaka ini terdiri dari 5 Kumpulan Buku/koleksi ; yaitu :

1. Digha Nikaya = Kumpulan kotbah Panjang.
2. Majjhima Nikaya = Kumpulan kotbah menengah.
3. Samyutta Nikaya = Kumpulan kotbah yang saling berhubungan.
4. Anguttara Nikaya = Kumpulan kotbah yang bertahap-tahap.
5. Khuddaka Nikaya = Kumpulan kotbah yang pendek, berisi 15 Kitab, yaitu

  1.1. Khuddakapatha = Kumpulan dari naskah yang pendek.
  1.2. Dhammapada =  Prinsip Ajaran Buddha dalam bentuk syair.
  1.3. Udana =  Ungkapan kebahagiaan.
  1.4. Itivuttaka = Kotbah yang dimulai dengan "Demikianlah dikatakan ".
  1.5. Suttanipata = Kumpulan kotbah praktek mulia dalam kehidupan sehari- hari.
  1.6. Vimanavatthu = Kotbah tentang kehidupan di alam surga/bahagia.
  1.7. Petavatthu = Kotbah tentang kehidupan di alam duka / menderita.
  1.8. Theragatha = Sajak dari para Bhikkhu.
  1.9. Therigatha = Sajak dari para Bhikkhuni.
  1.10. Jataka = Kisah-kisah kelahiran calon Buddha/Bodhisatta.
  1.11. Niddesa = Kitab tentang uraian Dhamma.
  1.12. Patisambhida Magga = Analisa ajaran pokok Buddha.
  1.13. Apadana = Kisah kehidupan para Arahat.
  1.14. Buddhavamsa = Sejarah kehidupan para Buddha.
  1.15. Cariyapitaka = Kisah penyempurnaan kebajikan Bodhisatta Siddatha Gotama.


III. ABHIDHAMMA PITAKA ( Uraian Metafisik, Filsafat/Ilmu Jiwa, Kebenaran Mutlak )

Abhidhamma Pitaka ini terdiri dari 7 Buku, yaitu :

1. Dhammasangani = Klasifikasi Dhamma .
2. Vibhanga = Analisis kebenaran tertinggi .
3. Dhatukatha = Kotbah tentang unsur-unsur.
4. Puggala Pannati = Kitab tentang individual.
5. Kathavatthu = Pemurnian doktrin Buddha Dhamma.
6. Yamaka = Kitab tentang hal-hal yang berpasangan.
7. Patthana = Kitab tentang sebab yang berhubungan.



∞∞∞

Apa Itu Sesat ?

Dewasa ini banyak orang sering menjuluk i ajaran orang lain seenaknya. Apa yang disebut sesat adalah yang menjauhi kebaikan membawa malapetaka bagi manusia disekitarnya. Manusia yang bagaimana menerima bencana, itu sudah digaris dari langit sesuai karmanya. Orang yang berpikiran sesat mengundang bencana. Langit tidak pernah salah dalam menilai dunia ini berjalan dengan alamiah. Biarkanlah langit yang bertindak bila waktunya telah matang (pahala sudah habis).

Bagi setiap mahluk hidup terutama manusia, walaupun pikiran ingin menekuni sadhana kesucian , tapi hati yang belum suci bersih itu selalu mengikuti kata hati dalam perbuatannya atau sadhananya (banyak keinginannya) tanpa disadari telah membuat karma baru lagi. Maka dari enam indra dirinya mengundang “yang mengikuti hati”(keinginan).

Misalnya melihat wanita cantik dan seksi atau pria yang tampan hati lalu terpesona ingin berkenalan, menyentuh terakhir pemikiran birahi mengakibatkan terundangnya iblis dari getaran bathinnya. Sehingga kerasukan iblis seksual pada dirinya.

Misalnya mendengar caci maki, disindir orang lain hati tidak terima kemudian berupaya membalas dendam dengan hati penuh amarah biasa mengundang iblis kesedihan (tidak pernah merasa bahagia).

Misalnya seorang sadhaka yang berbakat dengan semangat tinggi rajin berlatih dan sudah memiliki kekuatan samadhi. Tapi kepingin pamer dan mempunyai kesaktian/daya dari dewata dapat mengundang iblis api sesat yang akan memberikan kesaktiannya.

Kerasukan iblis api sesat di dalam sutra tertulis dengan jelas :
  • Pemikiran pada harta benda, getaran bathin diri mengundang hantu tuyul.
  • Pemikiran pada napsu birahi, mengundang Hantu kemarau.
  • Pemikiran pada kebohongan atau penipuan mengundang hantu hutan.
  • Pemikiran pada amarah dan dendam merasa diri sendiri/golongan paling suci/hebat, yang lain sesat mengundang hantu santet/guna-guna.
  • Pemikiran pada mencelakai orang mengundang hantu buduk.
  • Pemikiran pada kesombongan diri mengundang pada hantu kelaparan.
  • Pemikiran pada hal-hal yang cabul mengundang hantu gigau
  • Pemikiran pada kesaktian mengundang hantu gunung.
  • Pemikiran pada dukun/paranormal mengundang hantu pesuruh.
  • Pemikiran pada ramalan nasib mengundang hantu pengirim.

Apakah pemikiran itu ?. pemikiran ya kata lain dari keinginan yang belum terwujud dan selalu diinginkan terjadi. Haruslah tahu yang disebut kerasukan iblis api sesat, terlalu banyak keinginan yang disebabkan hati dan pikiran sesat, merasa diri sok pintar dalam penekunannya sehingga telah berbuat karma pemikiran sehingga terjadilah kerasukan iblis api sesat itu. Apa Pendobrak iblis yang paling ampuh ? Tiada penyertaan hati menghilangkan semua keinginan. Tidak ada hati/keinginan iblis tidak berdaya untuk lahir. Maka ada suatu kalimat bijak

”hati lahir iblis lahir”
“hati sirna iblis sirna”


Di alam manusia ini lebih banyak iblis yang menemani manusia dibandingkan manusia yang ditemani dewa. Manusia lebih baik mengurus diri sendiri bagaimana hidup bisa lebih baik dan bahagia dan mencapai kesucian. Iblis tidak bisa dilenyapkan, hukum alam membutuhkan keseimbangan antara hitam dan putih (lambang tao). Iblis telah ditugaskan dari langit untuk menguji manusia, yang lulus adalah manusia pilihan. Yang belum pernah diuji iblis/setan biasanya berupa penderitaan dalam kehidupan berarti sadhananya belum berkwalitas. Yang harus direnungkan adalah “berbuat tanpa demi perbuatannya” Manusia ikut aliran sesat atau aliran suci sudah merupakan jodoh dari langit dari karmanya sendiri.

Orang yang selalu mengikuti hati maka tidak akan bisa mendapatkan tubuh jati diri yang sejati, karena
  • Orang yang mngikuti hatinya yang selalu mengutak-atik dengan akal melalui perhitungan yang picik akan terjerumus dalam kelahiran melalui telur.
  • Orang yang mengikuti hatinya yang suka pada birahi akan terjerumus melalui kelahiran kandungan.
  • Orang yang mengikuti hati suka dengan nama dan keberuntungan, makan daging dan minuman keras akan terlahir melalui jenis basah.
  • Orang yang mngikuti hatinya suka berbuat yang tidak-tidak menimbulkan berbagai masalah dan gosip akan terjerumus dalam kelahiran perubahan wujud (kepompong).

Yang disebut diatas adalah orang yang suka mengikuti kata hatinya disebut karakter rendah. Adapun orang yang suka mengikuti kata hatinya masuk karakter tinggi adalah :
  • Orang yang mngikuti kata hatinya berbuat pahala , budi kebajikan akan terlahir di alam khayangan menjadi dewa atas budi pahalanya.
  • Orang yang mngikuti kata hatinya menekuni dharma maka akan terlahir menjadi dewa yang suci, dewa yang telah menyelami dharma.
Seperti contoh pada kisah sang guru leluhur Arya Ta Mo( Bodhidharma) ketika menghadap Raja dinasti Liang, Liang U Ti.

Raja U Ti bertanya ” seumur hidupku ini , aku telah banyak membangun vihara dan berdana uang dan mempersembahkan barang pujaan sudah banyak sekali, apakah pahalanya ?”. Arya Ta Mo menjawab : “tidak ada budi pahalanya”

Membangun vihara, berdana banyak sekali dengan mengikuti hati ingin dipuji berarti telah mempunyai pamrih atau keinginan jadi mengandung kadar munafik dan tidak ada pahalanya.

Sumber : Padmakumara


∞∞∞