嗡。古魯。蓮生。悉地。吽 - Om Guru Lian Sheng Siddhi Hum

嗡。古魯。蓮生。悉地。吽 - Om Guru Lian Sheng Siddhi Hum
Showing posts with label Dewa-Dewi. Show all posts
Showing posts with label Dewa-Dewi. Show all posts

Friday, November 21, 2014

Mahasridevi



 
Mahasridevi disebut juga sebagai Dewi Pahala 『Gongde Tian / 功德天』, selain sebagai Dewi Kemakmuran dan Kemujuran, meskipun menampilkan wujud sebagai Devi, namun sebenarnya Beliau adalah Bodhisattva, hanya saja demi menyelamatkan umat yang berpembawaan berbeda maka Beliau tampil dalam rupa Devi. Bahkan Mahasri Devi telah memperoleh Vyakarana (ramalan ke Buddha an) dari Sang Tathagata , bahwa kelak akan mencapai Anuttara Samyaksamboddhi di dunia yang bernama Keagungan Ratna Manggala 『JIxiang Bap Zhuangyan Shijie / 吉祥寶莊嚴世界』 dengan nama Srimaniratnasambhava Tathagata 『 JIxiang Monibaosheng Rulai / 吉祥摩尼寶生如來』,bila dapat terlahir di Negeri Buddha ini ,akan merealisasikan lahir dari bunga padma (Padmakumara) dan usianya tanpa batas. Bahkan semuanya berkedudukan Bodhisattva.

Nama Maha Sri Devi

Sri Mahadevi 『JIxiang Da Tiannv / 吉祥大天女』,atau Maha Sri Devi 『Dajixiang Tianv / 大吉祥天女』,ada juga yang menyebut sebagai Gunadevi / Devi Pahala 『Gongde tian / 功德天』,juga disebut sebagai Devi kebajikan / Sudevi 『Shannvtian / 善女天』,sedangkan dalam Sutra Pengukuran Pembuatan Rupang 《造像量度經序》ada sebutan sebagai Devi Berkah 『Funv Tian / 福女天』

Tempat Kediaman Mahasri Devi

Sutra Suvarnaprabhasa 《金光明最勝王經》

『世尊。北方“薜室羅末拏天王(毗沙門天王)”城名“有財”。去城不遠有園名曰“妙華福光”。中有勝殿。七 寶所成。世尊。我常住彼。』

Maha Sri Devi mengatakan kepada Sakyamuni Baghavan:

“Baghavan, di sebelah Utara , Raja Langit Vaisravana berada di kota Berkekayaan. Tak jauh dari kota itu ada taman bernama Cahaya Berkah Bunga Indah, dan disitu ada sebuah istana nan unggul, terbuat dari tujuh ratna, Baghavan , Aku berdiam disana.”

Sutra Kumpulan Dharani – Sadhana Gunadevi
《陀羅尼集經.功德天法》

『北方毘沙門王。有城名曰阿尼曼陀。其城有園。名功德華光。於是園中有最勝園。名曰金幢。七寶極妙。此即是 我常止住處。』

“Vaisravanadevaraja, ada kota bernama Animantuo, di kota itu ada taman bernama Cahaya Bunga Pahala, di taman itu ada taman paling unggul, bernama Panji Emas, terbuat dari tujuh ratna sungguh indah, itulah tempat tinggal Ku.”

Tingkatan Bodhisattva Mahasridevi

Tripitaka bag 21 . Bab 3 Kumpulan Dharani
《大藏經21冊.陀羅尼雜集卷第三》

Mempunyai pahala kebajikan Bodhisattva , demi menyelamatkan insan maka muncul dalam wujud Devi.

Vyakarana ke Buddha an bagi Mahasridevi


《大吉祥天女十二契一百八名無垢大乘經》
Sutra Mahayana 12 Wujud 108 Nama Mahasridevi

『一切如來授記大吉祥天女。汝當於吉祥寶莊嚴世界成等正覺。號吉祥摩尼寶生如來應供正遍知。其世界種種天寶 以為莊嚴。於彼世界。唯此如來作光明。彼菩薩眾於彼佛世界中。自然光明壽命無量。從空演出佛法僧音聲。所有 菩薩於彼佛世界生者。一切皆蓮華臺化生。』

Para Tathagata memberikan vyakarana kepada Mahasridevi : Kau akan mencapai Anuttarasamyaksamboddhi di Dunia Keagungan Ratna Manggala, dengan nama Tathagata Srimaniratnasambhava. Dunia itu akan diperagung dengan berbagai mestika surgawi, di dunia ini Tathagata ini bercahaya, para Bodhisattva memancarkan cahaya alamiah, usianya tanpa batas, dari angkasa terlantunkan suara Buddha, Dharma dan Sangha. Para Bodhisattva yang terlahir di dunia itu adalah terlahir dari Padma.

Sutra Sutra yang Memuat Mahasridevi

Sutra 12 Nama Mahasridevi
《Foshuo Dajixiangtiannv shier minghao jing 佛說大吉祥天女十二名號經》

Sutra Mahayana 12 Wujud dan 108 Nama Mahasridevi
《大吉祥天女十二契一百八名無垢大乘經》

Suvarnaprabhasa Sutra
《金光明最勝王經大吉祥天女品第十六》

Sutra Dharani Mahasri
《佛說大吉祥陀羅尼經》

Tentang Dewi Tara

Dewi Tara
 
 
Dalam salah satu sejarah dikatakan bahwa kelahirannya berasal dari kolam air mata Arya Avalokitesvara yang tiada henti bercucuran air mata menyaksikan begitu mengenaskannya penderitaan yang berlangsung di dlm samsara. Bintang saling membunuh di hutan dan di laut, yang lain dibebani dengn pemberat dan disembelih oleh manusia tanpa belas kasihan. Manusia dirundung oleh berbagai persoalan karena kebodohan dan ketidaktahuannya. Siang malam mereka menghabiskan waktunya untuk mencari berbagai kebahagiaan yang hanya berlangsung sekejap mata. Setiap hari ada yang terlahir, ada yang sakit dan ada yang mati. Setiap hari ada berbagai perkelahian, peperangan, perselisihan dan berbagai kekacauan. Setiap hari ada tangisan karena keinginan yang tak tercapai, terpisah dari sanak keluarga dan apa yang mereka cintai. Semua itu tampak wajar bagi manusia namun tidak bagi beliau. Di alam preta, mahkluk hidup berada dalam kehausan serta kelaparan sepanjang hidupnya. Di alam neraka, sepanjang waktu hanya terdengar jeritan histeris, ketakutan, siksaan dan berbagai derita yang tak terperikan. Sedangkan di alam para dewa setiap hari berlangsung pembuangan karma-karma baik dan kesedihan karena kehilangan kemegahan. Belas kasih agung Arya Avalokitesvara (Kwan Im) kepada semua makhluk menyebabkan air mengalir dari pelupuk matanya hingga membentuk sebuah kolam. Dari dalam kolam tersebut tumbuhlah bunga nilapadma (teratai biru).Lalu muncul bentuk manifestasi belas kasih serta kegiatan dari para Buddha yaitu Dewi Pembebas (Dewi Tara). Ia akan menyempurnakan belah kasih dan kegiatan para Buddha, karena itu beliau dipanggil sebagai Tara sang "Pembebas" dari segala kesengsaraan samsara.

Dikatakan bahwa bagi siapa saja yang mengingat beliau, menyebut namanya atau melakukan ibadah kepadanya, pada saat itu juga kegiatannya secara langsung bermanifestasi. Kecepatan pertolongan yang beliau berikan secepat pikiran yang mengingatnya atau kata-kata yang menyebutnya. Tentang hal ini tertulis dalam banyak sastra suci yang diwariskan oleh para Mahaguru India maupun Tibet. Itulah sebabnya Dewi Tara mendapatkan sebutan "Penolong Yang Tangkas".

Setelah berlangsung selama 500 tahun lamanya, akhirnya sampai pada Arya Mahatma Nagaarjuna ibadah kepada Dewi Tara menjadi semakin luas. Dan banyak dari para Guru yg mendapatkan berkah, perlindungan dan banyak hal dari Dewi Tara. Dalam biografinya Guru Nagaarjuna pada mulanya merupakan penyembah Dewi Tara dalam Manifertasinya sebagai Tara Putih oeh Guru Nagaarjuna mendapatkan prediksi tidak akan hidup lama di dunia ini. Karena ketekunan dan kegigihannya dalam melaksanakan bakti dan praktek pada Dewi Tara putih akhirnya Bhagavati Tara berkenam memberinya siddhi panjang umur melampaui manusia pada jaman itu, yaitu Guru Nagaarjuna hidup selama 600 tahun. Selain Arya Nagaarjuna terdapat banyak lagi para Mahaguru yang juga menjadikan Dewi Tara sebagai pelindungnya. Diantaranya adalah : Acharya Aryadeva, Ravigupta, Dharmakirti dari Sriwijaya, Guru Atisha, dll.

Manivestasi Tara
Praviratara duduk di tengah angkasa, di atas teratai emas. Bertubuh merah memancarkan cahaya menyilaukan, berwajah satu dan bertangan delapan. Ke empat tangan kirinya masing – masing memegang gantha ditangan paling atas, yang kedua memegang busur panah, yang ketiga memegang sanka dan yang keempat memegang tali penjerat. Sedang kempat tangan kanan nya masing –masing memegang vajra, anak panah, dharmachakra, dan pedang kebijaksanaan.

Beliau sangat cepat dalam menaggapi keluh kesah makhluk samsara, “Saya akan dengan cepat menolong mereka dari samsara, jangan menangis lagi.” Beliau tanpa sisa membalikan bala tentara Mara, kedua mata nya menembus seluruh Triloka.

Chandrakanthitara berwajah tiga, sebagai manifestasi trikaya Buddha (Dharmakaya, Sambhogakaya dan Nirmanakaya), bertangan 12, sebagai manifestasi dari 12 mata rantai sebab akibat (Paticca Samupada). Wajah yang di tengah berwarna putih, yang di kanan berwajah biru dan yang di kiri berwajah emas. Keenam tangan kanannya masing –masing yang paling atas memegang untaian bunga, di bawahnya memegang vajra, kemudian ratna cintamani, dhramachakra, katvangga dan terakhir bersikap dhyanamudra. Sedangkan keenam tangan kirinya yang paling atas memegang pustaka suci, bejana harta, gatha, bunga utpala dan terakhir dhyanamudra.

Kanakavarnatara atau juga disebut tara paramitha, duduk dalam sikap vajrapariyanka, diatas bungan teratai beraneka warna, matahari dan bulan. Sangat cantik serta bersinar. Berwajah satu dan bertangan sepuluh, sebagai manivestasi dari kesepuluh paramitha. Kelima tangan kanan nya masing – masing memegang trisul, vajra, anak panah, kadga atau pedang kebijaksanaan dan akshamala di dadanya. Sedang tangan kiri nya dari atas masing – masing memegang busur panah, genth, bungan utpala, tali penjerat dan selendang sutra.

Usnishavijayatara duduk dalam sikap sattvapariyanka diatas bungan teratai kuning dan bulan purnama, tubuh nya berwarna keemasan bersinar laksana gunung emas, cantik, penuh kebajikan dan berhakikatkan metta karuna terhadap semua makhluk, berwajah satu dan bertangan empat, tangan kanan nya masing – masing memegang akshamala dan sikap varadamudra. Tangan kiri nya masing – masing memegang gadha dan kalasha amrihta.

Humsvaranadinitara atau tara yang menaklukkan ketiga dunia, duduk dalam ardhaparyanka diatas bunga teratai dan bulan. Bertubuh keemasan. Berwajah satu dan bertangan dua. Tangan kanan nya dalam mudra perlindungan, sedang tangan kiri nya memegang setangkai bunga teratai emas.

Trailokyavijayatara, duduk dalam sikap sattvaparyanka diatas bunga teratai dan bulan, bertubuh merah ruby, berwajah satu dan bertangan empat. Dua tangan kanan nya memegang vajra dan kadga ( Pedang ), sedang tangan kiri nya memegang tali penjerat dan sikap mudra tarjana.

Vadipramardakatara, dalam sikap pratyalidha atau berdiri, kaki kanan ditekuk dan kaki kanan tegak. Diatas bungan teratai kuning dan matahari. Bertubuh Hitam menakutkan, dengan wajah kemurkaan, denganm mengenakan busana berwarna kuning. Berwajah satu dan bertangan empat, rambut nya berdiri tegak, berhiaskan ular dan tiara surgawi. Tangan serta kaki nya mengenakan gelang. Kedua tangan kanan nya masing – masing memegang kadga dan DharmaChakra. Tangan kiri nya memegang tali dan sikap mudra Tarjana.

Marasudana vasitottama datara, duduk dalam sikap ardhaprayanka diatas bunga padma, surya dan chandra serta makara. Bertubuh keemasan berwajah satu dan bertangan empat. Tangan kanan nya masing – masing memegang tangkai bunga asoka dan ratna. Tangan kiri nya memegang bunga padma dan bejana harta.

Varadhatara, duduk diatas bunga padma dan bulan, bertubuh merah ruby, berwajah satu dan bertangan empat. Kedua tangan kanan nya satu dalam mudra mahasukkha dan satu lagi memegang vajra. Tangan kiri nya memegang gantha dan tangkai ranting pohon naga.

Sokavinodanatara ( Arya tara penghalau segala penderitaan ), duduk damai diatas bunga padma dan bulan, cantik, bertubuh merah Coral, berwajah satu dan bertangan empat. Tangan kanan nya masing – masing dalam sikap anjali mudra bersama tangan kiri atas nya diatas mahkota nya dan memegang pedang pemutus penderitaan. Satu tangan kiri nya memegang bunga utpala.

Jagadvasivipannirbarhanatara ( Arya Tara penghalau segala kemalangan ), berdiri dalam sikap lalidhasana diatas bunga teratai dan bulan. Bertubuh nila dengan rambut kemerahan berdiri tegak, berwajah satu dan bertangan dua. Tangan kanan nya memegang gadhakapala dan tangan kiri nya memegang vajra ankusha.

Manggalalokatara ( Arya Tara cahaya keberuntungan ), duduk dalam vajraparyanka, diatas bunga teratai beraneka warna serta bulan. Bertubuh emas, berwajah satu, dan bertangan delapan, dengan bersandar pada bulan purnama. Tangan kanan nya memegang trisula, ankushi, kadga, dan vajra. Tangan kiri nya memegang ratna, ankushi, gadha, dan bejana harta.

Paripacakatara ( Arya Tara sang pemulih ), berdiri diatas bunga teratai dan matahari, ditengah kobaran api, dari tubuh nya yang mengerikan berwarna merah ruby memancar cahaya kesegala penjuru membakar apapun. Berwajah satu dan bertangan empat, mulut nya menyeringai dengan alis mata yang naik turun, sangat menakutkan. Tangan kanan nya memegang pedang dan anak panah, tangan kiri nya memegang dharmachakra dan busur panah.

Bhrkutitara (Arya Tara penakluk yang murka), berdiri diatas bunga padma dan matahari, menari diatas bangkai manusia. Bertubuh hitam menakutkan, dengan tiga wajah kemurkaan, yang masing – masing bermata tiga, merah, menyala murka, dengan mulut menyeringai lidah terjulur. Wajah nya yang tengah berwarna hitam, yang kanan putih, dan yang kiri merah. Mengenakan untaian kepala dan kulit harimau dihiasi delapan ekor ular. Bertangan enam, ketiga tangan kanan nya masing – masing memegang kadga, pecut dan gadha. Tangan kiri nya memegang dharmachakra, kepala penuh darah dan tali penjerat.

Mahashantitara (Arya Tara kedamaian agung), duduk dalam vajrapariyanka, diatas bunga teratai putih dan bulan. Bertubuh putih bagaikan bulan, berwajah satu dan bertangan enam. Tiga tangan kanan nya memegang aksamala, gadha, dan varadha mudra. Sedang tangan kiri nya memegang setangkai bunga utpala, kalasa amritha, dan patra penuh makanan.

Raganisudhanatara (Arya Tara penghancur segala keterikatan), duduk dalam sattvapariyanka diats bunga padma dan matahari. Bertubuh merah Coral, cantik dan bersinar, berwajah satu dengan tiga mata dan bertangan dua. Tangan kanan nya memegang trisula, tangan kiri nya memegang bunga utpala. Beliau adalah sumber segala realisasi. Bathin nya merupakan sari dari kesepuluh suku kata mantra, memberikan segala siddhi, mengembangkan kecerdasan dan memberi segala pengetahuan.

Sukhasadhanatara (Arya Tara yang memiliki segala kebahagiaan), duduk dalam sikap satvapariyanka diats teratai putih yang bersinar, bulan dan matahari. Bertubuh orange, berwajah satu dan bertangan dua. Sangat cantik, mengenakan perhiasan berbagai permata. Kedua tangannya memegang bulan purnama di depan dadanya.

Sitavijayatara (Arya Tara sang pemenang), duduk dalam sikap sattvapariyanka, diatas angsa, bunga padma, matahari dan bulan. Bertubuh putih, berwajah satu dan bertangan empat. Kedua tangan kiri dan kanan atas, memegang ankushi. Tangan kanan yang lain dalam varadhamudra, sedang tangan kiri yang lain memegang setangkai bunga utpala dengan pustaka suci diatas nya.

Dukkhadahanatara (Arya Tara yang membakar segala penderitaan), duduk dalam sikap sattvapariyanka, dengan kaki kanan ditegakkan, diatas kumuda dan candra. Tubuh nya agung, berwajah satu dan bertangan dua. Bertubuh putih laksana kulit kerang, mengenakan berbagai perhiasan, yang bersinar putih dan merah, menghalau noda semua makhluk. Kedua tangan nya memegang cermin yang menghanguskan segala penderitaan semua makhluk.

Siddhisambhavatara (Arya Tara sumber siddhi), duduk dalam sikap sattvapariyanka diats bunga padma dan bulan. Bertubuh orange yang menunjukkan bahwa beliau berasal dari sari karmakula, berwajah satu dan bertangan dua. Kedua tangan nya memegang bejana emas di depan dada, mengalahkan segala jenis penyakit dan memberi segala siddhi.

Paripurnatara (Arya Tara sempurna), duduk dalam sikap ardhapariyanka diatas sapi kamadenu, yang lahir spontan, bunga padma dan bulan. Bertubuh putih, cantik dan bersinar, berwajah satu dengan tiga mata dan bertangan dua. Tangan kanan nya dalam abhaya mudra dan tangan kiri nya memegang trisula. Beliau menjadi jalan untuk dapat pergi kealam akanistha dalam hidup saat ini juga.



∞∞∞

Thursday, September 18, 2014

Mahadeva Yang Mengatur Dunia

Sering terjadinya bencana alam di beberapa tempat di dunia sungguh memperihatinkan, maha guru berceramah tentang mahadeva yang mengatur dunia

Taisho Tripitaka No. 1297

SUTRA PUJANA KEPADA 12 MAHA DEVA PENUH WIBAWA

BAB 1

Pada suatu ketika Samantabadra Bodhisattva (Vajrasattva) dengan penuh kasih mengamati para dewa dan manusia. Kemudian mengatakan “semua makhluk diliputi oleh perubahan catur mahabhuta. Banyak penyakit dan gangguan setan mara, menyesatkan dan memperpendek usia.

Bagaimana mengatasi berbagai kemalangan dalam dan luar ini….

semua adalah karena para makhluk tidak tahu membalas budi.

Budi apakah itu?…yaitu budi dari para Dewa bumi, air, api, angin, matahari, rembulan. Beliau semua memiliki budi jasa memelihara kita dari dalam dan luar. Bagaimana memahami budi ini, bahwa catur mahabhuta adalah intisari Nya, begitu juga dengan matahari dan rembulan serta lainnya.

Memberi pujana pada dewata menghasilkan banyak manfaat, alam materi dan spiritual akan memperoleh tambahan kekuatan.

Siapakah dan ada berapakah Para Maha Dewata itu? Para Dewata itu ada 12.
Ialah :
  1. Deva Prthivi (bumi, memiliki 2 wujud, Prthivivajra /Jianlaodishen dan wujud wanita sebagai Ibu pertiwi / Di Mu),
  2. Deva Varuna (air) ,
  3. Deva Agni (api),
  4. Deva Vayu (angin),
  5. Deva Ishna (Siva Mahesvara),
  6. Deva Indra (Yuhuangdadi),
  7. Deva Yama, (neraka)
  8. Deva Brahma,
  9. Deva Vaisramana,
  10. Deva Raksasha,
  11. Deva Surya, (matahari)
  12. Deva Candra (bulan).



(1) Saat Deva/Devi Prthivi bersuka cita,
  • Tubuh manusia jadi kuat dan semakin rupawan.
  • Kekuatan hasil bumi di alam materi jadi bertambah dan beraneka rasa.
Saat Deva/Devi Prthivi murka,
  • Tubuh manusia menjadi rusak dan memucat.
  • Hasil bumi menjadi nihil.

(2) Saat Deva Varuna (air) bersuka cita, akan ada dua manfaat :
  • Tubuh manusia tak kekurangan cairan.
  • Hujan turun tepat waktu.
Saat Deva Varuna (air) murka, ada 2 kerugian:
  • Tubuh manusia kekurangan cairan.
  • Alam materi dilanda kekeringan, segala sesuatu musnah karena kekeringan. Bahkan bisa juga turun hujan yang menjadi banjir akan memenuhi dunia.
(3) Saat Deva Agni bersuka cita,
  • Suhu tubuh manusia bertambah dan berkurang sesuai pada waktunya.
  • Pergantian musim teratur.
Saat Deva Agni murka,
  • Suhu tubuh manusia bertambah dan berkurang tidak pada waktunya.
  • Akan terjadi kebakaran alami yang membakar segala sesuatu.
(4) Saat Deva Vayu bersuka cita,
  • Tubuh manusia akan tenang dan rileks, bergerak sesuai keinginan.
  • Alam material menjadi tenang tenteram… dan saat timbul angin dingin tidak akan merusak dan melukai.
Saat Deva Vayu murka,
  • Tubuh dan suara tak terkendali.
  • Angin ribut maha dahsyat memporak porandakan dunia atau angin tidak akan bertiup sehingga tumbuhan tak akan bisa tumbuh sesuai waktunya.

Bila ke empat MahaDewata (Catur Mahabhuta) ini murka dan menyulitkan raja dan rakyat masuklah ke dalam stupa 5 cakra Sang Tathagata, menjaga sila dan bersarana pada Triratna, berkonsentrasi dan merenungkan :

"Tanah lahir bergantung pada air, sifat air adalah sunya(kosong), oleh karena itu tanah/bumi itu anitya (tidak abadi). Air lahir bergantung pada angin, sifat angin adalah sunya (kosong), oleh karena itu air itu anitya (tidak abadi). Api lahir bergantung pada unsur air dan angin, unsur air dan angin adalah sunya(kosong), maka api itu anitya (tidak abadi). Angin bergantung pada ruang, ruang itu tiada wujud, maka angin itu anitya (tidak abadi). Angin itu sunya, maka api pun sunya. api itu sunya, maka air pun sunya. Air itu sunya maka bumi pun sunya. Karena bumi itu sunya, maka semua yang lahir dari atas bumi adalah bersifat anitya (tidak kekal)."

Saat melakukan perenungan ini, murka para deva akan lenyap dan tiada tempat bagi murka Nya untuk bernaung. Kemudian, sadhaka melanjutkan dengan perenungan ini:

"Walaupun angkasa itu tiada, namun angkasa itu ada. maka dinamakan angkasa. Nama pasti mempunyai wujud. oleh karena itulah angkasa ada, maka angin juga ada. Karena ada angin, maka api, air, bumi dan lainnya semuanya memiliki wujud (wadah)."

Saat melakukan perenungan ini, para deva akan menjadi senang, cahaya wibawa akan bertambah berkali lipat dan berdiam dengan tenteram.

(5) Saat Deva Siva (Mahesvara / Isna / Kematian) bersuka cita,
  • Para deva -pun turut bersuka! Para Mara tidak akan melakukan keonaran. Oleh karena itulah Dia disebut Mahesvara! Buddha bersabda, bila memberi pujana pada Mahesvara, berarti telah memberi pujana pada semua Para Dewata!
Saat Deva Isna (Mahesvara / Isna / Kematian) murka, 
  • Para mara akan muncul dan negara akan kacau!
(6) Indra (Tiangong/ Yuhuangdadi) adalah Tuhan bagi semua yang tinggal di bumi, mencatat dan mengamati semua kebajikan dan kejahatan umat.
Saat Beliau bersuka cita, negara dan rakyat akan tenteram.
Saat Beliau murka akan terjadi peperangan.
(7) Saat Deva Yama (neraka) bersuka cita,
  • Tiada kematian sebelum waktunya dan tiada wabah penyakit.
Saat Deva Yama (neraka) murka, 
  • Banyak orang mati sebelum waktunya dan penyakit menyebar dimana mana.
(8) Deva Brahma adalah Tuan di surga, bapa dari semua makhluk.
Saat Beliau bersuka cita, dunia material/berbentuk akan tenteram tiada kekacauan. Kenapa? karena pada permulaan kalpa, Deva ini menciptakan material Alam semesta. Kenapa para makhluk di semesta tidak kacau, sebab Bapa Sang Raja bersuka cita.

Saat Beliau murka, dunia akan kacau dan banyak penyakit meraja lela. Bahkan rumput dan pepohonan akan gugur, manusia akan haus nama bagaikan orang mabuk.
(9) Saat Vaisramana Deva bersuka cita,
  • Para yaksa akan bersuka cita dan tidak melukai rakyat. Namun saat murka, semua akan kacau.
(10) Saat Deva Rakshasa bersuka cita,
  • Para setan pelahap turut bersuka, tidak menyebar hawa racun dan tidak berbuat kejahatan. Namun jika murka, semua akan timbul kekacauan.
(11) Saat Deva Surya bersuka cita,
  • Tidak akan kekurangan cahaya, manusia tidak akan timbul kebencian, semua makhluk dan materi akan diliputi kegembiraan. Namun saat Beliau murka, suhu akan melemah dan tiada cahaya, walaupun memiliki mata namun tak akan bisa melihat, muncul derita kedinginan.
(12) Saat Deva Candra bersuka,
  • Cahaya dingin bertambah sehingga manusia tidak sakit panas, namun saat murka akan kehilangan cahaya dingin.
Saat Candra dan Surya saling menyinari, banyak manfaat dan musim akan tiba pada saatnya. semua makhluk selalu bersuka cita.


Pengulasan Yao Chi Jin Mu Yang Zheng Zhen Jing


Pengulasan Yao Chi Jin Mu Yang Zheng Zhen Jing 
(瑤池金母養正真經)

Oleh Vajra Master Lianci 12 October 1995

《瑤池金母養正真經第一講》

一九九五年十月十二日釋蓮慈金剛上師主講 

Selamat malam, kepada saudara saudari Sedharma sekalian !

Yaochijinmu (瑤池金母) merupakan Mahadewi pada masa yang sangat lampau dan sekaligus tertinggi, merupakan leluhur para Mahadewa Resi. Sebelumnya kita telah membahas bahwa Xuanxuanshangren (玄玄上人) mewariskan Tao kepada Mugongshangren (木公上人), kemudian Mugongshangren mewariskannya kepada Yaochijinmu.

Berdasarkan catatan sejarah resmi dalam kitab dan juga berdasarkan legenda, Yaochijinmu pernah turun ke dunia pada masa Kaisar Kuning (黃 ( huáng )帝 ( dì )) ; Juga pada masa Yu Agung(大 ( dà )禹 ( yǔ )), Beliau juga turun untuk membantu Yu Agung dalam menangkal banjir. Kaisar Kuning dan Yu Agung sama-sama pernah memohon bantuan Para Dewa untuk menangkal bencana. Oleh karena itu , dalam dua masa tersebut, Yaochijinmu pernah menampakkan diri, membawa mereka menuju ke alam surga dan berada di Istana untuk membantu mereka menyelesaikan masalah. Pada saat itu , Beliau sangat mendukung Tiongkok. Kemudian yang terakhir kali adalah saat Tahun Taiwan ke 36, Beliau turun ke Cihuitang (慈惠堂) di Hualian (花蓮) , sampai saat ini masih ada prasasti turunnya Beliau, tempat itu merupakan satu kuil leluhur bagi Tao.

Tujuan kedatangan Yaochijinmu di dunia adalah untuk membebaskan para insan dari ketersesatan, supaya para insan dapat menyadari Sifat Sejati, dapat merealisasikan Tao, kembali ke alam surga. Maka dari itu, ada banyak sekali cerita yang beredar, diantaranya adalah mengenai bagaimana Beliau mengutus para dewata dari surga, seperti Delapan Dewa (八 ( bā )仙 ( xiān )) dan yang lainnya untuk datang ke dunia fana, untuk membawa kembali para insan kembali ke alam suciwan, kembali ke surga.

Ada juga kisah dimana Sakyamuni Buddha (釋 ( shì )迦 ( jiā )牟 ( móu )尼 ( ní )佛 ( fó )) dan Avalokitesvara Bodhisattva (觀 ( guān )世 ( shì )音 ( yīn )菩 ( pú )薩 ( sà ))melihat bahwa insan yang diselamatkan melalui pasamuan kedua Nagapuspa (龍 ( lóng )華 ( huá )二 ( èr )會 ( huì )) kurang banyak, maka Beliau memohon supaya Yaochijinmu turun ke dunia fana, oleh karena itulah ada kedatangan yang ke tiga di Hualian Taiwan. Sejak saat itu, seluruh Taiwan mulai memeluk Tao. Pada saat itu, semua mengenal Yaochijinmu, banyak orang memuja Nya, kontak yang Beliau berikans angat besar sangat kuat.

Baru-baru ini Mahaguru kita Buddha Hidup Liansheng (師 ( shī )尊 ( zūn )蓮 ( lián )生 ( shēng )活 ( huó )佛 ( fó )) juga mengatakan :

“Buddha dan Bodhisattva kebanyakan adalah sangat lembut, kontak yang diberikan kepada orang – orang juga kurang jelas, kecuali para Dharmapala dan dewa, mereka memberikan kontak yang lebih jelas dan kuat kepada orang-orang. Sedangkan Buddha dan Bodhisattva memberikan tanda-tanda kontak yang lebih samar, kontak yang diberikan kurang nampak, ada kalanya umat tidak menyadarinya. Namun Yaochijinmu tidak sama, kontak batin yang diberikan kepada manusia sangatlah kuat.”

Maka kita semua yang datang ke vihara kita ini, dalam waktu singkat telah memperoleh kontak batin yang demikian kuat. Karena adinata di vihara kita adalah Yaochijinmu. Yaochijinmu sangat welas asih, Beliau ingin memberi kontak batin yang sangat kuat kepada para insan, supaya para insan menyadari keberadaan Buddha Bodhisattva. Mendorong timbulnya keyakinan para insan kepada Buddha, supaya timbul tekad untuk menapaki jalan pembinaan diri.

Kita semua tahu bahwa jalan pembinaan diri adalah sukar, jika tidak mempunyai keyakinan yang kokoh, maka dengan mudah akan putus di tengah jalan. Pelatihan diri ada kalanya juga nampak tidak menarik, maka orang akan sukar untuk selalu tekun melaksanakannya. Buddha Bodhisattva menggunakan berbagai macam metode untuk menyemangati kita, diantaranya adalah memberikan berbagai macam kontak batin kepada kita.

Jika Anda sekalian mempunyai pengalaman kontak batin, maka saya akan turut senang. Karena banyak orang yang telah melatih selama delapan sampai sepuluh tahun, mereka merasa sama sekali tidak ada kontak batin. Namun kita, para siswa yang berada di Aula Dharmadesana Huaguang (天 ( tiān )華 ( huá )光 ( guāng )講 ( jiǎng )堂 ( táng )) ini, baru berlatih satu minggu atau baru satu hari, atau bahkan masih satu kali bersadhana, langsung mengalami kontak batin, ini bisa diperoleh bila Anda mempunyai banyak berkah, sungguh tidak mudah. Seperti Sadhana Ratnakalasa Rajanaga yang kita tekuni beberapa hari yang lalu, kira-kira ada 90% saudara saudari Sedharma yang mengacungkan tangan menyatakan memperoleh kontak batin, ini merupakan hal yang langka. Ini juga membuktikan bahwa Sadhana ini merupakan Sadhana yang sejati, asalkan Anda dengan tulus memohon, maka sadhana ini adalah milik Anda, maka akan manjur untuk Anda. Bagaikan emas sejati tidak takut api membakar, asalkan Anda tekun melaksanakannya, maka pasti ada kontak, dengan adhistana Buddha dan Bodhisattva , Anda akan menapaki jalan pelatihan diri dengan lancar.

Yang paling penting adalah keyakinan awal yang Anda bangkitkan tidak akan mundur. Anda harus bisa melatih diri terus, dimana mulai dalam sehari, kemudian dalam satu minggu, satu bulan, satu tahun, lima tahun, bahkan sepuluh tahun juga terus tetap membina diri. Melatih diri harus mempunyai semangat bagaikan air yang mengalir sampai jauh, barang siapa yang mampu mempertahankannya sampai akhir, maka ia yang akan memperoleh realisasinya. Jangan sampai langkah pertamanya yang cepat, kemudian sebentar saja sudah kehabisan nafas, akhirnya berhenti, begitu berhenti bisa tiga sampai lima tahun, akhirnya melewatkan jodoh dengan sia-sia. 

Kita mulai pengulasan《瑤 ( yáo )池 ( chí )金 ( jīn )母 ( mǔ )養 ( yǎng )正 ( zhèng )真 ( zhēn )經 ( jīng )》, yang mengajarkan kepada kita bagaimana cara melatih diri dengan tekun dan konstan. (tidak berhenti di tengah jalan)

Ini adalah sutra kedua yang saya ulas. Pada saat saya mengulas Sutra Yaochijinmu Metode Pembebasan Melalui Samadhi dan Prajna 《瑤 ( yáo )池 ( chí )金 ( jīn )母 ( mǔ )定 ( dìng )慧 ( huì )解 ( jiě )脫 ( tuō )真 ( zhēn )經 ( jī )》,sepertinya semua mendengarkan dengan antusias. Ini membuat saya berpikir, berikutnya hendak mengulas sutra yang mana, kemudian saya hendak mengulas Satyabuddhasutra《真 ( zhēn )佛 ( fó ) 經 ( jīng )》,tapi ada banyak siswa senior yang mengatakan bahwa sutra ini sudah pernah diulas oleh Mahaguru, jika diulas kembali rasanya sia-sia, maksudnya adalah pengulasan saya tidak akan bisa lebih baik . (tertawa). Setelah mereka mengatakan ini, saya merasa keberanian saya terpukul separuh, kemudian saya memikirkannya kembali dan memutuskan lebih baik tidak usah mencobanya. (tertawa). Kemudian saya teringat Vajrachedikkasutra《金 ( jīn )剛 ( gāng )經 ( jīng )》,sekali lagi saya takut, takut mendadak terlalu mendalam, khawatir ada sebagian orang yang tidak dapat memahaminya. Saya memohon petunjuk Bodhisattva, apakah sebaiknya mengulas Yangzheng zhenjing《養正真經》 ? Beliau menjawab, “Bagus ! Boleh saja.” Maka hari ini saya kembali tampil di sini untuk mengulasnya.

Sutra ini secara garis besar mengajarkan dasar menjadi seorang manusia, sampai menapaki jalan pelatihan diri, semua dijelaskan bertahap kepada Anda. Sutra ini dibagi menjadi lima bagian, dari bagaimana melatih tubuh dan batin, sampai bagaimana penekunan Tao, bagaimana melampaui yang awam dan mencapai kesucian, bagaimana kembali ke asal, terus dijelaskan sampai terakhir yaitu mencapai pencerahan. Saya harap pada saat pengulasan, Buddha Bodhisattva memberi saya inspirasi, dengan demikian kita akan mengulasnya secara bertahap sesuai dengan kehendak Nya, supaya memberikan dorongan semangat dan bantuan bagi Anda sekalian dalam menapaki jalan pelatihan diri.

Menurut sepengetahuan saya, ajaran dari Taoisme berhubungan dengan bagaimana kita menjadi seorang manusia yang sejati, bahwa manusia adalah akar dari Buddha, merupakan dasar bagi Kebuddhaan, jika ingin mencapai Kebuddhaan, maka yang pertama harus dilakukan dengan baik adalah bagaimana menjadi seorang manusia yang sesungguhnya,setelah ini semua dipraktekkan, maka barulah Anda bisa memasuki tingkatan kesucian. Demikianlah Taosime sangat menekankan dasar untuk menjadi manusia yang sesungguhnya, seperti halnya tiga prinsip – lima kebajikan dan delapan moralitas (三 ( sān )綱 ( gāng )五 ( wǔ )常 ( cháng )八 ( bā )德), oleh karena itu dalam bagian pertama dijelaskan bagaimana membina diri. Dari nama sutra ini Yangzheng zhenjing《養正真經》dapat diketahui. Kata Zheng「正」ini berarti kebenaran, pengetahuan benar, pikiran benar, pemahaman benar, penyadaran benar dan perbuatan yang benar, tiada ego, sebuah kebenaran dalam menjunjung langit dan menjadi manusia di atas bumi. Ini adalah salah satu akar pelatihan diri dalam Tao.Bila Anda selalu dalam jalan yang benar, maka barulah chi Anda akan muncul , kesadaran Anda akan berkembang, daya roh Anda akan terang.

Dalam sutra dikatakan : 「養 ( yǎng )性 ( xìng )修 ( xiū )身 ( shēn )。是 ( shì )乃 ( nǎi )人 ( rén )之 ( zhī )大 ( dà )本 ( běn )。」

Pembinaan hati dan pembinaan tubuh jasmani merupakan dasar yang utama bagi manusia. Selain tubuh jasmani, manusia juga mempunyai hati, kita masih mempunyai daya roh, hanya saja tingkatan daya rohnya masih kurang. Jika tingkatan daya roh yang lebih tinggi, ada kalanya daya roh ini lebih tajam. Tiap orang mempunyai daya roh ini, hanya saja ada orang yang lebih terlihat dari luar, juga ada yang lebih tersimpan di dalam. Maka ada orang yang kelihatan memilik vitalitas daya roh yang nampak, ada sebagian orang yang chi nya terlihat ruwet dan tidak jelas,ada juga yang hanya nampak samar-samar.

Dasar sebagai seorang manusia juga sama dengan yang diajarkan dalam Buddhisme, namun karena pembawaan dari tiap orang adalah berbeda, sehingga telah menutup daya roh nya, ada orang yang menutupinya dengan lebih dalam, maka dari luar terlihat kurang tanggap ; Ada yang penutupnya lebih sedikit, ia terlihat lebih hidup, lebih pandai, dari luar kelihatan sangat cerah dan berenergi.

Melatih diri dan membina batin, adalah dasar yang utama sebagai manusia. Hari ini kita bisa dekat dengan Buddha, Bodhisattva, Beliau semua ingin mengajari kita bagaimana menjadi manusia yang sejati, bagaimana mencapai Kedewaan, bagaimana mencapai Kebodhisattvaan dan bagaimana mencapai Kebuddhaan, mengajari kita setahap demi setahap, kita juga harus melakukannya dari dasar kemudian maju secara bertahap, dengan demikian barulah kita bisa mencapai tingkatan yang tertinggi.

(Dalam sutra) Yaochijinmu mengatakan, membina hati dan melatih tubuh, maksudnya adalah tubuh jasmani kita harus sehat, hati kita juga harus baik, ini harus saling melengkapi, tidak bisa hanya melatih tubuh saja. Seperti olahraga senam atau bahkan angkat besi dan memukul sansak, supaya tubuh sekeras tembok baja, dada di pukul berapa kali pun tidak akan terbatuk. Baik sekali olahraga menguatkan tubuh , tapi saat batin tidak pernah dilatih, ia akan berubah menjadi orang kekar namun pemikirannya tidak berkembang. Adakalanya pria atletis yang nampak indah dipandang, justru mudah dibohongi. Olahragawan sangat ahli dalam sebuah kompetisi, karena mereka dilatih untuk berkembang di suatu bidang yang khusus, yang dilatih main bola akan khusus menjadi pemain bola, yang dilatih lari akan khusus dalam bidang atletik, namun sayang sekali jika ini tidak dibarengi dengan pembinaan batin. Maka, kita orang awam yang hendak membina diri, juga harus melatih tubuh jasmani, juga harus memelihara batin kita, batin harus digembleng sampai bercahaya, menjadi sempurna, dengan demikian barulah bisa sempurna luar dalam.

Yaochijinmu Adalah Buddha
瑤池金母是佛

Saat menyepi di Leaf Lake 「葉子湖」sering ada Buddha, Bodhisattva, Pratyeka Buddha, Arahat, Dewa Arupadhatu, Dewa Rupadhatu dan Dewa Kammaloka , datang ke tempat Ku. Yaochijinmu sering datang ke tempat Ku.
Pada suatu ketika, Saya bertanya pada Yaochijinmu , "Apakah Engkau adalah Buddha ? "
Jinmu balik bertanya, "Buddha adalah apa? Apa itu Buddha ?"
Saya mengatakan , "Buddha adalah yang tersadarkan, merupakan Suciwan yang memiliki kesadaran sempurna."
Jinmu kembali bertanya, "Apa yang disadari ?"
Saya menjawab , "Menyadari Anuttara Satyajnana, Menyadari sarvajnana. " 「覺悟無上正等 正智,覺悟一切種智。」 ,
Jinmu kembali bertanya, "Apa itu Anuttara Samyaksambodhi?" 「無上正等正覺,又是什麼?」 ,
jawab Saya, "Pencapaian Pencerahan Buddha adalah tak terperikan, adalah Anuttara, maksudnya adalah kesadaran Sempurna yang Anuttara dan setara di alam semesta, merupakan Buah Ke Buddha an yang sempurna. "
Jinmu bertanya lagi, "Tahukah Kau , bagaimana cara membina sampai merealisasikan buah ke Buddha an ? "
Saya menjawab, "Terlebih dahulu menekuni jalan pembebasan, menekuni Sravakayana dan Pratyeka Buddha yana,dari dukkha, sebab sebab dukha, lenyapnya dukha dan jalan menuju lenyapnya dukha, 12 nidana, Angkasa Dharmadhatu, realisasi Nirvana, Bebas dari kilesha. Kemudian menekuni Bodhisattvayana, mengenali jati diri, membuka mata Buddha, merealisasikan sarvajna. Dari Bodhisattva bhumi awal sampai bhumi ke sepuluh, dari Samyaksambodhi sampai Pencerahan Unggul, selamanya memutus tumimbal lahir, sampai mencapai ke Buddha an."
Jinmu tertawa, "Ini adalah mengenali jati diri, menjadi tuan atas kelahiran dan kematian sendiri."
Jinmu bertanya, "Siapa yang mengajari Mu mengenali jati diri? dan mengatasi lahir mati ? "
Saya menjawab, "Jinmu"
"Jadi siapakah Aku ? "
Saya jawab, "Buddha."
Yaochijinmu mengatakan kepada Saya, apa yang telah dibabarkan oleh Sakyamuni Buddha telah sangat jelas, para insan semua ada benih Buddha. Kammadhatu, Rupadhatu dan arupadhatu semua memiliki benih Buddha, tiap orang punya benih Buddha, asalkan membina diri dalam jalan pembebasan dan Bodhicitta, mencapai tingkatan Anuttara (至高無上的境界), semua bisa mencapai ke Buddha an. Maka tiap orang jangan meremehkan diri sendiri. Kau adalah Buddha, Aku adalah Buddha, kita semua adalah Buddha.

Kenapa Saya mau bertanya, "Yaochijinmu, apakah Engkau adalah Buddha?"
Karena dimata manusia awam, Yaochijinmu adalah demikian :
Yaochijinmu adalah Suciwan kuno, Yaochijinmu adalah Ibu Suri Langit, Yaochijinmu adalah Lao Mu, adalah Bunda yang tak dilahirkan.Yaochijinmu adalah salah satu dari Lima tetua Taoisme (道教五老)
Lima Tetua itu adalah (Donghua Dijun / 東華帝君、Yaochijinmu / 瑤池金母、Huo de / 火 德、Shui de / 水德、Huang Lao / 黃老)
Yaochijinmu adalah dewa alam kammadhatu, Yaochijinmu sepertinya tidak ada hubungannya sedikitpun dengan Buddhisme, sepertinya adalah dewa biasa, dewata dari kalangan kepercayaan rakyat, sperti Dewa Tanah, Pangeran ke 3 Nazha (Santaizi / 三太子)、Wangye / 王爺、Makco / Mazhu niangniang (媽祖娘娘)、Bibi Chen (陳靖姑)、Xuantianshangdi / 玄天上帝、Dadaogong / 大道公 dan lain sebagainya… …
Bahkan ada yang memfitnah Yaochijinmu adalah sesat, adalah diluar jalan, adalah produk hasil dari kepercayaan rakyat.
Namun Yaochijinmu yang Saya puja, tidaklah sama dengan apa yang dilihat oleh orang awam, juga tidak sama dengan apa yang di dengar orang awam, sama sekali tidak sama dengan yang dipikirkan oleh kebanyakan orang.

Dari Sutra Pembebasan melalui Samadhi dan Prajna 「Yaochijinmu Dinghui Jietuo Zhenjing - 瑤池金母定慧解脫真 經」、Sutra Pemeliharaan Kesejatian 「Yaochijinmu Yangzheng Zhenjing --- 瑤池金母養正真經」, kita bisa tahu Pintu Dharma Yaochijinmu sangat luas, bagaikan angkasa meliputi segalanya. Pintu Dharma Yaochijinmu adalah sama dengan Para Buddha Sepuluh Penjuru Tiga Masa, ke atas menapaki jalan ke Buddha an, ke bawah menolong makhluk samsara, Pintu Dharma yang memberikan hasil pada mula dan memberikan hasil pada akhirnya, sama sekali tidak menyimpang.
Menjalankan sila dan kebajikan, menekuni samadhi dan prajna. Merupakan kasih mula Tathgata yang bersifat lokuttara, membuka jalan lurus bagi para insan untuk kembali ke asal. Sembilan alam semua berlindung, Sepulu penjuru memuji...
Saya pernah bertanya pada jinmu , "Mengenali hati apa?"
Jinmu menjawab,"Hati Tathagatagarbha"
"Melihat hati apa?"
Jinmu menjawab, "Sifat sejati yang suci."
Bertanya, "Lahir Mati apa yang disudahi ?"
Yaochijinmu mengatakan, "Tiada lahir dan tiada mati."
mata, telinga, hidung, lidah , tubuh , kesadaran ke 6, Manas , Alaya. Dalam kesadaran alaya tathagatagarbha ada batin sejati, ada benih, mengenali jati diri adalah membuktikan sendiri batin sejati.
Membuktikan sendiri kesunyataan adalah melihat sifat sejati.

Begitu Yaochiijnmu selesai berkata kata, tubuh Nya berubah, perlahan naik ke atas, Saya dan Jinmu tiba tiba menuju jauh sekali, sampai di suatu tempat, tiada matahari , tiada rembulan, tiada siang dan malam, namun selalu bercahaya, hamparan lazuardi, hamparan emas permata, serta sapta ratna. Ada pohon yang bisa bergerak dan indah sekali serta manggala, mengeluarkan bunga yang indah, tiap daun mengeluarkan wewangian. Ada kolam ratna, suara alam yang merdu selalu terdengar, pasirnya adalah intan murni, banyak teratai mustika berbagai warna diatas kolam , wanginya menyebar. Ada gedung gedung 7 permata yang saling berhubungan satu sama lain, lantainya dilapisi jade, dan bercahaya mani.
Alat musik Dharma banyaknya tak terhingga, menampilkan segala suara Dharma, bila suara Dharma memasuki telinga, telinga akan menjadi tenang tenteram dan nyaman, batin memperoleh pembebasan. Tiada keruwetan batin.

Saya bertanya, "Tempat apakah ini?"
Jinmu menjawab, "Kolam mestika (Yaochi-瑤池)
"Bagaimana bila dibandingkan dengan alamnya Amitabha Buddha?"
Jinmu menjawab, "Tidak pasti berbeda, juga tidak berbeda.."
Jinmu memberitahu Saya, "Tempat Para Bodhisattva biasanya sangat indah luar biasa, masih ada yang ribuan bahkan pulah ribu kali melebihi ini, begitu juga dengan iddhi juga ada yang ribuan puluhan ribu kali melebihi, Saya Jinmu menggunakan kekuatan prajna telah sampai bhumi sepuluh, mencapai Samyaksambodhi, bahkan sampai di tempat Buddha berada, beberapa tempat ini hanya bisa diketahui antara Buddha dengan Buddha saja."
"Jinmu dapat menuju tempat Buddha?"
Jinmu menjawab, "Tentu saja."

Jinmu kembali menunjukkan iddhi Nya, tiba tiba sampailah disuatu bhumi, bhumi ini tidak ada pembatas, bersinar melebihi sebelumnya, merasa bahwa emas dan jade hanyalah sebuah pasir, keagungan bhumi ini bagai angkasa, sangat luas tak terbatas, tak terperikan.

Saya bertanya, "Bhumi apakah ini?"
Jinmu menjawab, "Tempat Buddha"

Tiba tiba, Yaochijinmu berubah menjadi tubuh Baghavati, sinarnya memancar jauh sekali, tinggi tubuhnya 60triliun yojana, lingkaran cahaya Nya bagaikan milyaran Trisahasra Mahasahasra Lokadhatu, ini adalah rupa yang sungguh indah mengungguli semua makhluk, ini adalah 32 tanda rupa, 80 kerupawanan, Yaochijinmu mampu menampilkan wujud indah para Tathagata.
Saya sangat kaget, Saya mengatakan kepada Yaochijinmu, "dalam Mahanirvana Sutra dikatakan, Buddha memberitahu kepada Mahakasyapa, 700 tahun setelah Aku Parinirvana, akan ada mara Boju yang merusak Dharma lurus, bagai seorang guru tubuh mengenakan jubah Dharma, demikian juga Mara Boju, akan mengambil rupa biksu biksuni, upasaka-upasika, berubah menjadi anagamin, bahkan Arahat dan Buddha. Rajamara menggunakan wujud yang tidak sempurna menyamar menjadi tubuh Yang Sempurna. Merusak Dharma Ku."
Jinmu menjawab, "Benar."

Jinmu memberitahukan Ku, hendaknya melihat dengan kebijaksanaan, seperti yang dikatakan dalam Sutra Intan, Subbhuti dapatkah menggunakan wujud untuk melihat Tahagata ? tidak Baghavan, tidak bisa mengandalkan rupa untuk melihat Tahagata. kenapa ? yang dimakusd sebagai rupa oleh Tahagata bukanlah rupa. Buddha memberitahukan Subhutti, semua wujud adalah ilusi, bila melihat rupa sebagai bukan rupa, berarti melihat Tahagata.
Jinmu memberitahukan Ku, harus menghindari rupa dan wujud, seperti yang dikatakan dalam Sutra Intan, Oleh karena itu Subbhuti, apakah Buddha bisa dilihat dari 32 tanda rupa ke Buddha an ? Tidak, Baghavan, Tathagata tidak bisa dilihat dari 32 tanda kesempurnaan, kenapa ? Apa yang dikatakan sebagai memiliki 32 tanda kesmpurnaan oleh Tathagata bukanlah memiliki 32 tanda kesempurnaan, hanya saja dinamakan memiliki 32 tanda kesempurnaan. Subhuti, apakah Tathagata bisa dilihat dari kelengkapan tubuh yang dimiliki ? Tidak Baghavan, Tathagata tidak bisa dilihat hanya dari kelengkapan tubuh Nya, kenapa? Yang Tathagata katakan sebagai lengkap tubuhnya , bukanlah lengkap wujud, hanya saja dinamakan tubuh wujudnya lengkap.

Gatha : Bila berdasar rupa melihat Ku, dengan suara memohon Ku, maka orang itu menjalankan kesesatan, tidak akan dapat melihat Tathagata.

Saya mendengar kata kata Yaochijinmu jadi tersadarkan, kesunyataan sejati yang Saya peroleh adalah Kebenaran Satu Satu nya, "Tidak lahir dan tidak mati, tidak panjang dan tidak pendek, bukan satu dan bukan berbeda, tidak datang dan tidak pergi." Saya merealisasikan Tathagatagarbha. Saya memahami segala sesuatu, memahami rupa yang sebenarnya, segala yang menyimpang tak akan dapat mengacau, juga tak akan bisa dihancurkan oleh Dewa Mara, yang Saya peroleh adalah yang dikatakan oleh Buddha, apa yang Saya realisasikan bukanlah hasil pengaruh dari pengelihatan, pendengaran maupun kesadaran.

Saya katakan, "Yaochijinmu adalah Buddha !"
我 說: 「瑤池金母是佛!」
wo shuo, "Yaochijinmu shi Fo!"

《盧勝彥文集第161冊──清涼的一念》
Buku Mahaguru Liansheng ke 161  


Jodoh Antara Liansheng Huofo dan Yaochijinmu
蓮生活佛與瑤池金母的因緣

by lien hua shian

intisari ceramah Mahaguru di bln maret dalam dharmadesana api homa yaochijinmu di rainbow villa

...........Sebentar lagi akan memberikan beberapa abhiseka pada Anda sekalian, 7 Mahasadhana Yaochijinmu 「Yaochijinmu qidafa --- 瑤池金母七大法」、Sadhana Tubuh Pengganti Yaochijinmu 「Yaochijinmu tishenfa --- 瑤池金母替身法」、Sadhana Yaochijinmu Pengabul Kehendak 「Yaochijinmu Manyuan Fa---瑤池金母滿願法」、Sadhana Yidam Yaochijinmu 「Yaochijinmu Benzun Fa --- 瑤池金母本尊法」. Mengenai aneka abhiseka Yaochijinmu ini semua termasuk dalam satu kali abhiseka nanti.
Baru saja kita melakukan api homa Yaochijinmu, yang paling penting adalah penyembuhan penyakit oleh Yaochijinmu, memiliki kekuatan besar, terlebih adalah dalam hal wabah.
Menurut Catatan Kisah Para Dewata Tiongkok, Yaochijinmu sendiri adalah memegang kuasa atas semua dewa wabah. Oleh karena itu bila terjadi wabah penyakit, hendaknya memohon pada Yaochijinmu, ini yang tepat.
Membicarakan pengalaman Saya mengenal Yaochijinmu, itu adalah peristiwa awal dulu. Dewata yang pertama Saya kenal adalah Raja Mahadewa, yaitu Yaochijinmu, perkenalan dengan Yaochijinmu adalah titik balik dalam hidup Saya.
Saat Saya berusia 25 - 26 tahun an, baru saja lulus kuliah dan memasuki dunia kerja.... (Mahaguru menceritakan kembali peristiwa wanita berjubah biru memanggil namanya karena Yaochijinmu sedang mencarinya)...

Kemudian Bibi Guru Linqiandai mengatakan, "Kelak tanggung jawabmu sangat berat, kau harus pergi membabarkan Dharma menyelamatkan para insan. Yaochijinmu telah mencarimu sejak lama ! Karena Kamu ada tanggung jawab untuk menyelamatkan insan."

Saat itu Saya berpikir dalam hati, Saya tidak bisa apa-apa, bagaimana menyelamatkan para insan ? "Kamu bilang menyelamatkan para insan, menyelamatkan insan apa ?" , jawabnya "Insan adalah manusia, Kau harus membabarkan Dharma, menyelamatkan para insan."
"Saya hanya kenal para tentara, Saya adalah tentara." Dia menjawab, "Yaochijinmu mengatakan , apakah Kau ingin naik pangkat ? "
Dia menjawab, "Yaochijinmu mampu membuat Mu dengan lancar terus naik jabatan. Bahkan dapat membantu Mu. Apakah permohonan Mu pada Yaochijinmu ? "
Saya menjawab :"Saya mohon jangan sampai dipindah tugahskan sampai terlalu jauh dari rumah."
Yaochijinmu menjawab, "Baik, Aku janjikan pada Mu ini!"
Maka 10 tahun Saya menjabat di ketentaraan, semua ditempatkan di Taizhong. Semua tidak jauh dari rumah, sehingga memudahkan Saya membabarkan Dharma.

Dalam buku Saya ada tertulis, sejak saat itu , Saya kembali ke asrama dan berbaring diatas ranjang, dari jam 9 malam sampai jam 9 pagi saya tidur memadamkan lampu, pada hari itu telah berkelana ke surga dan neraka.
Di Tanah Suci Saya melihat diri Saya sendiri, ada yang berbisik di telinga, "Dia adalah Kamu." "Lihat dengan jelas, Padmakumara itu adalah Kamu."
Maka esoknya Saya segera memberitahu papa mama , mama Saya agak percaya, sedangkan papa Saya sama sekali tidak percaya, beliau mengatakan "Jika Kau adalah Padmakumara, maka berarti Kau lahir dari teratai." papa Saya membaca Novel Fengshen (penganugerahan Dewa) , beliau mengatakan dalam Fengshen yang lahir dari teratai hanya satu, adalah Nazha atau pangeran ke 3 (哪吒三太子) . Jika Kau adalah Bocah Teratai, maka Aku adalah Tuota Tianwang (托塔天王李靖) (ayah dari Nazha). (Papa Mahaguru saat itu bergurau, karena beliau tidak percaya. Namun saat ini papa dari Mahaguru telah bersarana pada anaknya sendiri, Mahaguru Liansheng) Kejadian ini Saya masih ingat benar...

Saya sendiri sangat bersyukur, termasuk orang yang lebih ke arah perasaan, saat Bibi Guru Qiandai (wanita jubah biru) meninggal dunia, Saya sangat ingin menghadiri upacaranya, namun saat itu Saya masih berada dalam penyepian, maka Saya mengutus beberapa Acarya di Taiwan untuk hadir. Karena sebelum meninggal, Bibi Guru Qiandai telah berpesan, harus minta Acarya Zhenfo zong untuk memimpin penyeberangan arwah bagi dirinya. Yang lalu saat Saya kembali ke Taiwan (setelah penyepian) teristimewa mengunjungi Hualian, datang ke tempat ibdah Yaochijinmu tempat Bibi Guru Qiandai untuk menghormat, juga menemui semua anak dan keluarga Bibi Guru.
Saat muda di Yuhuanggong yang Saya temui adalah Bibi Guru, karena Beliau memanggil nama Saya dan menyuruh Saya beranjali dan berlutut, sejak saat itulah Saya mengenal Yaochijinmu. Yaochijinmu membuka mata dewa Saya, membuat Saya mampu melihat semuanya, sehingga Saya mengalami perubahan dalam hidup.

....Zhenfo zong sekarang ada 5 juta siswa, semua Leizangsi dan cetya dapat tersebar di seluruh dunia, simulai dari nidana Mahaguru di Yuhuanggong, dari Bibi Guru Qiandai, dari Yaochijinmu.

Banyak orang menyebut dirinya sebagai umat agama Buddha yang murni, hanya percaya Buddha, Bodhisattva, menurut mereka, Yaochijinmu adalah kepercayaan rakyat, seorang umat Buddha tidak boleh menganut kepercayaan rakyat. Tapi, Saya tidak dapat melupakan budi jasa Yaochijinmu, karena Yaochijinmu lah yang membuka mata dewa dan memberi petunjuk untuk berguru pada Bikus Liaoming (鳴和尚) dan para Guru lainnya, sampai akhirnya Saya menekuni Mahayana dan kemudian Tantrayana, semua ini dimulai oleh Yaochijinmu.

Maka, Saya tidak dapat mengatakan setelah Saya masuk Mahayana, maka Saya melepas Yaochijinmu. Setelah Saya masuk Tantrayana, Saya melupakan Mahayana. Oleh karen itu, Saya menekankan walau Zhenfo zong meyakini Buddha Dharma, Dharma yang diwariskan Sakyamuni Buddha, Mahayana, Tantrayana, berbagai aliran semua baik, namun satu satunya yang tidak dapat Saya lupakan adalah yang membuat Saya memasuki Pintu Buddha Dharma, ini semua adalah bimbingan Yaochijinmu.
Inilah mengapa kita Zhenfo zong sangat menghormati Yaochijinmu. Hari ini Saya membicarakan mengenai nidana dengan Yaochijinmu, sampai sekarang Saya dan Yaochijinmu telah beryukta. Yaochijinmu juga senantiasa beserta Saya, menyatu dengan Saya, tiap Saya melakukan Dharma apapun, Saya selalu berkontak dengan Yaochijinmu.
Saat itu di Yuhuanggong, juga melihat Amitabha Buddha dan Ksitigarbha. Maka menurut Saya, Yaochijinmu, Amitabha Buddha dan Ksitigarbha Bodhisattva adalah tiga Yidam Saya. Maka saat itu Saya berikrar setelah mencapai keberhasilan, Saya pasti membantu Yaochijijnmu, Amitabha Buddha dan Ksitigarbha Bodhisattva. Maka dari itulah ada Raja Dewata Yaochijinmu, Raja Buddha Amitabha Buddha, Raja Bumi Ksitigarbha Bodhisattva 「 Xianwang Yaochijinmu / 仙王瑤池金母、Fowang Amiduofo / 佛王阿彌陀佛、Diwang Dizang Pusa / 地王地藏菩薩」

Saya sendiri merasa memuja Yaochijinmu dan memuja Buddha sama sekali tidak ada pertentangan. Karena setelah Saya beryukta dengan Yaochijinmu, para Buddha Bodhisattva semua beryukta pula dengan Saya. Saya mampu beryukta dengan semua Dharma, karena Sadhana Yaochijinmu beryukta, maka sadhana lain juga akan beryukta pula.

Mohon Anda pikirkan, sampai sekarang, setelah Agama Buddha dari India, mulai dari agama Buddha awal sampai sekarang, tersebar di Tibet, juga telah saling menyatu dan mempengaruhi dengan kepercayaan asli Tibet sehingga menjadi Buddhisme Tibet. Tibetan Buddhisme ada perbedaan dengan Buddhisme awal di India.
Setelah agama Buddha masuk Tiongkok, juga melebur dengan Taoisme, menjadi Buddhisme Tiongkok. Pada awal Sutra Buddha memasuki Tiongkok, masih menggunakan filsafat Laozi dalam menjelaskan Sutra Buddha. Coba Anda lihat jubah yang dipakai oleh biksu Buddhisme Tiongkok, juga tanda sila yang di titik kan di kepala, semua itu tidak ada pada jaman Sang Buddha. Buddhisme di tempat lain tidak ada yang memakai tanda titik sila (ket : hio panas yang disentuhkan di kepala untuk membuat tanda) . Setelah Buddhisme masuk ke Korea menjadi Buddhisme Korea, kemudian Buddhisme Tiongkok dan Korea masuk ke Jepang menjadi Buddhisme Jepang. Upacara Buddhisme jepang, tata cara nya juga , tidak peduli itu Mahayana maupun Tantrayana, tidak sama dengan Buddhisme Tiongkok. ...
Maka Mahaguru Lu juga mensinkretisme kan Yaochijinmu dengan Buddhisme, menjadi ciri Buddhisme Mahaguru Lu. Dalam hal ini tidak ada kesalahan apapun. Tahukah Anda? dalam Buddhisme Tibet banyak sekali dewa pelindungnya adalah Dewa Gunung Tanggula (唐古拉山) , juga 5 Dewi Panjang Usia, Mahasri Devi, Mahakala Putih, semua itu awalnya adalah kepercayaan di Tibet. kemudian bersinkretisme dengan Buddhisme berubah menjadi Buddhisme Tibet.
.........
Buddhisme menyebar ke Taiwan, salah satu garis sislsilah nya ada Yaochijinmu, merupakan sinkretisme antara kepercayaan setempat dengan Buddhisme. Inilah Buddhisme Taiwan Lushengyan, jadi Saya rasa sama sekali tidak bertentangan. ...
Maka bila kita menengok sejarah Buddhisme, kemana Buddhisme menyebar, pasti bersinkretisme dengan kepercayaan setempat.
Apakah agama Buddha yang paling murni itu ?
Karena masa Sakyamuni Buddha, jubah yang dipakai oleh Buddha dan jubah yang dipakai oleh para Arahat, jubah yang dipakai para siswa, sampai sekarang semua tidak sama.
Pakaian , makanan minuman, gaya hidup dan kebiasaan semua telah mengalami perubahan, semua mengalami perubahan.

Maka, tidak ada yang boleh maupun tidak boleh, asalakan kita memiliki sraddha pada BUddha Dharma dan tidak meninggalkan Buddha Dharma, maka Anda adalah Buddhisme yang murni.

Coba lihat, kita orang Tionghoa sangat memuja Yaochijinmu, Raja Dewata kita Yaochijinmu, Beliau juga memahami Buddha Dharma. Kita semua orang boleh menekuni Dharma, jadi mengapa para dewata tidak boleh menekuni juga ?

Maka seperti halnya Buddhisme India, bukan hanya ada Buddha saja, saat itu juga ada Dewi Gangga (恆河女神),juga ada banyak Dakini (空行母).
Dalam Buddhisme india juga ada tercampur dengan Dewa Dewi agama Hindu, seperti Brahma Dewa Pencipta (大梵天) , Visnu Dewa Pelindung (遍淨天), Mahamahesvara Dewa Perusak (大自在天) .
Kenapa Buddha senidri mensinkretisme kan Buddhisme dengan Hinduisme ? Karena Buddha tahu, harus ada hati ingin melampaui fana 「chulixin / 出離心」,Bodhicitta 「Putixin / 菩提心」,Madhyamika 「Zhongguan / 中觀」dan Yogacara 「Weishi / 唯識」.

Asalkan tidak melenceng dari melampaui fana 「出離心」、Bodhicitta 「菩提心」、Madhyamika 「中觀」dan Yogacara 「唯識」,ini adalah Buddha Dharma.

Tuesday, August 19, 2014

Ma Zu - Tian Shang Sheng Mu



Ma Zu - Tian Shang Sheng Mu


Tian Shang Sheng Mu [Thian Sang Sen Mu / Thian Siang Sing Bo] dikenal dengan sebutan Ma Zu [Mak Co] atau Tian Hou. Tian Shang Sheng Mu adalah seorang wanita yang pernah hidup di daerah Fujian, tepatnya di Pulau Mei Zhou [Meizhou] dekat Pu Tian. Nama aslinya Lin Mo Niang [Lim Bik Nio].  Ayahnya Lin Yuan pernah menduduki jabatan sebagai pengurus di Propinsi Fujian.
Karena kehidupan yang sederhana dan gemar berbuat kebaikan, orang menyebut diriNya sebagai Lin San Ren, yang berarti Lin orang yang baik. Lin Mo Niang dilahirkan pada masa pemerintahan Kaisar Tai Zu dari Dinasti Song Utara, tahun Jian-long pertama, tanggal 23 bulan 3 Imlek, tahun A.D. 960.
Selama sebulan sejak dilahirkan, Ia tidak pernah menangis sama sekali. Sebab itulah sang ayah memberi nama Mo Niang kepadaNya. Huruf “mo” berarti diam.  Sejak kecil Lin Mo Niang telah menunjukkan kecerdasan yang luar biasa. Pada usia 7 tahun Ia telah masuk sekolah dan semua pelajaran yang telah diterima tidak pernah dilupakan.
Kecuali belajar, Ia juga tekun sekali bersembahyang. Ia sangat berbakti pada orang tua dan suka menolong tetangga-tetangga yang sedang ditimpa kemalangan. Sebab itu penduduk desa sangat menghormatiNya.
Kehidupan di tepi laut menempa dirinya menjadi seorang gadis yang tidak gentar menghadapi dahsyatnya gelombang dan angin taufan yang menghantui para pelaut. Selain itu, Ia dapat juga menyembuhkan orang sakit. Kemahirannya dalam pengobatan ini menyebabkan orang-orang di desa menyebutNya sebagai Ling Nu (gadis mukjijat), Long Nu (gadis naga) dan Shen Gu (bibi yang sakti).
Dalam legenda diceritakan bahwa pada usia 23 tahun, Ia berhasil menaklukkan 2 siluman sakti yang menguasai pegunungan Tao Hua Shan. Kedua siluman itu adalah Qian Li Yan yang dapat melihat sejauh ribuan li, dan Sun Feng Er yang dapat mendengar ribuan pal. Setelah dikalahkan akhirnya mereka menjadi pengawalNya.
Pada usia 28 tahun, yaitu pada masa pemerintahan Kaisar Tai Zong, tahun Yong-xi ke-4, tanggal 16 bulan 2 Imlek, bersama sang ayah, Ia berlayar. Tapi di tengah jalan perahunya dihantam gelombang dan badai lalu tenggelam. Tanpa memperdulikan keselamatan dirinya sendiri, Ia berusaha menolong sang ayah.
Tapi akhirnya keduanya tewas bersama-sama. Sebuah versi lain mengatakan bahwa Ia tidak tewas tetapi “diangkat ke langit” bersama raganya. Dikisahkan bahwa pagi itu, penduduk Meizhou melihat bahwa awan warna-warni sedang menyelimuti pulaunya. Di angkasa terdengar musik yang sangat merdu dan terlihat Lin Mo Niang perlahan-lahan naik ke angkasa untuk dinobatkan menjadi Dewi.
Penduduk dengan tulus hati lalu mendirikan sebuah kelenteng di tempat Lin Mo Niang diangkat ke surga setahun kemudian. Kelenteng yang didirikan di Meizhou ini merupakan kelenteng Tian Shang Sheng Mu yang pertama di Tiongkok.
Pada masa Dinasti Song, perdagangan maritim dari Propinsi Fujian sangat berkembang. Tapi para pelaut sadar bahwa hidup di tengah lautan selalu penuh dengan mara-bahaya yang bisa mengancam setiap saat. Untuk memohon perlindungan dan keselamatan, mereka menganggap Lin Mo Niang sebagai Dewi Pelindung Pelaut. Dan kemana-mana patungNya selalu dibawa serta.
Keselamatan mereka dalam pelayaran dianggap anugerah dan perlindungan dari Dewi ini. Dan kisah-kisah tentang pemunculan sang Dewi dalam memberi pertolongan pada para pelaut mulai satu-persatu tersebar.
Pada tahun 1122 M, Kaisar Song Hui Zong memerintahkan seorang menteri bernama Lu Yun Di untuk menjadi duta ke negeri Gaoli (Korea sekarang). Dalam perjalanan rombongan ini dihantam badai. Dari 8 buah kapal yang ada, 7 buah tenggelam. Hanya kapal yang ditumpangi oleh Lu Yun Di saja yang terselamatkan. Sang Duta heran bukan main.
Ia bertanya kepada para anak buahnya, siapakah Dewa yang menyelamatkan mereka. Di antara pengiringnya itu ada seorang yang kebetulan berasal dari Pu Tian dan biasa bersembahyang kepada Dewi Lin Mo Niang ini. Ia lalu mengatakan pada Lu Yun Di bahwa mereka diselamatkan oleh Dewi Lin Mo Niang yang berasal dari Pulau Meizhou. Lu Yun Di lalu melaporkan hal ini pada Kaisar Song Hui Zong.
Sebagai rasa penghormatan sang Kaisar memberi gelar “Sun Ji Fu Ren” kepada Lin Mo Niang dan sebuah papan bertuliskan “Sun-ji” yang berarti “pertolongan yang sangat dibutuhkan”, hasil tulisan tangan sang Kaisar sendiri lalu dipasang di kelenteng di Meizhou.
Sejak dari masa Dinasti Song sampai Qing, tidak kurang dari 28 gelar kehormatan yang dianugerahkan oleh kerajaan kepada Lin Mo Niang. Gelar-gelar itu antara lain adalah Fu Ren (Nyonya Agung), Tian Hou atau Tian Fei (Permaisuri Surgawi), Tian Shang Sheng Mu (Bunda Suci dari Langit) dan Ma Zu Po (Bunda Ma Zu).
Sejak jaman Song itulah, di kota-kota utama sepanjang pantai Tiongkok timur yang memanjang dari utara ke selatan seperti Dandong, Yantai, Qinhuangdao, Tianjin, Shanghai, Ningpo, Hangzhou, Fuzhou, Xiamen, Guangzhou, Macao dan lain-lain bermunculan kelenteng-kelenteng yang memuja Dewi Pelindung Pelaut ini.
Tian Shang Sheng Mu ( ) sudah menjadi pujaan para pelaut dari seluruh negeri, tidak lagi terbatas bagi mereka yang berasal dari Meizhou saja. Sudah menjadi kebiasaan pada saat itu, sebelum pelayaran dimulai akan diadakan sembahyang besar untuk memohon perlindunganNya. Pada tiap-tiap kapal pun selalu disediakan ruang pemujaan untuk patungNya.
Gelar “Tian Fei” dianugerahkan kepada Tian Shang Sheng Mu oleh Kaisar Yong Le.
Kira-kira pada masa Dinasti Ming, bersamaan dengan semakin banyaknya penduduk Propinsi Fujian yang pergi merantau, pemujaan terhadap Tian Shang Sheng Mu memasuki Pulau Taiwan. Kelenteng tertua Tian Shang Sheng Mu di Taiwan adalah terdapat di kota Magong, Kepulauan Penghu.
Dewasa ini di Taiwan terdapat tidak kurang dari 800 buah kelenteng Tian Shang Sheng Mu. Dan hampir dua per tiga penduduknya memuja arcaNya di dalam rumah. Kelenteng Tian Shang Sheng Mu yang paling ramai dikunjungi orang dan mungkin terbesar di Taiwan adalah di Beigang. Patung yang dipuja di sini berasal dari Meizhou yang dibawa ke sana pada tahun ke-33 pemerintahan Kaisar Kang Xi.
Gelar kehormatan Tian Hou adalah juga anugerah dari Kaisar Kang Xi ini, karena dianggap telah melindungi keselamatan rombongan utusan kerajaan Qing yang sedang berlayar menuju Taiwan.
Tiap tahun bertepatan dengan hari kelahirannya yang jatuh pada tanggal 23 bulan 3 Imlek, ratusan ribu warga Taiwan membanjiri kota ini untuk bersembahyang.
Tempat sembahyang Tian Shang Sheng Mu, bersamaan dengan menyebarnya para perantau Tionghoa ke berbagai tempat, juga bermunculan di banyak negeri. Di negeri seperti Jepang, Amerika Serikat, Singapura, Malaysia, Indonesia, Philipina dan lain-lain; dimana banyak bermukim para Tionghoa perantau banyak dijumpai kelenteng dan patung Tian Shang Sheng Mu.
Di Jepang, pemujaan Tian Shang Sheng Mu diperkirakan mulai ada pada akhir Dinasti Ming. Di salah satu kota kecil di Jepang yang dalam bahasa Tionghoa disebut Sui-hu, Tian Shang Sheng Mu telah dimasukkan dalam jajaran Dewata Jepang dan dipuja di kuil utama kota itu. Jepang terdapat tidak kurang dari 100 buah kuil Tian Shang Sheng Mu.
Pada tanggal 31 Oktober 1987, bertepatan dengan hari wafatnya Tian Shang Sheng Mu yang ke 1000, dilangsungkan upacara peringatan besar-besaran di Mei-zhou.
Di antara khalayak yang berbondong-bondong itu terdapat beberapa ratus warga Taiwan yang mengkhususkan diri untuk hadir di situ, sekaligus melampiaskan keinginannya untuk mengunjungi dan bersembahyang ke kelenteng leluhur. Banyak di antara mereka yang membawa patung Tian Shang Sheng Mu dari Taiwan untuk disembahyangkan di sana, dalam upacara yang disebut “Tian Shang Sheng Mu pulang ke kampung halaman”.
Juga tidak sedikit yang membawa pulang patung-patung Tian Shang Sheng Mu yang disediakan oleh kelenteng Tian Shang Sheng Mu untuk dipuja di Taiwan. Dalam kesempatan itu juga diadakan seminar yang dihadiri oleh kurang lebih 60 orang ahli sejarah untuk membahas segala sesuatu yang berkaitan dengan pemujaan Tian Shang Sheng Mu.
Kemudian diadakan pula upacara peletakan batu pertama untuk pembangunan patung peringatan untuk Tian Shang Sheng Mu dan pembukaan selubung untuk miniaturnya, di puncak bukit Mei-Feng Shan di tengah pulau itu.
Dua belas orang dari wakil-wakil perantau Tionghoa dari luar negeri, Taiwan, Hongkong dan Macao melakukan acara timbun tanah untuk pondasi patung tersebut.
Tian Shang Sheng Mu
Pada tanggal 23 bulan 3 Imlek tahun A.D. 1989, bertepatan dengan hari kelahiran Tian Shang Sheng Mu, patung Dewi Pelindung Pelaut yang sangat dihormati itu sudah berdiri tegak di puncak Mei-feng Shan menghadap ke Selat Taiwan.

Mengenai mengapa Tian Shang Sheng Mu disebut Ma Zu (Ma Couw) atau Ma Zu Po (Ma Couw Po), dalam buku Tian Shang Sheng Mu Jing  atau kitab pujian kepada Tian Shang Sheng Mu disebut seperti ini :
“Pada Dinasti Tang ada seorang pendeta suci yang disebut Dao Yi Chan Shi (To It Sian Su), beliau bernama Ma Zu”.  Sheng Mu yang hidup pada jaman Dinasti Song adalah penitisan dari Ma Zu yang hidup pada jaman Dinasti Tang ini. Hanya kemudian huruf  “Ma” pada nama keluarga pendeta Ma Zu diganti dengan huruf “Ma” yang berarti Ibu, agar sesuai dengan Sheng Mu yang berarti “Ibu yang suci”.

Dari sinilah sebutan Ma Zu berasal.
Tian Shang Sheng Mu  selalu ditampilkan sebagai Dewi yang cantik dan berpakaian kebesaran seorang permaisuri, dan dikawal oleh kedua iblis yang pernah ditaklukkan, yaitu Qian Li Yan (Si Mata Seribu Li) dan Sun Feng Er (Si Kuping Angin Baik).
Qian Li Yan dapat melihat jauh sekali, berkulit hijau kebiru-biruan, mulutnya bertaring, senjatanya tombak.
Sun Feng Er berkulit merah kecoklatan, mulutnya juga bertaring, bersenjata kapak bergagang panjang, dan dapat mendengar sampai jauh sekali.