嗡。古魯。蓮生。悉地。吽 - Om Guru Lian Sheng Siddhi Hum

嗡。古魯。蓮生。悉地。吽 - Om Guru Lian Sheng Siddhi Hum

Thursday, September 18, 2014

Api Homa

Makna dan Kebajikan Homa
Dalam Tantrayana, persembahan api homa menempati posisi yang sangat penting. Baik dalam Tantra Tibet, Tantra Timur maupun dalam Tantra Cina, semuanya sangat penting. Terutama dalam Tantra Timur, homa ditempatkan sebagai suatu metode Dharma yang sangat penting. Harus berlatih lebih dahulu "Yoga Delapan Belas Jalur", kemudian menyelesaikan "Prosedur Penjapaan Garbhakosadhatu" dan "Prosedur Penjapaan Wajradhatu". Terakhir, baru boleh berlatih "Metode Agung Homa". Homa adalah tataran yang cukup tinggi dan terakhir dari keempat Metode Utama Pelatihan Tantra Timur.

Homa merupakan metode utama pencapaian siddhi dalam Tantrayana.
Dalam Tantra Timur, setiap Acarya harus menyelesaikan dulu upacara homa sebanyak 100 kali, 200 kali, bahkan 500 kali, barulah memenuhi syarat sebagai Acarya.
Oleh karena itu homa sangat penting sekali.

Mengapa pelaksanaan homa begitu penting? Karena melakukan homa sama saja dengan melakukan persembahan. Persembahan yang lazim anda berikan hanyalah persembahan kecil. Misalnya memberi persembahan sebuah pisang, mempersembahkan sebuah lilin, menyalakan beberapa batang dupa. Sedangakan untuk melangsungkan sekali upacara homa, identik dengan memberi persembahan selama setahun, bahkan 10 tahun. Dalam hal menambah kesejahteraan dan menambah kearifan, merupakan suatu metode yang sangat efektif.

Buddha Shakyamuni bersabda kepada siswanya: "Persembahan api dapat mengubah nasib, mentransformasikan semua urusan, terutama berdasarkan kekuatan samadhi diri sendiri ditambah dengan bantuan adhisthana dari para dewa."

Saat kita melakukan homa, setiap dewa akan datang membantu persembahan api ini, 12 Dewa, 28 Dewa, 33 Dewa, Dewa Sakra, Dewa Mahabrahma dan lain sebagainya, semuanya mungkin saja datang memberi bantuan dan sokongan. Oleh karena itu, homa merupakan upaya pemunculan fenomena "manunggaling kawula gusti" yang bersandar pada "daya sokongan para dewa serta kekuatan samadhi dari Tantrika", dapat menghasilkan kekuatan siddhi (pencapaian) yang sangat besar.

Api homa juga memiliki makna yang sangat penting:
Api homa melambangkan "kekuatan pikiran". Pikiran manusia memiliki wujud yang sangat mirip dengan api. Ini merupakan rahasia besar.

Api homa melambangkan penerangan, dapat menyingkirkan segala kegelapan dan kebodohan (kegelapan batin).

Api homa melambangkan pembersihan, membakar habis semua kekotoran batin dan rintangan.

Api homa melambangkan kearifan. Api merupakan simbol dari kearifan.

Api homa melambangkan penghormatan kepada dewa, merupakan persembahan yang sangat istimewa, dapat menambah kesejahteraan.

Api homa melambangkan nirwana.

Kebajikan dari api homa besar sekali. Sadhaka Satyabuddha yang melaksanakan homa, dapat memperoleh penerangan dan kesucian, melenyapkan rintangan kegelapan batin, menyingkirkan karma buruk serta kekotoran batin, menambah kesejahteraan, meningkatkan kearifan. Kekuatan pikiran dan daya kemampuan batin diri sendiri pun akan bertambah dan meningkat dengan sendirinya.

Pencapaian pelaksanaan homa dapat dibagi menjadi 3 tingkatan:
  1. Pencapaian superior------bagai sang Maharesi Widyadhara, melesat dan mengembara di angakasa dengan leluasa.
  2. Pencapaian medium-----memperoleh daya kemampuan batin yang besar, dapat menghilangkan wujud, menyembunyikan jejak.
  3. Pencapaian inferior--- menolak bala, menambah kesejahteraan, merukunkan, menaklukan dan sebagainya, memperoleh pencapaian Karman, memenuhi semua permohonan duniawi.

Adhinatha dan Fungsi Homa
Dalam situasi apa harus melaksanakan homa?

Metode homa merupakan metode Karman yang bersifat duniawi. Keempat Karman Utama yakni Santika, Paustika, Wasikarana dan Abhicaruka, semuanya dapat diterapkan dalam homa.
  • Santika----menolak bala. Menyingkirkan anekan malapetaka, melenyapkan berbagai perselisihan dan penuntutan, mengobati bermacam-macam deraan penyakit, melenyapkan karma buruk, dosa berat, kekotoran, dan rintangan batin.
  • Paustika---menambah kesejahteraan. Memohon rejeki, memohon harta kekayaan, memohon keberhasilan dalam berdagang, minta rumah dan mobil, minta kenaikan gaji, minta kenaikan pangkat, minta panjang umur, minta kedudukan baik.
  • Wasikarana---merukunkan. Menyempurnakan semua hubungan antara manusia, meningkatkan hubungan baik antar manusia, membuat agar orang menghormati dan menyayangi Anda, minta jodoh, mohon kerukunan suami istri seta keluarga, memohon disayangi atasan mendapatkan kenaikan karier atau promosi.
  • Abhicaruka---manaklukan. Menundukkan pihak lawan, mematahkan niat dan pikiran jahat pihak lain membuatnya berpaling kepada kebaikan serta beriman kepada Buddha. Titik tolak dari pelaksanaan sadhana ini adalah cinta kasih.

(Tatacara Empat Karmawan Utama dapat dililhat dalam buku "Penerangan Saat Berkepala Gundul")

Akarsana (mengait) kerapkali digabungkan dengan Wasikarana.

Selain itu sebelum dan sesudah retret harus melaksanakan homa, memohon kelancaran dan keberhasilan retret.

Memohon perlindungan diri---saat memohon para dewa untuk datang melindungi Tantrika, harus melaksanakan homa.

Memohon agar gangguan Mara disingkirkan----bila ada yang sakit ditimbulkan gangguan mahluk halus, karma penyakit datang melanda, kebajikan tidak cukup, Dharmapada tidak hadir, harus melaksanakan homa.

Memohon para dewa melindungi dan menyokong upacara---sebelum dan sesudah upacara, memohon para dewa datang memberkati, harus melaksanakan homa.

Memohon adhisthana silsilah----ingin mendapatkan kontak (yoga) dalam sadhana, memohon daya adhisthana silsilah, mengadhisthana Anda agar berhasil dalam ber sadha-na, harus melaksanakan homa.

Memohon ketentraman dan kedamaian suatu lokasi----homa terbesar dapat menenteramkan pergolakan disuatu lokasi. Misalnya perang antar dua negara. Atau bencana alam dan malapetaka di suatu teritorial.

Memohon peingkatan kekuatan batin----melaksanakan homa dapat meningkatkan kesejahteraan seseorang, dapat meingkatkan kearifan; bila kebajikan (kesejahteraan) dan kearifan bertambah, itu sama saja dengan peningkatan kekuatan batin. Melenyapkan rintangan kegelapan batin, memperoleh cahaya kesucian.

Yang lainnya seperti peringatan para mahluk suci, abhiseka, pendoaan arwah (Chau Tu), pembangunan Vihara, memohon keramahan cuaca dan lain sebagainya, semuanya dapat melaksanakan homa.

Manfaat homa banyak sekali, keberhasilannya pun besar sekali.

Dalam Tantrayana ada ketentuan, setiap homa harus memiliki Adhinatha (mahluk suci yang diutamakan). Masing-masing sekte dalam Tantrayana pun memiliki Adhinatha Homa yang berbeda-beda.

Adhinatha Homa dalam aliran Satyabuddha adalah:
  • Santika(Si Cai Fa)-----Awalokiteswara sebagai Adhinatha. Karena pertolongannya yang penuh welas asih.
  • Paustika(Cen Yi Fa)---Jambhala(Dewa Waisrawana) sebagai Adhinatha. Karena kerelaanya untuk membantu dalam hal harta kekayaan.
  • Wasikarana(Cin Ai Fa)-----Bhagawati Cundi sebagai Adhinatha. Karena antusiasnya dalam hal menganyomi.
  • Abhicaruka(Siang Fu Fa)---Padmasambhawa atau Acalanatha sebagai Adhinatha. Karena keperkasaan dan kemampuan penaklukannya.
  • Memohon adhisthana silsilah---Mula-Acar ya (Pamakumara Putih) sebagai Adhinatha. Merupakan sumber/ akar adhisthana, mengadhisthana agar berhasil dalam sadhana.
  • Memohon kesejahteraan-----Padmakumara Putih sebagai Adhinatha, atau Jambhala sebagai Adhinatha.
  • Sebelum dan sesudah retret------Acalanatha atau Yamantaka sebagai Adhinatha, atau Catur Maharajakayika(Empat Raja Surgawi) sebagai Adhinatha.
  • Memohon penyembuhan sakit--------Tathagata Bhaisajyaguru(Buddha Pengobat) sebagai Adhinatha.
  • Memohon perlindungan diri------Acalanatha Widyaraja atau Catur Maharajakayika atau Yamantaka sebagai Adhinatha.
  • Memohon panjang umur-----Buddha Amitayus(Buddha Panjang Umur) atau Tara Putih sebagai Adhinatha.
  • Memohon agar gangguan Mara disingkirkan, penyakit yang ditimbulkan mahluk halus atau penyakit kejiwaan disembuhkan------Acalanatha atau Yamantaka(Pemimpin Dewa) sebagai Adhinatha.
  • Memohon lindungan dari para dewa---------Catur Maharajakayika sebagai Adhinatha.
  • Mendoakan para arwah (Chau Tu)---------Bodhisatwa Ksitigarbha atau Buddha Amitabha atau Padmakumara Putih sebagai Adhinatha.
  • Memohon peningkatan batin-----Mula Acarya( Padmakumara Putih) sebagai Adhinatha.

Selain itu ada "Dua Puluh Satu Tara", misalnya "Tara Penumbuh Kebajikan dan Kearifan", "Tara Penyelamat Bencana Pengurungan", "Tara Penyelamat Bencana Angin", "Tara Penyelamat Bencana Angin", "Tara Penyelamat Bencana Peperangan", "Tara Penyelamat Bencana Air" dan sebagainya, semuanya dapat dipilih sebagai Adhinatha Homa.

Homapun dapat digabungkan dengan Catur Karman Utama Guruyoga, Mengambil Padmakumara Putih sebagai Adhinatha untuk melakukan penolakan bala, peningkatan kesejahteraan, perukunan dan penaklukan, empat urursan.

Dalam homa jenis apapun, selain memberi persembahan kepada Adhinatha dan kerabatnya, juga harus memberi persembahan kepada Krodha (Dharmapala berwajah murka) serta para dewa Pelindung Dharma. Ini penting sekali.

Peralatan Homa
Menurut peraturan kuno Tantrayana, perlengkapan homa, jenisnya banyak sekali. Santika, Paustika, Wasikarana dan Abhicaruka, peralatanya tidak sama, cara penggunaanyapun masing-masing berbeda.

Aliran Satyabuddha adalah Tantrayana yang paling cocok untuk orang-orang zaman sekarang. Bilal perlengkapan homa Tantrika Satyabuddha dapat sesuai dengan perlengkapan kuno tentu saja baik sekali. Tetapi bila tidak dapat sepenuhnya mengikuti peraturan kuno, harus melakukan penyesuaian, tidak perlu meniru cara kunko secara kaku, disesuaikan agar sebanyak mungkin siswa Satyabuddha dapat memparaktekkannya.

Perlengkapan Homa Tantrika Satyabuddha harus memperhatikan dua prinsip utama:
  1. Yang diuatmakan adalah praktis, tidak melenceng dari fungsinya.
  2. Elok dan luwes, tidak melupakan keanggunan.

Umumnya, perlengkapan dasar yang dipakai dalam pelaksanaan homa Tantrika Satyabuddha meliputi:
  • Meja homa----digunakan sebagai altar homa(paling baik menggunakan bahan anti api).
  • Tungku homa----untuk pembakaran bahan persembahan homa(terbuat dari tembaga atau besi cor).
  • Wadah homa (mangkuk, piring, nampan)-----digunakan untuk menampung bahan persembahan (terbuat dari tembaga atau produk stainless-steel, atau produk keramik yang tahan terhadap suhu tinggi).
  • Sepit homa, cedok(sauk) homa------untuk menjepit atau mencedok bahan persembahan lalu dimasukkan ke dalam tungku (terbuat dari tembaga atau produk stainless-steel).
  • Tongkat Wajra----untuk melakukan sima-badhana dengan mengetuk ke-empat penjuru.
  • Wajraghanta dan Wajra.

Bahan Persembahan Homa
Cakupan jenis bahan persembahan homa luas sekali. Yang utama adalah kayu homa, madu, susu, minyak nabati, daun the, dupa, serbuh cendhana, parfum, wijen putih, wijen hitam, gula putih, lima jenis padi-padian, kacang aneka warna, berbagai jenis biskuit, aneka kembang dan buah-buahan.

Bahkan semua bahan makanan dan busanapun dapat dijadikan bahan persembahan.
  • Pakaian----memberi persembahan kepada tubuh Adhinatha.
  • Makanan-----memberi persembahan kepada mulut Adhinatha.
  • Urapan Wangi-----memberi persembahan tubuh Adhinatha.
  • Kembang-----memberi persembahan kepada tangan Adhinatha.
  • Teh dan minuman ---memberi persembahan pada seputar Adhinatha.
Ini hanya sekedar contoh bahan persembahan yang berbeda-beda.

Pemilihan kayu homa, termasuk hal yang cukup penting. Dalam peraturan kuno, banyak sekali batasan-batasan terhadap kayu homa, cukup ketat. Santika (Si), Paustika (Cen), Wasikarana ( Huai) dan Abhicaruka (Shu), keempat Karman, kayu homa dari setiap jenis Karman ini ditetapkan menggunakan bahan yang tidak sama, tempat penghasilnya tidak sama, warnanya tidak sama dan lain sebagainya.

Misalnya menurut peraturan kuno, Santika harus menggunakan kayu cendana putih, atau kayu yang menghasilkan getah putih yang ditanam di tempat kelahiran orang suci. Paustika menggunakan kayu yang menghasilkan getah kuning yang ditanam di istana kerajaan. Wasikarana menggunakan kayu cendana merah atau kayu yang menghasilkan getah merah. Abhicaruka menggunakan kayu cendana hitam, atau kayu hitam produk pohon yang mati mengering atau yang ditanam di bekas medan perang atau pejagalan.

Kalau mau menuruti peraturan kuno ini, kebanyakan sangat sulit diperoleh.

Dalam menyiapkan kayu homa kita berusaha memenuhi peraturan kuno, tetapi dengan penyesuaian dengan zaman modern, kita menerapkan cara-cara yang memudahkan agar lebih banyak lagi Tantrika Satyabuddha dapat mempraktekkan homa.

Asal menghasilkan getah, teksturnya bersih, tidak bengkok, tidak retak tidak cacat tidak berlubang, tidak lapuk digerogoti ulat, memilki panjang 23 cm (7 chun). Ujung dan pangkal memiliki lebar yang sama. Ketebalan tidak dibatasi.

Dalam Santika, digunakan kayu yang agak putih, dicelupkan dalam susu ( atau madu ) yang berwarna putih.

Dalam Paustika, digunakan kayu yang agak kuning, dicelupkan dalam madu berwarna kuning.

Dalam Wasikarana, digunakan kayu yang agak merah, dicelupkan dalam minyak nabati (atau madu) berwarna merah.

Dalam Abhicaruka, digunakan kayu yang agak hitam, dicelupkan dalam tinta hitam atau cairan anggur berwarna ungu kehitaman.

Yang demikian sudah dianggap sesuai dengan peraturan.

Bahan persembahan yang lain, dalam Santika, Paustika, Wasikarana, dan Abhicaruka, juga dibedakan berdasarkan warna:

Santika----diutamakan yang berwarna putih. Misalnya wijen putih, biji sawi (mustard) putih, susu putih, kembang putih, madu putih, gula putih, beras putih, kacang berwarna putih, kuaci putih, buah berwarna putih, biskuit/kue yang agak putih dan lain sebagainya. Dalam homa untuk tujuan pengobatan, boleh memberi persembahan obat-obatan.

Paustika----diutamakan yang berwarna kuning. Misalnya kacang berwarna kuning, madu kuning, gula kuning, dupa berwarna kuning, serbuk cendana (berwarna kuning), kembang kuning, biskuit berwarna kuning, gandum, jelai(barli), malt-sugar (maltosa/mai-ya-thang), minyak kacang tanah, roti, buah berwarna kuning dan sebagainya.

Wasikarana---diutamakan yang berwarna merah. Misalnya kacang merah, beras merah, dupa merah, minyak goreng berwarna merah, kembang merah, buah berwarna merah, semua makanan berwarna merah seperti bakso/ronde merah dan sebagainya.

Abhicaruka-----diutamakan yang berwarna hitam. Misalnya kacang hitam, wijen hitam, beras hitam, jus warna ungu kehitaman, dupa hitam, serbuk cendana hitam, kembang warna ungu atau biru, buah berwarna hitam (misalnya pir berwarna hitam, anggur hitam), kembang berduri (misalnya mawar), semua makanan berwarna hitam (misalnya cincau, pasta wijen dan sebagainya).

Pilihan bahan persembahan luas sekali, asal makanan atau barang yang bermakna dapat dipersembahkan.

Waktu sedang membakar homa, semua bahan persembahan, setiap macam harus dibayangkan berubah banyak sekali laksana samudra, memenuhi alam semesta. Bahan persembahan yang dapat terbakar diusahakan semua dimasukkan ke tungku. Setiap bahan bersembahan yang dimasukkan ke tungku, sebelumnya harus divisualisasikan seperti yang telah disinggung terdahulu.

Setiap jenis buah-buahan atau roti, setelah divisualisasi, diiris sehelai kemudian dimasukkan ke tungku untuk dibakar.

Semua cairan yang tak dapat terbakar, (misalnya susu, anggur, madu, jus) kecuali untuk celupan kayu homa, semuanya tak boleh dimasukkan ke tungku, untuk mencegah padamnya api homa. Kalau tetap mau ditungkukan, cukup menuangkan sedikit di luar tungku.

Setiap pelaksanaan homa, bahan persembahan yang utama adalah kayu homa, dupa, kembang, pelita, daun the, madu, susu, parfum, buah-buahan, minyak goreng (minyak nabati). Ini merupakan bahan persembahan yang selalu harus ada.

Penataan Altar Homa
Penataan altar (mandala) homa, dibedakan berdasarkan empar jenis Karman yakni Santika, Paustika, Wasikarana dan Abhicaruka, dibeda-bedakan berdasarkan warna dan bentuk.

Berdasarkan warna: Santika menggunakana warna putih, Paustika menggunakan warna kuning, Wasikarana menggunakan warna merah, Abhicaruka menggunakan warna hitam.

Berdasarkan bentuk : Santika berbentuk bulat, Paustika berbentuk persegi, Wasikarana berbentuk setengah lingkaran, Abhicaruka berbentuk segi tiga.

Kalu perlu, untuk sementara boleh menyusun mandala atau tungku dengan batu bata. (Misalnya di luar ruangan, atau saat penyelenggaraan upacara homa). Menata menurut bentuk di dalam atau bentuk di luar semuanya boleh.

Umumnya, meja homa yang berbentuk persegi empat sudah mewakili Paustika, tungku homa yang berbentuk bulat sudah mewakili Santika.

Tepat di depan meja homa, disemayamkan Adhinatha dan Dharmapala, boleh diletakkan lima bahan persembahan atau delapan bahan persembahan. Keempat tiang dari meja homa melambangkan Catur Maharajakayika. Keempat sudut meja homa harus diletakkan persembahan pelita atau lilin. Warna dari semua bahan persembahan serta lilin pelita teratai harus dibedakan berdasarkan Santika, Paustika, Wasikarana dan Abhicaruka.

Bila ingin menyemayamkan Panca Tathagata di mandala, posisinya harus tepat:

Tengah-----Wairocana (putih)

Barat----Amitabha (merah)

Selatan----Ratnasambhawa (hijau)

Timur-----Aksobhya (kuning)

Utara------Amoghasiddhi (hitam)

"Pintu Langit" melambangkan mulut dewa, bahan persembahan diberikan kepada para dewa melalui pintu langit.

Tali Panca-Warna melambangkan sima-bandhana (pembatasan lokasi) dan kesucian, juga untuk membuat mandala tampak anggun dan agung.

Bahan persembahan utama diletakkan di sekeliling tungku homa. Bahan lain berturut-turut mengitarinya. Bila meja homa tidak cukup besar untuk menampung bahan persembahan, boleh menambahkan meja kecil.

Penataan perlengkapan upacara dan bahan persembahan dapat dilihat pada gambar di halaman berikut.

Tatacara Homa
Tatacara homa aliran Satyabuddha dapat dibagi dua. Pertama, tatacara umum, ditunjukkan kepada siswa yang sudah mendapatkan abhiseka homa dari aliran ini untuk keperluan pribadi. Tatacara yang satunya lagi ditujukan kepada Acarya aliran ini untuk menyelenggarakan upacara homa. Kedua tatacara ini memiliki banyak kesamaan.

Tatacara umum adalah sebagai berikut:

1. Bertepuk tangan, menjentikkan jari.

2. Mantera penyucian.

3. Sima-bandhana

4. Mantera pengundangan (tiga kali).
  • Mengundang : Namo Lien Sheng Mahacaryaya (Namo Ken Pen Chuan Cheng Sang Se Lien-Sheng Huo Fo), Namo Yang Mahasuci Mahapadmakumara Putih ( Namo Ta Pai Lien Hua Thong Ce Seng Cun), Namo Sukusumajyotiriswara Bud-dhaya (Namo Hua Kuang Ce Cai Fo), Namo Para Guru Silsilah (Namo Li Tai Chuan Cheng Cu Se) (membentuk mudra, mengucapkan tiga kali).

  •  Mengundang : Namo Dwaresi Yochi (Namo Wu Ci Yao Ce Ta Seng Si Wang Cin Mu Ta Thien Cun), Namo Delapan Yidam Utama (Namo Pa Ta Pen Cun).
  • Mengundang Adhinatha homa (membentuk mudra, mengucapkan tiga kali).

  • Mengundang : Namo Acalanatha Widyarajaya (Namo Cong Yang Ta Seng Pu Tong Ming Wang), Namo Ucchusuma Widyarajaya (Namo Hui Ci Cin Kang), Namo Catur Maharajakayika (Namo Se Ta Thien Wang).
  • Mengundang para Buddha, Boddhisattva, Dharmapala dan mahluk suci lainnya dari Wihara Wajragarbha (Lei Cang Se) atau cetiya.
  • Mengundang para Buddha, Boddhisatva, Dharmapala dan mahluk suci lainnya dari mandala rumah.
  • Mengundang Dewa Agni (Api).
  • Mengundang para dewa pelindung, Dewa Gunung, Dewa Air, Dewa Tanah (Fu Te Ceng Sen).

5. Mahanamaskara visualisasi (Persujudan Agung).

6. Catur Sarana (Empat Perlindungan).

7. Membuat perisai pelindung diri.

8. Mantra Sataksara (tiga kali) (Manatra Vajrasattva).

9. Menjapa "Mantra Hati Padmakumara" (mantra panjang 49 kali atau 108 kali).

10. Memutar japamala untuk adhisthana (cuan-cu-ming).

11. Memberkati (mengadhisthana)bahan persembahan dengan Wajra dan Wajraghanta. Menjapa Mantra Pemberkatan Bahan Persembahan : "Om Wajra Hasa" (49 kali).

12. Persembahan Mahamandala (Persembahan Agung).

13. Bayangkan Adhinatha dan menjapa mantra hati Adhinatha (membentuk mudra Adhinatha dan menjapa mantra 21 kali).

14. Menyalakan api, masukkan bahan persembahan ke dalam tungku ( teruskan penjapaan mantra hati Adhinatha tak terhitung banyaknya).
  • Mengulangi sampai tiga kali pengundangan para mahluk suci, membentuk mudra mereka, menjapa mantra mereka.
  • Mengulangi sampai tiga kali visualisasi pemberian persembahan kepada para mahluk suci.
  • Mengulangi sampai tiga kali membayangkan Adhinatha dan para mahluk suci menyinari Tantrika.
  • Mengulangi sampai tiga kali pengucapan doa. Bayangkan Tantrika, Adhinatha dan api, bersatu-padu tritunggal, karmawarana dilenyapkan, harapan tercapai.
15. Membunyikan Wajraghanta untuk pemberkatan.

16. Membaca Mantra Hati Mula Acarya (mantra pendek 108 kali).

17. Memasuki Samadhi.

18. Menjapa Mantra Hati lainnya.

19. Nian-fo.

20. Mantra Sataksara (3 kali).

21. Parinamana ,berdoa.

22. Mahanamaskara.

23. Mantra Paripurna (Pelengkap).

24. Bertepuk Tangan, menjentikkan jari.


Tatacara Upacara Homa (digunakan oleh Acarya dalam penyelenggaraan upacara homa).

Menyanyikan lagu Pendupaan dan lagu Kesucian Dharmakaya.

1. Bertepuk tangan, menjentikkan jari (membunyikan wajraghanta).

2. Mantra Penyucian.

3. Sima-bandhana, memercikkan air Dharani.

4. Mantra Pengundangan (tiga kali).
  • Mengundang : Namo Lien Sheng Mahacarya (Namo Ken Pen Chuan Cheng Sang Se Lien-Sheng Huo Fo), Namo Yang Mahasuci Mahapadmakumara Putih ( Namo Ta Pai Lien Hua Thong Ce Seng Cun), Namo Sukusumajyotiriswara Bud-dhaya (Namo Hua Kuang Ce Cai Fo), Namo Para Guru Silsilah ( Namo Li Tai Chuan Cheng Cu Se). Memohon maha Adhisthana guru silsilah (membentuk mudra Padmakumara, mengucapkan tiga kali).
  • Mengundang : Namo Dwaresi Yochi (Namo Wu Ci Yao Ce Ta Seng Si Wang Cin Mu Ta Thien Cun), Namo Delapan Yidam Utama (Namo Pa Ta Pen Cun).
  • Mengundang Adhinatha homa (membentuk mudra, mengucapkan tiga kali).
  • Mengundang : Namo Acalanatha Widyarajaya (Namo Cong Yang Ta Seng Pu Tong Ming Wang) Namo Ucchusuma Widyarajaya (Namo Hui Ci Cin Kang ). Namo Catur Maharajakayika (Namo Se Ta Thien Wang), semua Dharmapala, para dewanaga pelindung Dharma, serta para dewata.
  • Mengundang para Buddha, Boddhisattva, Dharmapala dan mahluk suci lainnya dari Wihara Wajragarbha (Lei Cang Se) atau cetiya.
  • Mengundang para Buddha, Boddhisattva, Dharmapala dan mahluk suci lainnya dari Wihara atau citiya disekitar sini.
  • Mengundang Dewa Agni (Api).
  • Mengundang para dewa pelindung, Dewa Gunung, Dewa Air, Dewa Tanah (Fu Te Ceng Sen).
5. Mahanamaskara visualisasi.

6. Membacakan naskah doa, memberkati daftar nama peserta upacara. ( Membakar naskah doa dan daftar nama peserta upacara.)

7. Menjapa Mantra Catur Sarana.

8. Membuat perisai pelindung diri.

9. Mantra Sataksara (3~7 kali).

10. Menjapa "Mantra Hati Padmakumara" (Mantra panjang 49 kali atau 108 kali).

11. Memutar japamala untuk adhisthana (cuan-cu-ming).

12. Memberkati bahan persembahan dengan Wajra dan Wajraghanta.

13. Persembahan Mahamandala.

14. Bayangakan kehadiran Adhinatha dan menjapa mantra hatin Adhinatha (membentuk mudra Adhinatha, menjapa mantra 49~108 kali).

15. Menyalakan api homa.

16. Memasukkan bahan persembahan ke dalam tungku (umat terus menerus membentuk mudra dan menjapa mantra hati Adhinatha tak terhitung banyaknya).
  • Mengulangi sampai tiga kali pengundangan para mahluk suci. (Pemimpin upacara membentuk mudra dan menjapa mantra para mahluk suci).
  • Mengulangi sampai tiga kali visualisasi pemberian persembahan kepada Adhinatha dan para mahluk suci.
  • Mengulangi sampai tiga kali membayangkan Adhinatha dan para mahluk suci menyinari umat.
  • Mengulangi sampai tiga kali pengucapan doa. Bayangkan Tantrika, Adhinatha dan api, bersatu-padu tritunggal, karmawarana dilenyapkan, harapan tercapai.
17. Membunyikan Wajraghanta untuk pemberkatan.

18. Acarya pemimpin upacara memperagakan mudra. (Umat melantunkan Mantra Hati Padmakumara, atau Namo Amitabhabuddhaya atau Namo Awakoliteswaraya.)

19. Memasuki Samadhi, memasuki samadhi Adhinatha, kembali bervisualisasi semua harapan tercapai.

20. Menjapa Mantra Hati lainnya.

21. Nian-fo.

22. Parinamana, berdoa

23. Mantra Sataksara (3~7 kali).

24. Mahanamaskara.

25. Mantra Paripurna.

26. Bertepuk tangan, menjentikkan jari.


Intisari dan Kunci Pelaksanaan Homa
* Bertepuk tangan dan menjentikkan jari----- pada awal sadhana, maksud bertepuk tangan dan menjentikkan jari adalah membangunkan dan mengundang para Buddha, Bodhisattva dan dewa, agar mereka mengetahui Tantrika akan melaksanakan homa. Pada akhir sadhana, maksud bertepuk tangan dan menjentikkan jari adalah membubarkan dan mengantarkan para dewa kembali ke kediaman mereka.

* Intisari dan kunci sima-bandhana-----cara melakukan sima-bandhana (pembatasan lokasi) ada beberapa macam. Pada umumnya, dalam pelaksanaan homa, sima-bandhana dilakukan dengan tongkat Wajra. Dengan tongkat Wajra mengetuk bagian tengah, timur, selatan, barat, dan utara, kelima penjuru dari meja homa masing-masing sebanyak tujuh kali. Harus mendengarkan suara ini, bayangkan setiap suara ini melesat jauh. Sejauh mana suara ini melesat, sejauh itulah batasnya (sima-bandhana). Dengan mengetuk kelima penjuru berarti telah memberikan perbatasan di sekeliling mandala.

* Intisari dan kunci pengundangan-----mengundang harus dengan hati yang setulus-tulusnya, dengan nada yang terlembut dan termedu. Waktu mengundang secara umum, tangan beranjali. Pada saat mengundang secara satu-persatu, harus membentuk mudra dan menjapa mantra masing-masing, membayangkan wujud-Nya hadir di depan Mandala. Mengundang dengan jasmani-ucapan-pikiran yang manunggal, ini penting sekali.

* Makna menjapa Mantra Sataksara-------pada awal homa, menjapa Mantra Sataksara dimaksudkan untuk memohon bantuan dan lindungan dari Wajrasattwa, dengan demikian homa yang dilakukan barulah berhasil-guna. Pada akhir homa, menjapa Mantra Sataksara bertujuan untuk menambal hekhilafan yang terjadi dalam tatacara.

* Intisari dan kunci memutar japamala-----memohon Bodhisattva memancarkan cahaya suci memberkati japamala dan kedua tangan, serta sekujur tubuh Tantrika sehingga semuanya disucikan. Dengan demikian Tantrika boleh memegang bahan persembahan untuk dibakar dalam homa. Waktu memutar japamala (cuan-cu-ming) bayangkan Mula Acarya memancarkan cahaya menyinari japamala dan kedua tangan serta sekujur tubuh Tantrika dari angakasa raya.

* Pemberkatan dengan Wajra dan Wajraghanta-----memperagakan Wajra dan Wajraghanta, melindungi, melakukan sima-bandhana, menolak bala (Santika), menambah kesejahteraan ( Paustika), merukunkan (Wasikarana), menaklukan (Abhicaruka); ini adalah memberkati semua bahan persembahan, menyucikan semuannya. Bayangkan Wajraghanta menyinari semua bahan persembahan, menyucikan semuanya.

* Intisari dan kuci penyalaan api dan pembakaran bahan persembahan-------sebelum penyalaan api, letakkan dulu dupa pemancing api di dalam tungku, kemudian tambahkan sedikit minyak goreng (minyak nabati).

Setelah penyalaan api, sebelum kayu homa pertama dimasukkan ke tungku, sentuhkan dulu kayu homa ini pada japamala yang menggelantung di tubuh Tantrika. Karena japamala telah melewati proses pemutaran japamala, alias sudah disucikan sehingga ini jga berarti kayu homa sudah diberkati, semuanya sudah suci.

Sebelum dimasukkan ke dalam tungku, kedua ujung kayu homa harus dicelupkan ke dalam madu. Ini berarti semua "kepahitan" diubah menjadi manis, semua derita dilenyapkan, semua bencana dihilangkan, dari ujung sampai pangkal diubah menjadi manis.

Waktu membakar homa, api homa harus menggelora, tidak boleh padam. Bahan persembahan yang dapat memadamkan api (misalnya susu dan arak), tidak boleh dituang ke dalam tungku. Bila api tidak menggelora, harus segera menambahkan sedikit minyak goreng.

Intisari dan kunci visualisasi pembakaran homa---------setiap bahan persembahan yang akan dimasukkan ke tungku harus divisualisasikan berbah menjadi banyak sekali, memenuhi seluruh jagat. Setiap bahan persembahan memiliki makna tersendiri. Ambil bunga, dupa, pelita, teh dan buah seperti contoh :

Persembahan bunga, dengan pikiran terpusat bayangkan sekuntum bunga berubah menjadi sebidang bunga, kemudian seluruh angkasa raya dipenuhi degan bunga, membuat ucapan dan tindakan Tantrika, lahir dan batin, anggun dan agung bagai bunga, elok cemerlang.

Persembahan dupa, sebatang dupa berubah menjadi hutan dupa, lalu seluruh jagat dipenuhi dupa, semuanya dipersembahkan kepada Buddha, membuat semua yang telah tercium wangi dupa ini menghormati dan membantu Tantrika.

Persembahan pelita, sebuah pelita berubah menjadi lautan cahaya, seluruh angkasa raya dipenuhi dengan cahaya yang terang benderang, membuata semua usaha dan latihan Tantrika dijauhkan dari kegelapanm semuanya terang benderang penuh berkah.

Persembahan teh, daun teh melambangkan makanan/minuman dan rasa Dharma. Bayangkan sejumput daun teh berubah menjadi memenuhi seluruh penjuru jagat, lalu dipersembahkan kepada para mahluk suci, membuat Tantrika dianugerahi dengan makanan dan minuman yang melimpah ruah, puas dan bahagia dalam rasa Dharma.

Persembahan buah, satu buah dibayangkan berubah menjadi memenuhi angkasa raya, semuanya dipersembahkan kepada para mahluk suci, membuat semua permohonan Tantrika berbuah, penuh dengan pahala.

Dalam proses pembakaran api homa, harus mengulangi sampai tiga kali pengundangan Mula Acarya, guru-guru dalam silsilah, Adhinatha homa, delapan Yidam utama serta para Dharmapala dan mahluk suci. Menyebut nama mereka, menjapa mantra mereka, membentuk mudra mereka, membayangkan mereka datang menerima persembahan. Kemudian Tantrika terus menerus berdoa dan memohon dengan tulus.

Harus berulang-ulang membayangkan Mula-Acarya dan Adhinatha saat menerima persembahan menyinari diri sendiri (misalnya dalam Santika adalah sinar putih, Paustika sinar kuning, Wasikarana sinar merah, Abhicaruka sinar hitam menyinari pihak lawan.) Diri sendiri bersama Adhinatha bersatu-padu dalam api, memasuki keadaan manunggalnya Tantrika, Adhinatha dan api.

Intisari dan kunci terpenting dari homa------pikiran sangat terpusat. Batin dan jasmani dari Tantrika, serta Adhinatha dan api, ketiganya bersatu-padu.

Hal-Hal yang Wajib Diperhatikan
* Abhiseka homa-----siswa Satyabuddha yang belum memperoleh abhiseka yang dilakukan sendiri oleh Mula Acarya Lien Sheng tidak diperbolehkan melaksanakan homa. (Abhiseka jarak jauh tidak dapat diterapkan dalam sadhana ini.)

* Membuat karma hitam atau kejahatan--------dilarang menggunakan persembahan api homa untuk melakukan kejahatan baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.

* Tindakan penyerangan----dilarang memanfaatkan persembahan api homa untuk membantu tindakan penyerangan apapun.

* Abhicuraka (penaklukan)------melakukan homa Abhicaruka harus ditimbang masak-masak, harus direnungkan dulu apakah tujuannya benar-benar untuk melindungi sadharma, (bukan untuk membalas dendam pribadi), titik tolaknya adalah pertolongan yang benar-benar penuh kasih sayang dan niat baik, hanya ini yang diperbolehkan. Setelah itu juga wajib melakukan homa Santika untuk pihak lawan.

* Syarat agar terjadi kontak (yoga) dalam homa:

1. Harus mahir dalam tatacaranya, serius dan tahu tatakrama.

2. Berdoa harus dengan hati yang tulus, penuh keyakinan.

3. Tantrika selalu dilindungi oleh delapan jenis naga.

4. Tantrika memiliki daya konsentrasi yang kuat.

5. Tantrika telah mengembangkan mahabodhicitta.

6. Sempurna dalam memenuhi berbagai syarat homa.

7. Peserta penuh dengan keyakinan.

Penanganan sisa abu homa:
Homa Santika-----abu dituang ke dalam air yang mengalir jauh; juga dapat mengambil sedikit untuk diberikan kepada orang sakit (diminum).

Homa Pautika------ditanam dalam tanah/sawah. Pedagang dapat mengambil sedikit untuk ditaburkan di toko.

Homa Wasikarana-------abu diletakkan di tanah yang tinggi, atau mengambil sedikit untuk dibawa serta setiap saat.

Homa Abhicuraka-------paling baik ditanam di jalan raya, agar diinjak-injak banyak orang.

* Semua homa yang dilakukan untuk membantu orang lain, harus melakukan substitusi (penukaran). Oleh kerena itu Tantrika sendiri harus memiliki kekuatan latihan dan kebajikan yang berlimpah, dan pihak lawan juga harus mengembangkan bodhicitta, ber buat bajik, giat berlatih melakukan nian-fo menjapa mantra; Tantrika juga harus terus menerus berlatih, dengan demikian baru dapat membantu orang lain.

* Umumnya siswa Satyabuddha harus melakukan homa untuk diri sendiri sebanyak 200 kali. Para Acarya Satyabuddha harus melaksanakan homa untuk diri sendiri sebanyak 400 kali.

* Semoga setiap siswa Satyabuddha menerima sendiri abhiseka homa, setiap orang memperaktekkan homa.

Q/A :

Jawaban Maha Acarya Lien-Sheng mengenai homa dalam tanya jawab saat memberikan ceramah "Rangkuman Buddhisme" di kompleks pelangi tanggal 12 Mei 1993.

Tanya: Persembahan api, memberi persembahan kepada Catur Maharajakayika, paling baik menggunakan persembahan apa? Apakah besok boleh memohon Abhiseka Homa? Harus bagaimana bervisualisasi saat abhiseka?

Jawab: Boleh. Harus bagaimana bervisualisasi saat abhiseka? Inilah yang akan dibicarakan besok. Saat menerima abhiseka homa, umumnya Anda harus menyalakan api, api harus dinyalakan, kemudian bayangkan api ini masuk ke dalam dahi Anda, bergerak turun sampai ke cakra hati. Mula-mula membakar tubuh bagian atas, lalu membakar tubuh bagian bawah. Anda larut dalam api, inilah visualisasi saat abhiseka homa. Jadi besok, saat menerima abhiseka, saat kepala Anda disentuh, Anda juga dapat membayangkan ada segumpal api masuk ke dalam tubuh Anda, membakar sekujur tubuh Anda, Anda berubah menjadi api yang menggelora. Inilah abhiseka homa. Bagaimana dengan kuncinya, yaitu "api ,yidam, Anda, semuanya manunggal", inilah kuncinya.

Bahan persembahan apa yang sebaiknya diberikan kepada Maharajakayika? Catur Maharajakayika berada dalam lingkup permohonan harta, termasuk kategori Paustika. Oleh karena itu Anda boleh memberi persembahan buah-buahan berwarna kuning, memberi minuman anggur, ada anggur yang berwarna kuning. Semua bahan persembahan diutamakan yang berwarna kuning. Apa saja boleh dijadikan bahan persembahan , asal dapat terbakar boleh dijadikan bahan persembahan.

Tanya: Umumnya bila siswa telah memperoleh abhiseka homa, setelah kembali ke tempat asalnya, apakah boleh membantu orang lain melakukan homa? Setelah kembali, apakah boleh menyelenggarakan homa?

Jawab: Wah, mau memimpin upacara homa ya (hadirin terbahak-bahak), mau merebut langganan nih yee! (Hadirin terbahak) Begini, dalam Tantrayana ada satu aturan, homa termasuk tiga tataran bawah, dalam Tantrayana menempati posisi yang sangat penting. Setiap siswa, siswa Tantrayana pada umumnya harus melaksanakan 200 kali. Jadi, setelah melakukan 200 kali, setelah mempraktekanya, sudah mahir, api-Yidam-Tantrika dapat bersatu padu, saat melaksanakan Homa sama sekali tidak terjadi kekhilafan, barulah boleh membantu orang lain. Kalau Anda mau memimpin upacara homa, sebaiknya dilakukan oleh Acarya, paling baik dilaksanakan oleh para Acarya. Kalau pemimpin cetiya (Thang Cu), seharusnya boleh, tetapi dengan syarat pelaksanaan homa Anda sudah tidak cacat lagi, baru boleh. Jadi, bantulah diri sendiri dulu. Membantu anggota keluarga mengurangi karma-warana, untuk sementara waktu jangan dulu menyelenggarakan homa. Kalau mau membantu orang lain, harus menunggu sampai pelaksanaan homa Anda sudah sama sekali bebas dari cacat baru diperbolehkan.

Tanya: Setelah pemimpin cetiya menerima abhiseka homa, apakah boleh menyelenggarakan upacara homa? Secara terbuka menerima pendaftaran penyertaan khalayak ramai?

Jawab: Pertanyaan ini sudah saya jawab tadi.

Tanya: Siswa yang belulm menerima abhiseka homa dari Mula Acarya, apakah boleh melaksanakan homa sendiri?

Jawab: Tidak boleh. Ini tidak boleh. Karena dalam Tantrayana, yang ditekankan adalah penurunan ajaran dari guru silsilah. Dalam ceramah selama 7 sampai 8 hari ini, saya sudah pernah menyinggungnya. Anda telah menerima abhiseka apa, baru boleh mempraktekan sadhana yang bersangkutan. Belum menerima abhiseka homa, tidak diperbolehkan melaksanakan homa.

Tanya: Apakah homa dapat dipakai untuk melakukan pendoaan arwah (Chau Tu)?

Jawab: Homa boleh dilakukan untuk pendoaan arwah.

Tanya: Abhiseka homa apakah boleh diberikan secara jarak jauh?

Jawab: Lebih baik abhiseka nyata. Lebih baik benar-benar hadir untuk menerima abhiseka dari Mula Acarya.

Dalamnya Kebajikan Yao Chi Jin Mu



Dalamnya Kebajikan Yao Chi Jin Mu

Sembah sujud pada Y.M. Liao Ming, Guru Sakya Zheng Kong, Gyalwa Karmapa XVI, Guru Thubten Dhargye, setulus hati sembah sujud pada Triratna Mandala, para acarya, Gurudhara, para lama, dharmacarya, pandita dharmaduta, pandita lokapalasraya, para umat se-Dharma, selamat siang semuanya.

Hari ini kita mengadakan homa Yaochi Jinmu, sebelum dimulai, sebelum mengundang Yaochi Jinmu, adinata Yaochi Jinmu pun sudah hadir di mandala, sepenuh hati memohon agar harapan setiap orang dapat tercapai dengan sempurna. Kemarin malam adalah tanggal 3 imlek, sewaktu berceramah pada kebaktian malam di Vihara Ling Shen Ching Tze, saya sempat memberi restu pada Anda semua agar sumber rejeki datang berlimpah-limpah, pagi ini sewaktu saya bangun untuk melakukan meditasi, ada satu kejadian yang sangat menakjubkan.

Saya ini tidak mengharapkan apa-apa lagi, apapun sangat puas, saya sama sekali tidak perlu memohon apa-apa lagi, namun kemarin malam saya mengucapkan sumber rejeki datang berlimpah-limpah, tiba-tiba Yaochi Jinmu menampakkan diri, Ia berkata, "Saya bawa Anda melihat rumah Anda." Saya berkata, "Rumah saya sudah ada, saya tinggal di Arama Nanshan, mengapa masih membawa saya melihat rumah saya, saya masih punya rumah yang lebih besar lagi yakni Rainbow Villa, namun yang belum sempat saya tempati." Ia berkata, "Anda tidak tahu keberadaan rumah ini." Ia mengatakan bahwa rumah saya itu tidak ada lampu neon, bahkan bola lampu biasa pun tidak ada, semuanya adalah lampu artistik yang sangat indah, seluruh interior rumah adalah kristal, tidak hanya lampu-lampu kristal yang terbuat dari emas, perak, dan tujuh jenis barang berharga, rumah tersebut lebih besar daripada Rainbow Villa, Yaochi Jinmu berkata pada saya, dekorasinya, setiap inci dan senti dari setiap keping tembok, semuanya didekorasi, dengan kata lain Anda tidak dapat melihat seluruh temboknya.

Seluruh perabotan adalah barang bermutu tinggi, seluruh warnanya seperti warna kayu merah dari Eropa, dekorasi rumahnya sangat mewah, sangat indah, ketika Ia mengatakan pada saya, saya teringat dengan istana raja di Arab Saudi, sama seperti rumah tersebut, seluruh dekorasi dan semua lampu adalah barang antik yang berkilauan, terkenal, dan mahal. Seluruh perabotnya sangat indah.

Namun, saya memikirkan Arama Nanshan, saya sudah sangat puas, walaupun sangat sederhana, warnanya juga tidak indah, perabotan juga sangat biasa, semua yang digunakan masih barang-barang garagesale (barang bekas), barang-barang yard sale masih ada, juga tidak ada dekorasi, keempat sisi adalah tembok putih, apapun tidak ada, kosong melompong, bola lampunya sangat sederhana, namun, Arama Nanshan tersebut mempunyai sebuah fengshui, disebut "benang emas menggantung jam tembaga". Jam tembaga yang digantung dengan benang emas itu tepat berada di belakang rumah saya, saya meminjam fengshui tersebut, saya pun tinggal dengan sangat nyaman, saya merasa saya tidak perlu pindah rumah lagi, usia selanjut saya masih saja pindah rumah pasti sangat melelahkan, hanya buku saja sudah tidak habis dipindahkan, saya mengatakan lebih baik saya menolak.

Yaochi Jinmu sangat aneh, ia memberkati diri saya dengan suatu kekuatan, mata saya langsung terpejam, saya pun menjelajah spiritual ke rumah tersebut, lalu tidur di ruang tidur utama dari rumah tersebut, begitu mata dibuka, wah! Istana raja! Emas, perak, dan permata, tujuh jenis barang berharga! Rumah yang dibangun tersebut sangat mewah, sungguh terlalu berkelas. Namun, saya sudah tidur di atas ranjangnya.

Yaochi Jinmu pun berkata pada saya, "Anda mengatakan sumber rejeki datang berlimpah-limpah, Anda pun tinggal di rumah ini, begitu melihat ranjang tersebut, ditata di tengah ruang tidur, hanya ruang tidur saja kira-kira 3 kali lipat lebih besar daripada Dharmasala homa, seluruh karpet di lantai sangat tebal, karpetnya adalah karpet rajutan kapas, sangat berharga, sangat indah, ranjangnya juga sangat besar, sangat nyaman, ranjang yang sangat luas, saya tidur sendirian, kemudian, Yaochi Jinmu membawa saya pergi melihat garasi saya, begitu pintu garasi ini dibuka, wah! Tujuh unit mobil balap Ferarri, satu unit satu warna, saya mengatakan saya merawat satu mobil saja sudah repot, merawat tujuh unit mobil, mana bisa, mana mungkin, saya berkata pada Yaochi Jinmu, Yaochi Jinmu mengatakan setiap hari Anda menyetir satu unit, seminggu menyetir tujuh unit, mobil balap Ferrari paling mahal, tujuh unit mobil ditaruh di sana, saya mengatakan saya mana dapat merawatnya, Ia berkata, jangan takut, Yaochi Jinmu bersiul sekali, seratus delapan orang asisten muncul semua di dalam rumah ini, termasuk yang bertugas mencuci baju, memasang seprei, petugas kebersihan, mencuci mobil, mencuci piring, memasak nasi dan sayur, kepala koki, wakil 1 koki, wakil 2 koki, pekerja kasar, apapun ada. Yang pria, gagah perkasa. Yang wanita, secantik bunga. Saya bertanya di mana Gurudhara, Yaochi Jinmu berkata, untuk saat ini saya jangan memikirkannya, 108 orang asisten, pria jumlahnya hampir setengah, yang wanita jumlahnya hampir setengah, semuanya masih sangat muda.

Di dalam samadhi, saya melihat tujuh unit Ferrari, Anda hanya membayangkan ruang tidur utama saya, sebesar tiga kali lipat daripada Dharmasala homa, sebesar apa ranjang tersebut, di dalamnya bisa memuat kurang lebih ratusan orang, seribu orang pun bisa masuk ke dalam ruang tidur tersebut, saya berkata, apakah ada rumah demikian, saya belum pernah lihat di Seattle, Ia berkata inilah sumber rejeki berlimpah-limpah, Anda katakan saja sumber rejeki berlimpah-limpah adalah anugrah dari Saya, Ia mau berikan pada saya.

Saya berkata, sumber rejeki berlimpah-limpah diberikan saja pada seluruh insan, saya serius, tempat tinggal saya sangat sederhana, ruang tidur saya hanya sebesar 1/3 dari pentas kita, saya sudah sangat puas, empat sisi tembok, sebuah ranjang, meja membaca juga tidak ada, ditaruh beberapa lemari, satu lemari kecil, apapun tidak ada, saya sudah sangat puas, saya menolak untuk pindah, apa yang Anda berikan pada saya, berikan saja ada seluruh insan, begitu selesai saya bicara, saya pun keluar dari samadhi.

Begitu selesai berpikir, saya duduk di atas ranjang saya sendiri, saya lihat sekeliling, di sana tidak ada lampu artistik, di antaranya masih ada satu bola lampu yang agak redup, di dalam kamar ada dua buah bola lampu, satu bola lampu sudah rusak, satu bola lampu masih bagus, setiap kali saya salah menekan tombol, sebab ada dua tombol, satu untuk lampu pertama, sekali ditekan tidak menyala, lalu ditekan yang kedua, sekarang sudah terbiasa, tekan saja yang kedua, yang pertama tidak pernah ditekan lagi. Saya mengatakan bahwa saya sangat puas, saya tidak mengharapkan apa-apa lagi, saya punya Arama Nanshan yang sekarang, walaupun sederhana, itu sudah cukup. Dulu, Acarya Lian Ning berkata, Arama Nanshan Mahaguru yang sekarang juga ada kolam renang, asal tahu saja, tidak ada kolam renang, sekarang Mahaguru seharusnya menggunakan Hot Tub, juga tidak ada Hot Tub, yang saya punya adalah sebuah Shower, sudah sangat puas, begitu bangun, saya pun merasa segalanya adalah kosong.

Ada sebuah kesan pikiran, sekalipun ada satu unit rumah mewah yang sangat besar untuk Anda tempati, apakah suasana hati tinggal di Arama Nanshan dan tinggal di satu unit rumah mewah, menyetir mobil Ferrari, ada 108 orang asisten akan berbeda, saya rasa seharusnya sama, sekarang saya ada seorang asisten, ia adalah asisten bertangan seribu, dengan kata lain, Ia dapat melakukan banyak pekerjaan, dari dapur, kerajinan tangan, menjahit, segala manajemen, keuangan, administrasi, sampai personalia. Di rumah hanya dua orang saja, tidak ada masalah hubungan antar manusia, juga tidak ada perselisihan antar manusia, keuangan apapun, sekarang pokoknya angpao persembahan orang lain pada saya, persembahan untuk Mahaguru, persembahan untuk Gurudhara, persembahan yang diberikan pada saya, dipegang di tangan, sebelum masuk ke saku, Acarya Lian Ning pun menghampiri, Mahaguru, taruh saja di dalam kantung saya ini, kemudian ia pun membawa pergi, ia tidak pernah memberikan kantung itu pada saya, ia selalu berikan pada Gurudhara, tentu saja saya masih ada, namun, Mahaguru lebih banyak, pekerjaan yang dilakukannya juga lebih banyak daripada saya, semua urusan besar dan kecil dikerjakan olehnya, saya hanya menulis buku, membabarkan Dharma, tidak melakukan hal-hal khusus, saya hanya bersadhana, membabarkan Dharma, menulis buku, urusan lainnya dikerjakan oleh Gurudhara, pekerjaan saya satu-satunya adalah sebelum makan, saya menata empat alas di atas meja, kemudian saya menaruh dua pasang sumpit, saya sepasang, Gurudhara sepasang, kemudian ditaruh lagi dua sendok, satu sendok untuk saya, satu sendok untuk dia, kemudian, jika ia berkata, tolong bantu saya ambil sebuah mangkuk atau piring kecil, saya akan membantu sebentar, selebihnya adalah pekerjaannya.

Selain itu ada satu hal, karena sisi naga Vihara Ling Shen Ching Tze lebih rendah, sisi macan lebih tinggi, tadinya rumah besar berwarna putih di sisi macan itu, macan putih lebih tinggi, kepala macan di sisi naga lebih kecil, sisi macan rumah Acarya Lian Miao lebih kecil, sekarang walaupun diganti menjadi warna lembut, namun, sesungguhnya fengshuinya masih ada.

Makanya, saya merasa saya sampai tua, seharusnya sangat puas, saya juga tidak mengharapkan apa-apa lagi, tempat tinggal yang sederhana. Makanan, di rumah ada, di vihara juga ada. Pakaian! Jubah Lama, oleh karena itu, saya seharusnya memohon Yaochi Jinmu menganugrahi sumber rejeki berlimpah-limpah kepada seluruh insan yang membutuhkan, seluruh insan yang berjodoh, dianugrahi berkah oleh Yaochi Jinmu, lantas ia pasti dapat berhasil, lagipula Yaochi Jinmu sendiri di barat termasuk unsur emas, emas ini paling berharga, Ia memiliki berkah yang sangat besar, boleh memberikan berkah kepada para insan.

Seperti Mahaguru hari ini dapat mempunyai begitu banyak siswa, lagipula tidak ada kerisauan dalam hidup, sebenarnya semuanya adalah berkat Yaochi Jinmu, oleh karena itu, apa yang dianugrahi oleh Yaochi Jinmu pada saya sudah cukup banyak, saya sudah puas, lantas saya juga berharap Yaochi Jinmu dapat menganugrahi kita siswa Zhenfo Zong, sehingga setiap orang sangat puas.

Sebenarnya, perubahan dalam hidup saya ini, sepenuhnya adalah anugrah dari Yaochi Jinmu, oleh karena itu, saya sangat bersyukur pada Yaochi Jinmu, banyak kalangan Agama Buddha, mereka biasanya terus mengatakan, jika Sheng-yen Lu sepenuhnya percaya Buddha, ia tidak akan menyembah Yaochi Jinmu, ia adalah umat Buddha yang sangat polos, umat Buddha ortodoks, lantas mereka tidak pernah tahu Yaochi Jinmu.

Sebab, Sang Buddha pada 2500-2600 tahun yang lalu, Ia mana tahu Yaochi Jinmu, Sang Buddha juga tidak tahu Yaochi Jinmu, Sang Buddha tahu banyak dewa, seperti Sri-maha-dewi, Sang Buddha tahu Sri-maha-dewi, Sang Buddha juga tahu Vajravahari, Ia juga tahu Cundi Bhagawati, Ia juga tahu Buddha Locani, ia juga tahu Dakini Putih, Tara Putih, Tara Hijau, semua Ia tahu, Ia justru tidak melihat Yaochi Jinmu kita yang di China ini, namun, sesungguhnya kedahsyatan dari Yaochi Jinmu di mata saya, Ia adalah satu-satunya dan tiada duanya.

Di dalam ajaran Tantra terdapat banyak dakini, misalnya Dakini Merah, kita menyebutnya Dorje Phagmo, yakni Vajravahari. Dakini Putih adalah Tara Putih, mereka semua memiliki kekuatan Dharma, seperti Tara Hijau, Cundi Bhagawati, Nairatmya, Sri-maha-dewi, mereka semua sangat kuat, Sarasvati juga memiliki kekuatan Dharma yang besar, semua Bhagawati ini sama terhormatnya dengan Buddha, Yaochi Jinmu juga sama terhormatnya dengan Buddha, Ia mengubah diri saya, saya tidak boleh memutuskan jodoh yang patut saya syukuri ini. Dulu, guru saya juga menasihati saya banyak hal, Anda jadilah Agama Buddha ortodoks, mulai hari ini Anda percaya saja Dharma yang diwariskan Sang Buddha, jangan menyembah Yaochi Jinmu lagi, saya bilang tidak boleh, apakah setelah Anda belajar Agama Buddha, Anda pun tidak mengakui orangtua Anda, Yaochi Jinmu sama dengan ibu saya yang sangat terhormat dan memiliki kekuatan yang sangat besar, memangnya setelah saya memeluk Agama Buddha, saya pun meninggalkan ibu saya yang paling terhormat, paling mulia, dan paling dahsyat? Saya mengatakan bahwa kedahsyatan Yaochi Jinmu tidak terbayangkan, saya bersarana pada Buddha, bersarana pada Dharma, bersarana pada Sangha, juga karena lebih dahulu bersarana pada Yaochi Jinmu, kemudian baru ada sekarang, mana mungkin saya dapat memutuskan jodoh karma saya ini, saya juga berkata demikian kepada ayah saya.

Oleh karena itu, yang dijunjung tinggi dalam Zhenfo Zong adalah Yaochi Jinmu, saya merasakan bahwa Kitab Yaochi Jinmu Yang Zheng Zhen Jing, boleh dikatakan adalah tahap Kye-rim, Kitab Yaochi Jinmu Ding Hui Jietuo Zhen Jing, boleh dikatakan adalah tahap Dzog-rim dari Yaochi Jinmu, sama dengan ajaran Tantra kita, prinsip-Nya sama persis dengan ajaran Tantra kita, sama persis dengan ajaran Buddha, Yaochi Jinmu juga mempunyai sebuah alam suci, yakni berada di puncak Gunung Kunlun, di atas dari cakra angin, tanah-air-api-angin, ada sebuah alam suci Yaochi Jinmu, alam suci itu lebih indah lagi, lebih sempurna, semua berada di atas alam suci tersebut, alam suci itu juga tidak rusak selamanya, saya pernah ke alam suci tersebut. Makanya, mana mungkin saya meninggalkan Yaochi Jinmu, memutuskan seluruh budi baik, kemudian menjadi seorang umat Buddha ortodoks, memangnya setelah saya percaya pada Yaochi Jinmu kemudian percaya pada Buddha, saya dianggap bukan ortodoks? Oleh karena itu, saya terus menjelaskan yang satu ini, ini adalah ungkapan syukur saya! Ia adalah ibu sekaligus dewi saya yang paling mulia, yang paling dahsyat, yang paling memiliki power, yang paling mampu, yang paling terhormat. Ia suci, apakah saya dapat memutuskan jodoh semacam ini? Tidak mungkin, tidak boleh.

Makanya, seumur hidup saya, saya mutlak menghormati Yaochi Jinmu, Ia di barat, oleh karena itu disebut "Jinmu" (Bunda Emas), jadi saya punya tiga yidam, "Raja Dewa" adalah Yaochi Jinmu; "Raja Buddha" adalah Amitabha Buddha; "Raja Bumi" adalah Ksitigarbha Bodhisattva, Yamantaka adalah Mula-Dharmapala saya. Coba kalian pikirkan, kedahsyatan Yaochi Jinmu, Ia mengatakan jika Anda mau menambah umur, Ia mengajarkan saya sebuah sadhana Air Dewa Amerta dari Yaochi Jinmu, yakni dapat menambah usia Anda, jika Anda muak terhadap dunia ini, Anda boleh kembali pada usia 66 tahun, Ia pernah mengatakan pada saya, kemudian saya juga mengatakan pada-Nya, sewaktu saya berusia 50-an tahun, saya sudah ingin pulang, namun, Ia menghalangi saya, tidak membiarkan saya masuk ke janin, kita sebagai sadhaka, berhasil mencapai tubuh maya, kita bisa menjelajah dengan bebas leluasa secara spiritual, lantas saya melihat seorang ibu yang kaya raya, kelak ia akan kaya raya, bayi yang dilahirkannya sangat terhormat, lantas saya pun ingin masuk ke janin, memasuki janin berarti masuk ke rahimnya, di dalam Tantra disebut "Sadhana Grong-jug", ketika saya hendak masuk ke janin, Yaochi Jinmu menampakkan diri di depannya dan menghalangi saya, tidak membiarkan saya masuk ke janin, Ia mengatakan saya masih ada urusan yang belum selesai, saya masih harus menulis lebih banyak buku lagi, Anda jangan pergi terlalu cepat, lalu saya dihalangi, Ia menghalangi saya, maka saya pun tidak dapat memasuki janin, juga tidak dapat bereinkarnasi, juga tidak bisa meninggalkan dunia manusia, Ia bahkan memberitahu saya cara memperpanjang usia, jika Anda ingin memperpanjang usia, Anda tekuni sadhana ini, Anda bisa memperpanjang usia, ini paling berharga, paling mempunyai power, paling kuat.

Karena Yaochi Jinmu adalah Bhagawati yang sudah lama saya kenal, karena Yaochi Jinmu lah, saya melihat seluruh Buddha dan Bodhisattva, juga Amitabha Buddha yang berasal Sukhavatiloka Barat dan alam suci-Nya. Karena Yaochi Jinmu lah, saya tahu siapa saya dalam kehidupan lampau. Karena Yaochi Jinmu lah, saya menjadi umat Buddha ortodoks. Ini adalah jasa dari Yaochi Jinmu, Yaochi Jinmu memiliki kekuatan yang sangat besar, saya beritahu Anda semua, walaupun seluruh dewa Vajra memiliki kekuatan yang sangat besar, namun, saya merasa kekuatan Yaochi Jinmu, melebihi segalanya, benar-benar power yang mahatinggi, tidak ada kemampuan yang lebih tinggi daripada-Nya. Makanya hari ini saya menjapa nama Buddha, setiap hari sebelum menjapa nama Buddha, saya pasti menjapa nama Yaochi Jinmu, yang pertama adalah Yaochi Jinmu Datian Zun, sembah sujud pada Yaochi Jinmu Datian Zun, selanjutnya menjapa para Buddha, Bodhisattva, Vajra Dharmapala, Dakini, dan para dewa, setiap hari saya memberikan persembahan, lebih dulu memberikan persembahan pada Yaochi Jinmu, selanjutnya kepada para Buddha, Bodhisattva, Vajra Dharmapala, Dakini, dan para dewa, ini adalah asal usul dari Zhenfo Zong kita, Yaochi Jinmu Datian Zun, Ia juga membimbing kita memasuki pintu Agama Buddha ortodoks, juga membuat saya kontak yoga, juga membuat saya mencapai keberhasilan dalam bersadhana, Ia juga membuat saya memahami hati, Ia juga membuat saya menyaksikan Buddhata, dewi yang begitu kuat, saya tidak dapat berkata apa-apa lagi, oleh karena itu, jika kalian yakin pada Yaochi Jinmu, Ia pasti akan memberikan Anda power yang sangat besar, kekuatan yang sangat besar, kemampuan yang sangat besar, bila Anda percaya seratus persen pada Yaochi Jinmu, Ia akan membalas Anda seratus persen, ini adalah esensi yang hendak saya sampaikan.

Om Mani Padme Hum!

Pengulasan Yao Chi Jin Mu Yang Zheng Zhen Jing


Pengulasan Yao Chi Jin Mu Yang Zheng Zhen Jing 
(瑤池金母養正真經)

Oleh Vajra Master Lianci 12 October 1995

《瑤池金母養正真經第一講》

一九九五年十月十二日釋蓮慈金剛上師主講 

Selamat malam, kepada saudara saudari Sedharma sekalian !

Yaochijinmu (瑤池金母) merupakan Mahadewi pada masa yang sangat lampau dan sekaligus tertinggi, merupakan leluhur para Mahadewa Resi. Sebelumnya kita telah membahas bahwa Xuanxuanshangren (玄玄上人) mewariskan Tao kepada Mugongshangren (木公上人), kemudian Mugongshangren mewariskannya kepada Yaochijinmu.

Berdasarkan catatan sejarah resmi dalam kitab dan juga berdasarkan legenda, Yaochijinmu pernah turun ke dunia pada masa Kaisar Kuning (黃 ( huáng )帝 ( dì )) ; Juga pada masa Yu Agung(大 ( dà )禹 ( yǔ )), Beliau juga turun untuk membantu Yu Agung dalam menangkal banjir. Kaisar Kuning dan Yu Agung sama-sama pernah memohon bantuan Para Dewa untuk menangkal bencana. Oleh karena itu , dalam dua masa tersebut, Yaochijinmu pernah menampakkan diri, membawa mereka menuju ke alam surga dan berada di Istana untuk membantu mereka menyelesaikan masalah. Pada saat itu , Beliau sangat mendukung Tiongkok. Kemudian yang terakhir kali adalah saat Tahun Taiwan ke 36, Beliau turun ke Cihuitang (慈惠堂) di Hualian (花蓮) , sampai saat ini masih ada prasasti turunnya Beliau, tempat itu merupakan satu kuil leluhur bagi Tao.

Tujuan kedatangan Yaochijinmu di dunia adalah untuk membebaskan para insan dari ketersesatan, supaya para insan dapat menyadari Sifat Sejati, dapat merealisasikan Tao, kembali ke alam surga. Maka dari itu, ada banyak sekali cerita yang beredar, diantaranya adalah mengenai bagaimana Beliau mengutus para dewata dari surga, seperti Delapan Dewa (八 ( bā )仙 ( xiān )) dan yang lainnya untuk datang ke dunia fana, untuk membawa kembali para insan kembali ke alam suciwan, kembali ke surga.

Ada juga kisah dimana Sakyamuni Buddha (釋 ( shì )迦 ( jiā )牟 ( móu )尼 ( ní )佛 ( fó )) dan Avalokitesvara Bodhisattva (觀 ( guān )世 ( shì )音 ( yīn )菩 ( pú )薩 ( sà ))melihat bahwa insan yang diselamatkan melalui pasamuan kedua Nagapuspa (龍 ( lóng )華 ( huá )二 ( èr )會 ( huì )) kurang banyak, maka Beliau memohon supaya Yaochijinmu turun ke dunia fana, oleh karena itulah ada kedatangan yang ke tiga di Hualian Taiwan. Sejak saat itu, seluruh Taiwan mulai memeluk Tao. Pada saat itu, semua mengenal Yaochijinmu, banyak orang memuja Nya, kontak yang Beliau berikans angat besar sangat kuat.

Baru-baru ini Mahaguru kita Buddha Hidup Liansheng (師 ( shī )尊 ( zūn )蓮 ( lián )生 ( shēng )活 ( huó )佛 ( fó )) juga mengatakan :

“Buddha dan Bodhisattva kebanyakan adalah sangat lembut, kontak yang diberikan kepada orang – orang juga kurang jelas, kecuali para Dharmapala dan dewa, mereka memberikan kontak yang lebih jelas dan kuat kepada orang-orang. Sedangkan Buddha dan Bodhisattva memberikan tanda-tanda kontak yang lebih samar, kontak yang diberikan kurang nampak, ada kalanya umat tidak menyadarinya. Namun Yaochijinmu tidak sama, kontak batin yang diberikan kepada manusia sangatlah kuat.”

Maka kita semua yang datang ke vihara kita ini, dalam waktu singkat telah memperoleh kontak batin yang demikian kuat. Karena adinata di vihara kita adalah Yaochijinmu. Yaochijinmu sangat welas asih, Beliau ingin memberi kontak batin yang sangat kuat kepada para insan, supaya para insan menyadari keberadaan Buddha Bodhisattva. Mendorong timbulnya keyakinan para insan kepada Buddha, supaya timbul tekad untuk menapaki jalan pembinaan diri.

Kita semua tahu bahwa jalan pembinaan diri adalah sukar, jika tidak mempunyai keyakinan yang kokoh, maka dengan mudah akan putus di tengah jalan. Pelatihan diri ada kalanya juga nampak tidak menarik, maka orang akan sukar untuk selalu tekun melaksanakannya. Buddha Bodhisattva menggunakan berbagai macam metode untuk menyemangati kita, diantaranya adalah memberikan berbagai macam kontak batin kepada kita.

Jika Anda sekalian mempunyai pengalaman kontak batin, maka saya akan turut senang. Karena banyak orang yang telah melatih selama delapan sampai sepuluh tahun, mereka merasa sama sekali tidak ada kontak batin. Namun kita, para siswa yang berada di Aula Dharmadesana Huaguang (天 ( tiān )華 ( huá )光 ( guāng )講 ( jiǎng )堂 ( táng )) ini, baru berlatih satu minggu atau baru satu hari, atau bahkan masih satu kali bersadhana, langsung mengalami kontak batin, ini bisa diperoleh bila Anda mempunyai banyak berkah, sungguh tidak mudah. Seperti Sadhana Ratnakalasa Rajanaga yang kita tekuni beberapa hari yang lalu, kira-kira ada 90% saudara saudari Sedharma yang mengacungkan tangan menyatakan memperoleh kontak batin, ini merupakan hal yang langka. Ini juga membuktikan bahwa Sadhana ini merupakan Sadhana yang sejati, asalkan Anda dengan tulus memohon, maka sadhana ini adalah milik Anda, maka akan manjur untuk Anda. Bagaikan emas sejati tidak takut api membakar, asalkan Anda tekun melaksanakannya, maka pasti ada kontak, dengan adhistana Buddha dan Bodhisattva , Anda akan menapaki jalan pelatihan diri dengan lancar.

Yang paling penting adalah keyakinan awal yang Anda bangkitkan tidak akan mundur. Anda harus bisa melatih diri terus, dimana mulai dalam sehari, kemudian dalam satu minggu, satu bulan, satu tahun, lima tahun, bahkan sepuluh tahun juga terus tetap membina diri. Melatih diri harus mempunyai semangat bagaikan air yang mengalir sampai jauh, barang siapa yang mampu mempertahankannya sampai akhir, maka ia yang akan memperoleh realisasinya. Jangan sampai langkah pertamanya yang cepat, kemudian sebentar saja sudah kehabisan nafas, akhirnya berhenti, begitu berhenti bisa tiga sampai lima tahun, akhirnya melewatkan jodoh dengan sia-sia. 

Kita mulai pengulasan《瑤 ( yáo )池 ( chí )金 ( jīn )母 ( mǔ )養 ( yǎng )正 ( zhèng )真 ( zhēn )經 ( jīng )》, yang mengajarkan kepada kita bagaimana cara melatih diri dengan tekun dan konstan. (tidak berhenti di tengah jalan)

Ini adalah sutra kedua yang saya ulas. Pada saat saya mengulas Sutra Yaochijinmu Metode Pembebasan Melalui Samadhi dan Prajna 《瑤 ( yáo )池 ( chí )金 ( jīn )母 ( mǔ )定 ( dìng )慧 ( huì )解 ( jiě )脫 ( tuō )真 ( zhēn )經 ( jī )》,sepertinya semua mendengarkan dengan antusias. Ini membuat saya berpikir, berikutnya hendak mengulas sutra yang mana, kemudian saya hendak mengulas Satyabuddhasutra《真 ( zhēn )佛 ( fó ) 經 ( jīng )》,tapi ada banyak siswa senior yang mengatakan bahwa sutra ini sudah pernah diulas oleh Mahaguru, jika diulas kembali rasanya sia-sia, maksudnya adalah pengulasan saya tidak akan bisa lebih baik . (tertawa). Setelah mereka mengatakan ini, saya merasa keberanian saya terpukul separuh, kemudian saya memikirkannya kembali dan memutuskan lebih baik tidak usah mencobanya. (tertawa). Kemudian saya teringat Vajrachedikkasutra《金 ( jīn )剛 ( gāng )經 ( jīng )》,sekali lagi saya takut, takut mendadak terlalu mendalam, khawatir ada sebagian orang yang tidak dapat memahaminya. Saya memohon petunjuk Bodhisattva, apakah sebaiknya mengulas Yangzheng zhenjing《養正真經》 ? Beliau menjawab, “Bagus ! Boleh saja.” Maka hari ini saya kembali tampil di sini untuk mengulasnya.

Sutra ini secara garis besar mengajarkan dasar menjadi seorang manusia, sampai menapaki jalan pelatihan diri, semua dijelaskan bertahap kepada Anda. Sutra ini dibagi menjadi lima bagian, dari bagaimana melatih tubuh dan batin, sampai bagaimana penekunan Tao, bagaimana melampaui yang awam dan mencapai kesucian, bagaimana kembali ke asal, terus dijelaskan sampai terakhir yaitu mencapai pencerahan. Saya harap pada saat pengulasan, Buddha Bodhisattva memberi saya inspirasi, dengan demikian kita akan mengulasnya secara bertahap sesuai dengan kehendak Nya, supaya memberikan dorongan semangat dan bantuan bagi Anda sekalian dalam menapaki jalan pelatihan diri.

Menurut sepengetahuan saya, ajaran dari Taoisme berhubungan dengan bagaimana kita menjadi seorang manusia yang sejati, bahwa manusia adalah akar dari Buddha, merupakan dasar bagi Kebuddhaan, jika ingin mencapai Kebuddhaan, maka yang pertama harus dilakukan dengan baik adalah bagaimana menjadi seorang manusia yang sesungguhnya,setelah ini semua dipraktekkan, maka barulah Anda bisa memasuki tingkatan kesucian. Demikianlah Taosime sangat menekankan dasar untuk menjadi manusia yang sesungguhnya, seperti halnya tiga prinsip – lima kebajikan dan delapan moralitas (三 ( sān )綱 ( gāng )五 ( wǔ )常 ( cháng )八 ( bā )德), oleh karena itu dalam bagian pertama dijelaskan bagaimana membina diri. Dari nama sutra ini Yangzheng zhenjing《養正真經》dapat diketahui. Kata Zheng「正」ini berarti kebenaran, pengetahuan benar, pikiran benar, pemahaman benar, penyadaran benar dan perbuatan yang benar, tiada ego, sebuah kebenaran dalam menjunjung langit dan menjadi manusia di atas bumi. Ini adalah salah satu akar pelatihan diri dalam Tao.Bila Anda selalu dalam jalan yang benar, maka barulah chi Anda akan muncul , kesadaran Anda akan berkembang, daya roh Anda akan terang.

Dalam sutra dikatakan : 「養 ( yǎng )性 ( xìng )修 ( xiū )身 ( shēn )。是 ( shì )乃 ( nǎi )人 ( rén )之 ( zhī )大 ( dà )本 ( běn )。」

Pembinaan hati dan pembinaan tubuh jasmani merupakan dasar yang utama bagi manusia. Selain tubuh jasmani, manusia juga mempunyai hati, kita masih mempunyai daya roh, hanya saja tingkatan daya rohnya masih kurang. Jika tingkatan daya roh yang lebih tinggi, ada kalanya daya roh ini lebih tajam. Tiap orang mempunyai daya roh ini, hanya saja ada orang yang lebih terlihat dari luar, juga ada yang lebih tersimpan di dalam. Maka ada orang yang kelihatan memilik vitalitas daya roh yang nampak, ada sebagian orang yang chi nya terlihat ruwet dan tidak jelas,ada juga yang hanya nampak samar-samar.

Dasar sebagai seorang manusia juga sama dengan yang diajarkan dalam Buddhisme, namun karena pembawaan dari tiap orang adalah berbeda, sehingga telah menutup daya roh nya, ada orang yang menutupinya dengan lebih dalam, maka dari luar terlihat kurang tanggap ; Ada yang penutupnya lebih sedikit, ia terlihat lebih hidup, lebih pandai, dari luar kelihatan sangat cerah dan berenergi.

Melatih diri dan membina batin, adalah dasar yang utama sebagai manusia. Hari ini kita bisa dekat dengan Buddha, Bodhisattva, Beliau semua ingin mengajari kita bagaimana menjadi manusia yang sejati, bagaimana mencapai Kedewaan, bagaimana mencapai Kebodhisattvaan dan bagaimana mencapai Kebuddhaan, mengajari kita setahap demi setahap, kita juga harus melakukannya dari dasar kemudian maju secara bertahap, dengan demikian barulah kita bisa mencapai tingkatan yang tertinggi.

(Dalam sutra) Yaochijinmu mengatakan, membina hati dan melatih tubuh, maksudnya adalah tubuh jasmani kita harus sehat, hati kita juga harus baik, ini harus saling melengkapi, tidak bisa hanya melatih tubuh saja. Seperti olahraga senam atau bahkan angkat besi dan memukul sansak, supaya tubuh sekeras tembok baja, dada di pukul berapa kali pun tidak akan terbatuk. Baik sekali olahraga menguatkan tubuh , tapi saat batin tidak pernah dilatih, ia akan berubah menjadi orang kekar namun pemikirannya tidak berkembang. Adakalanya pria atletis yang nampak indah dipandang, justru mudah dibohongi. Olahragawan sangat ahli dalam sebuah kompetisi, karena mereka dilatih untuk berkembang di suatu bidang yang khusus, yang dilatih main bola akan khusus menjadi pemain bola, yang dilatih lari akan khusus dalam bidang atletik, namun sayang sekali jika ini tidak dibarengi dengan pembinaan batin. Maka, kita orang awam yang hendak membina diri, juga harus melatih tubuh jasmani, juga harus memelihara batin kita, batin harus digembleng sampai bercahaya, menjadi sempurna, dengan demikian barulah bisa sempurna luar dalam.

Yaochijinmu Adalah Buddha
瑤池金母是佛

Saat menyepi di Leaf Lake 「葉子湖」sering ada Buddha, Bodhisattva, Pratyeka Buddha, Arahat, Dewa Arupadhatu, Dewa Rupadhatu dan Dewa Kammaloka , datang ke tempat Ku. Yaochijinmu sering datang ke tempat Ku.
Pada suatu ketika, Saya bertanya pada Yaochijinmu , "Apakah Engkau adalah Buddha ? "
Jinmu balik bertanya, "Buddha adalah apa? Apa itu Buddha ?"
Saya mengatakan , "Buddha adalah yang tersadarkan, merupakan Suciwan yang memiliki kesadaran sempurna."
Jinmu kembali bertanya, "Apa yang disadari ?"
Saya menjawab , "Menyadari Anuttara Satyajnana, Menyadari sarvajnana. " 「覺悟無上正等 正智,覺悟一切種智。」 ,
Jinmu kembali bertanya, "Apa itu Anuttara Samyaksambodhi?" 「無上正等正覺,又是什麼?」 ,
jawab Saya, "Pencapaian Pencerahan Buddha adalah tak terperikan, adalah Anuttara, maksudnya adalah kesadaran Sempurna yang Anuttara dan setara di alam semesta, merupakan Buah Ke Buddha an yang sempurna. "
Jinmu bertanya lagi, "Tahukah Kau , bagaimana cara membina sampai merealisasikan buah ke Buddha an ? "
Saya menjawab, "Terlebih dahulu menekuni jalan pembebasan, menekuni Sravakayana dan Pratyeka Buddha yana,dari dukkha, sebab sebab dukha, lenyapnya dukha dan jalan menuju lenyapnya dukha, 12 nidana, Angkasa Dharmadhatu, realisasi Nirvana, Bebas dari kilesha. Kemudian menekuni Bodhisattvayana, mengenali jati diri, membuka mata Buddha, merealisasikan sarvajna. Dari Bodhisattva bhumi awal sampai bhumi ke sepuluh, dari Samyaksambodhi sampai Pencerahan Unggul, selamanya memutus tumimbal lahir, sampai mencapai ke Buddha an."
Jinmu tertawa, "Ini adalah mengenali jati diri, menjadi tuan atas kelahiran dan kematian sendiri."
Jinmu bertanya, "Siapa yang mengajari Mu mengenali jati diri? dan mengatasi lahir mati ? "
Saya menjawab, "Jinmu"
"Jadi siapakah Aku ? "
Saya jawab, "Buddha."
Yaochijinmu mengatakan kepada Saya, apa yang telah dibabarkan oleh Sakyamuni Buddha telah sangat jelas, para insan semua ada benih Buddha. Kammadhatu, Rupadhatu dan arupadhatu semua memiliki benih Buddha, tiap orang punya benih Buddha, asalkan membina diri dalam jalan pembebasan dan Bodhicitta, mencapai tingkatan Anuttara (至高無上的境界), semua bisa mencapai ke Buddha an. Maka tiap orang jangan meremehkan diri sendiri. Kau adalah Buddha, Aku adalah Buddha, kita semua adalah Buddha.

Kenapa Saya mau bertanya, "Yaochijinmu, apakah Engkau adalah Buddha?"
Karena dimata manusia awam, Yaochijinmu adalah demikian :
Yaochijinmu adalah Suciwan kuno, Yaochijinmu adalah Ibu Suri Langit, Yaochijinmu adalah Lao Mu, adalah Bunda yang tak dilahirkan.Yaochijinmu adalah salah satu dari Lima tetua Taoisme (道教五老)
Lima Tetua itu adalah (Donghua Dijun / 東華帝君、Yaochijinmu / 瑤池金母、Huo de / 火 德、Shui de / 水德、Huang Lao / 黃老)
Yaochijinmu adalah dewa alam kammadhatu, Yaochijinmu sepertinya tidak ada hubungannya sedikitpun dengan Buddhisme, sepertinya adalah dewa biasa, dewata dari kalangan kepercayaan rakyat, sperti Dewa Tanah, Pangeran ke 3 Nazha (Santaizi / 三太子)、Wangye / 王爺、Makco / Mazhu niangniang (媽祖娘娘)、Bibi Chen (陳靖姑)、Xuantianshangdi / 玄天上帝、Dadaogong / 大道公 dan lain sebagainya… …
Bahkan ada yang memfitnah Yaochijinmu adalah sesat, adalah diluar jalan, adalah produk hasil dari kepercayaan rakyat.
Namun Yaochijinmu yang Saya puja, tidaklah sama dengan apa yang dilihat oleh orang awam, juga tidak sama dengan apa yang di dengar orang awam, sama sekali tidak sama dengan yang dipikirkan oleh kebanyakan orang.

Dari Sutra Pembebasan melalui Samadhi dan Prajna 「Yaochijinmu Dinghui Jietuo Zhenjing - 瑤池金母定慧解脫真 經」、Sutra Pemeliharaan Kesejatian 「Yaochijinmu Yangzheng Zhenjing --- 瑤池金母養正真經」, kita bisa tahu Pintu Dharma Yaochijinmu sangat luas, bagaikan angkasa meliputi segalanya. Pintu Dharma Yaochijinmu adalah sama dengan Para Buddha Sepuluh Penjuru Tiga Masa, ke atas menapaki jalan ke Buddha an, ke bawah menolong makhluk samsara, Pintu Dharma yang memberikan hasil pada mula dan memberikan hasil pada akhirnya, sama sekali tidak menyimpang.
Menjalankan sila dan kebajikan, menekuni samadhi dan prajna. Merupakan kasih mula Tathgata yang bersifat lokuttara, membuka jalan lurus bagi para insan untuk kembali ke asal. Sembilan alam semua berlindung, Sepulu penjuru memuji...
Saya pernah bertanya pada jinmu , "Mengenali hati apa?"
Jinmu menjawab,"Hati Tathagatagarbha"
"Melihat hati apa?"
Jinmu menjawab, "Sifat sejati yang suci."
Bertanya, "Lahir Mati apa yang disudahi ?"
Yaochijinmu mengatakan, "Tiada lahir dan tiada mati."
mata, telinga, hidung, lidah , tubuh , kesadaran ke 6, Manas , Alaya. Dalam kesadaran alaya tathagatagarbha ada batin sejati, ada benih, mengenali jati diri adalah membuktikan sendiri batin sejati.
Membuktikan sendiri kesunyataan adalah melihat sifat sejati.

Begitu Yaochiijnmu selesai berkata kata, tubuh Nya berubah, perlahan naik ke atas, Saya dan Jinmu tiba tiba menuju jauh sekali, sampai di suatu tempat, tiada matahari , tiada rembulan, tiada siang dan malam, namun selalu bercahaya, hamparan lazuardi, hamparan emas permata, serta sapta ratna. Ada pohon yang bisa bergerak dan indah sekali serta manggala, mengeluarkan bunga yang indah, tiap daun mengeluarkan wewangian. Ada kolam ratna, suara alam yang merdu selalu terdengar, pasirnya adalah intan murni, banyak teratai mustika berbagai warna diatas kolam , wanginya menyebar. Ada gedung gedung 7 permata yang saling berhubungan satu sama lain, lantainya dilapisi jade, dan bercahaya mani.
Alat musik Dharma banyaknya tak terhingga, menampilkan segala suara Dharma, bila suara Dharma memasuki telinga, telinga akan menjadi tenang tenteram dan nyaman, batin memperoleh pembebasan. Tiada keruwetan batin.

Saya bertanya, "Tempat apakah ini?"
Jinmu menjawab, "Kolam mestika (Yaochi-瑤池)
"Bagaimana bila dibandingkan dengan alamnya Amitabha Buddha?"
Jinmu menjawab, "Tidak pasti berbeda, juga tidak berbeda.."
Jinmu memberitahu Saya, "Tempat Para Bodhisattva biasanya sangat indah luar biasa, masih ada yang ribuan bahkan pulah ribu kali melebihi ini, begitu juga dengan iddhi juga ada yang ribuan puluhan ribu kali melebihi, Saya Jinmu menggunakan kekuatan prajna telah sampai bhumi sepuluh, mencapai Samyaksambodhi, bahkan sampai di tempat Buddha berada, beberapa tempat ini hanya bisa diketahui antara Buddha dengan Buddha saja."
"Jinmu dapat menuju tempat Buddha?"
Jinmu menjawab, "Tentu saja."

Jinmu kembali menunjukkan iddhi Nya, tiba tiba sampailah disuatu bhumi, bhumi ini tidak ada pembatas, bersinar melebihi sebelumnya, merasa bahwa emas dan jade hanyalah sebuah pasir, keagungan bhumi ini bagai angkasa, sangat luas tak terbatas, tak terperikan.

Saya bertanya, "Bhumi apakah ini?"
Jinmu menjawab, "Tempat Buddha"

Tiba tiba, Yaochijinmu berubah menjadi tubuh Baghavati, sinarnya memancar jauh sekali, tinggi tubuhnya 60triliun yojana, lingkaran cahaya Nya bagaikan milyaran Trisahasra Mahasahasra Lokadhatu, ini adalah rupa yang sungguh indah mengungguli semua makhluk, ini adalah 32 tanda rupa, 80 kerupawanan, Yaochijinmu mampu menampilkan wujud indah para Tathagata.
Saya sangat kaget, Saya mengatakan kepada Yaochijinmu, "dalam Mahanirvana Sutra dikatakan, Buddha memberitahu kepada Mahakasyapa, 700 tahun setelah Aku Parinirvana, akan ada mara Boju yang merusak Dharma lurus, bagai seorang guru tubuh mengenakan jubah Dharma, demikian juga Mara Boju, akan mengambil rupa biksu biksuni, upasaka-upasika, berubah menjadi anagamin, bahkan Arahat dan Buddha. Rajamara menggunakan wujud yang tidak sempurna menyamar menjadi tubuh Yang Sempurna. Merusak Dharma Ku."
Jinmu menjawab, "Benar."

Jinmu memberitahukan Ku, hendaknya melihat dengan kebijaksanaan, seperti yang dikatakan dalam Sutra Intan, Subbhuti dapatkah menggunakan wujud untuk melihat Tahagata ? tidak Baghavan, tidak bisa mengandalkan rupa untuk melihat Tahagata. kenapa ? yang dimakusd sebagai rupa oleh Tahagata bukanlah rupa. Buddha memberitahukan Subhutti, semua wujud adalah ilusi, bila melihat rupa sebagai bukan rupa, berarti melihat Tahagata.
Jinmu memberitahukan Ku, harus menghindari rupa dan wujud, seperti yang dikatakan dalam Sutra Intan, Oleh karena itu Subbhuti, apakah Buddha bisa dilihat dari 32 tanda rupa ke Buddha an ? Tidak, Baghavan, Tathagata tidak bisa dilihat dari 32 tanda kesempurnaan, kenapa ? Apa yang dikatakan sebagai memiliki 32 tanda kesmpurnaan oleh Tathagata bukanlah memiliki 32 tanda kesempurnaan, hanya saja dinamakan memiliki 32 tanda kesempurnaan. Subhuti, apakah Tathagata bisa dilihat dari kelengkapan tubuh yang dimiliki ? Tidak Baghavan, Tathagata tidak bisa dilihat hanya dari kelengkapan tubuh Nya, kenapa? Yang Tathagata katakan sebagai lengkap tubuhnya , bukanlah lengkap wujud, hanya saja dinamakan tubuh wujudnya lengkap.

Gatha : Bila berdasar rupa melihat Ku, dengan suara memohon Ku, maka orang itu menjalankan kesesatan, tidak akan dapat melihat Tathagata.

Saya mendengar kata kata Yaochijinmu jadi tersadarkan, kesunyataan sejati yang Saya peroleh adalah Kebenaran Satu Satu nya, "Tidak lahir dan tidak mati, tidak panjang dan tidak pendek, bukan satu dan bukan berbeda, tidak datang dan tidak pergi." Saya merealisasikan Tathagatagarbha. Saya memahami segala sesuatu, memahami rupa yang sebenarnya, segala yang menyimpang tak akan dapat mengacau, juga tak akan bisa dihancurkan oleh Dewa Mara, yang Saya peroleh adalah yang dikatakan oleh Buddha, apa yang Saya realisasikan bukanlah hasil pengaruh dari pengelihatan, pendengaran maupun kesadaran.

Saya katakan, "Yaochijinmu adalah Buddha !"
我 說: 「瑤池金母是佛!」
wo shuo, "Yaochijinmu shi Fo!"

《盧勝彥文集第161冊──清涼的一念》
Buku Mahaguru Liansheng ke 161  


Jodoh Antara Liansheng Huofo dan Yaochijinmu
蓮生活佛與瑤池金母的因緣

by lien hua shian

intisari ceramah Mahaguru di bln maret dalam dharmadesana api homa yaochijinmu di rainbow villa

...........Sebentar lagi akan memberikan beberapa abhiseka pada Anda sekalian, 7 Mahasadhana Yaochijinmu 「Yaochijinmu qidafa --- 瑤池金母七大法」、Sadhana Tubuh Pengganti Yaochijinmu 「Yaochijinmu tishenfa --- 瑤池金母替身法」、Sadhana Yaochijinmu Pengabul Kehendak 「Yaochijinmu Manyuan Fa---瑤池金母滿願法」、Sadhana Yidam Yaochijinmu 「Yaochijinmu Benzun Fa --- 瑤池金母本尊法」. Mengenai aneka abhiseka Yaochijinmu ini semua termasuk dalam satu kali abhiseka nanti.
Baru saja kita melakukan api homa Yaochijinmu, yang paling penting adalah penyembuhan penyakit oleh Yaochijinmu, memiliki kekuatan besar, terlebih adalah dalam hal wabah.
Menurut Catatan Kisah Para Dewata Tiongkok, Yaochijinmu sendiri adalah memegang kuasa atas semua dewa wabah. Oleh karena itu bila terjadi wabah penyakit, hendaknya memohon pada Yaochijinmu, ini yang tepat.
Membicarakan pengalaman Saya mengenal Yaochijinmu, itu adalah peristiwa awal dulu. Dewata yang pertama Saya kenal adalah Raja Mahadewa, yaitu Yaochijinmu, perkenalan dengan Yaochijinmu adalah titik balik dalam hidup Saya.
Saat Saya berusia 25 - 26 tahun an, baru saja lulus kuliah dan memasuki dunia kerja.... (Mahaguru menceritakan kembali peristiwa wanita berjubah biru memanggil namanya karena Yaochijinmu sedang mencarinya)...

Kemudian Bibi Guru Linqiandai mengatakan, "Kelak tanggung jawabmu sangat berat, kau harus pergi membabarkan Dharma menyelamatkan para insan. Yaochijinmu telah mencarimu sejak lama ! Karena Kamu ada tanggung jawab untuk menyelamatkan insan."

Saat itu Saya berpikir dalam hati, Saya tidak bisa apa-apa, bagaimana menyelamatkan para insan ? "Kamu bilang menyelamatkan para insan, menyelamatkan insan apa ?" , jawabnya "Insan adalah manusia, Kau harus membabarkan Dharma, menyelamatkan para insan."
"Saya hanya kenal para tentara, Saya adalah tentara." Dia menjawab, "Yaochijinmu mengatakan , apakah Kau ingin naik pangkat ? "
Dia menjawab, "Yaochijinmu mampu membuat Mu dengan lancar terus naik jabatan. Bahkan dapat membantu Mu. Apakah permohonan Mu pada Yaochijinmu ? "
Saya menjawab :"Saya mohon jangan sampai dipindah tugahskan sampai terlalu jauh dari rumah."
Yaochijinmu menjawab, "Baik, Aku janjikan pada Mu ini!"
Maka 10 tahun Saya menjabat di ketentaraan, semua ditempatkan di Taizhong. Semua tidak jauh dari rumah, sehingga memudahkan Saya membabarkan Dharma.

Dalam buku Saya ada tertulis, sejak saat itu , Saya kembali ke asrama dan berbaring diatas ranjang, dari jam 9 malam sampai jam 9 pagi saya tidur memadamkan lampu, pada hari itu telah berkelana ke surga dan neraka.
Di Tanah Suci Saya melihat diri Saya sendiri, ada yang berbisik di telinga, "Dia adalah Kamu." "Lihat dengan jelas, Padmakumara itu adalah Kamu."
Maka esoknya Saya segera memberitahu papa mama , mama Saya agak percaya, sedangkan papa Saya sama sekali tidak percaya, beliau mengatakan "Jika Kau adalah Padmakumara, maka berarti Kau lahir dari teratai." papa Saya membaca Novel Fengshen (penganugerahan Dewa) , beliau mengatakan dalam Fengshen yang lahir dari teratai hanya satu, adalah Nazha atau pangeran ke 3 (哪吒三太子) . Jika Kau adalah Bocah Teratai, maka Aku adalah Tuota Tianwang (托塔天王李靖) (ayah dari Nazha). (Papa Mahaguru saat itu bergurau, karena beliau tidak percaya. Namun saat ini papa dari Mahaguru telah bersarana pada anaknya sendiri, Mahaguru Liansheng) Kejadian ini Saya masih ingat benar...

Saya sendiri sangat bersyukur, termasuk orang yang lebih ke arah perasaan, saat Bibi Guru Qiandai (wanita jubah biru) meninggal dunia, Saya sangat ingin menghadiri upacaranya, namun saat itu Saya masih berada dalam penyepian, maka Saya mengutus beberapa Acarya di Taiwan untuk hadir. Karena sebelum meninggal, Bibi Guru Qiandai telah berpesan, harus minta Acarya Zhenfo zong untuk memimpin penyeberangan arwah bagi dirinya. Yang lalu saat Saya kembali ke Taiwan (setelah penyepian) teristimewa mengunjungi Hualian, datang ke tempat ibdah Yaochijinmu tempat Bibi Guru Qiandai untuk menghormat, juga menemui semua anak dan keluarga Bibi Guru.
Saat muda di Yuhuanggong yang Saya temui adalah Bibi Guru, karena Beliau memanggil nama Saya dan menyuruh Saya beranjali dan berlutut, sejak saat itulah Saya mengenal Yaochijinmu. Yaochijinmu membuka mata dewa Saya, membuat Saya mampu melihat semuanya, sehingga Saya mengalami perubahan dalam hidup.

....Zhenfo zong sekarang ada 5 juta siswa, semua Leizangsi dan cetya dapat tersebar di seluruh dunia, simulai dari nidana Mahaguru di Yuhuanggong, dari Bibi Guru Qiandai, dari Yaochijinmu.

Banyak orang menyebut dirinya sebagai umat agama Buddha yang murni, hanya percaya Buddha, Bodhisattva, menurut mereka, Yaochijinmu adalah kepercayaan rakyat, seorang umat Buddha tidak boleh menganut kepercayaan rakyat. Tapi, Saya tidak dapat melupakan budi jasa Yaochijinmu, karena Yaochijinmu lah yang membuka mata dewa dan memberi petunjuk untuk berguru pada Bikus Liaoming (鳴和尚) dan para Guru lainnya, sampai akhirnya Saya menekuni Mahayana dan kemudian Tantrayana, semua ini dimulai oleh Yaochijinmu.

Maka, Saya tidak dapat mengatakan setelah Saya masuk Mahayana, maka Saya melepas Yaochijinmu. Setelah Saya masuk Tantrayana, Saya melupakan Mahayana. Oleh karen itu, Saya menekankan walau Zhenfo zong meyakini Buddha Dharma, Dharma yang diwariskan Sakyamuni Buddha, Mahayana, Tantrayana, berbagai aliran semua baik, namun satu satunya yang tidak dapat Saya lupakan adalah yang membuat Saya memasuki Pintu Buddha Dharma, ini semua adalah bimbingan Yaochijinmu.
Inilah mengapa kita Zhenfo zong sangat menghormati Yaochijinmu. Hari ini Saya membicarakan mengenai nidana dengan Yaochijinmu, sampai sekarang Saya dan Yaochijinmu telah beryukta. Yaochijinmu juga senantiasa beserta Saya, menyatu dengan Saya, tiap Saya melakukan Dharma apapun, Saya selalu berkontak dengan Yaochijinmu.
Saat itu di Yuhuanggong, juga melihat Amitabha Buddha dan Ksitigarbha. Maka menurut Saya, Yaochijinmu, Amitabha Buddha dan Ksitigarbha Bodhisattva adalah tiga Yidam Saya. Maka saat itu Saya berikrar setelah mencapai keberhasilan, Saya pasti membantu Yaochijijnmu, Amitabha Buddha dan Ksitigarbha Bodhisattva. Maka dari itulah ada Raja Dewata Yaochijinmu, Raja Buddha Amitabha Buddha, Raja Bumi Ksitigarbha Bodhisattva 「 Xianwang Yaochijinmu / 仙王瑤池金母、Fowang Amiduofo / 佛王阿彌陀佛、Diwang Dizang Pusa / 地王地藏菩薩」

Saya sendiri merasa memuja Yaochijinmu dan memuja Buddha sama sekali tidak ada pertentangan. Karena setelah Saya beryukta dengan Yaochijinmu, para Buddha Bodhisattva semua beryukta pula dengan Saya. Saya mampu beryukta dengan semua Dharma, karena Sadhana Yaochijinmu beryukta, maka sadhana lain juga akan beryukta pula.

Mohon Anda pikirkan, sampai sekarang, setelah Agama Buddha dari India, mulai dari agama Buddha awal sampai sekarang, tersebar di Tibet, juga telah saling menyatu dan mempengaruhi dengan kepercayaan asli Tibet sehingga menjadi Buddhisme Tibet. Tibetan Buddhisme ada perbedaan dengan Buddhisme awal di India.
Setelah agama Buddha masuk Tiongkok, juga melebur dengan Taoisme, menjadi Buddhisme Tiongkok. Pada awal Sutra Buddha memasuki Tiongkok, masih menggunakan filsafat Laozi dalam menjelaskan Sutra Buddha. Coba Anda lihat jubah yang dipakai oleh biksu Buddhisme Tiongkok, juga tanda sila yang di titik kan di kepala, semua itu tidak ada pada jaman Sang Buddha. Buddhisme di tempat lain tidak ada yang memakai tanda titik sila (ket : hio panas yang disentuhkan di kepala untuk membuat tanda) . Setelah Buddhisme masuk ke Korea menjadi Buddhisme Korea, kemudian Buddhisme Tiongkok dan Korea masuk ke Jepang menjadi Buddhisme Jepang. Upacara Buddhisme jepang, tata cara nya juga , tidak peduli itu Mahayana maupun Tantrayana, tidak sama dengan Buddhisme Tiongkok. ...
Maka Mahaguru Lu juga mensinkretisme kan Yaochijinmu dengan Buddhisme, menjadi ciri Buddhisme Mahaguru Lu. Dalam hal ini tidak ada kesalahan apapun. Tahukah Anda? dalam Buddhisme Tibet banyak sekali dewa pelindungnya adalah Dewa Gunung Tanggula (唐古拉山) , juga 5 Dewi Panjang Usia, Mahasri Devi, Mahakala Putih, semua itu awalnya adalah kepercayaan di Tibet. kemudian bersinkretisme dengan Buddhisme berubah menjadi Buddhisme Tibet.
.........
Buddhisme menyebar ke Taiwan, salah satu garis sislsilah nya ada Yaochijinmu, merupakan sinkretisme antara kepercayaan setempat dengan Buddhisme. Inilah Buddhisme Taiwan Lushengyan, jadi Saya rasa sama sekali tidak bertentangan. ...
Maka bila kita menengok sejarah Buddhisme, kemana Buddhisme menyebar, pasti bersinkretisme dengan kepercayaan setempat.
Apakah agama Buddha yang paling murni itu ?
Karena masa Sakyamuni Buddha, jubah yang dipakai oleh Buddha dan jubah yang dipakai oleh para Arahat, jubah yang dipakai para siswa, sampai sekarang semua tidak sama.
Pakaian , makanan minuman, gaya hidup dan kebiasaan semua telah mengalami perubahan, semua mengalami perubahan.

Maka, tidak ada yang boleh maupun tidak boleh, asalakan kita memiliki sraddha pada BUddha Dharma dan tidak meninggalkan Buddha Dharma, maka Anda adalah Buddhisme yang murni.

Coba lihat, kita orang Tionghoa sangat memuja Yaochijinmu, Raja Dewata kita Yaochijinmu, Beliau juga memahami Buddha Dharma. Kita semua orang boleh menekuni Dharma, jadi mengapa para dewata tidak boleh menekuni juga ?

Maka seperti halnya Buddhisme India, bukan hanya ada Buddha saja, saat itu juga ada Dewi Gangga (恆河女神),juga ada banyak Dakini (空行母).
Dalam Buddhisme india juga ada tercampur dengan Dewa Dewi agama Hindu, seperti Brahma Dewa Pencipta (大梵天) , Visnu Dewa Pelindung (遍淨天), Mahamahesvara Dewa Perusak (大自在天) .
Kenapa Buddha senidri mensinkretisme kan Buddhisme dengan Hinduisme ? Karena Buddha tahu, harus ada hati ingin melampaui fana 「chulixin / 出離心」,Bodhicitta 「Putixin / 菩提心」,Madhyamika 「Zhongguan / 中觀」dan Yogacara 「Weishi / 唯識」.

Asalkan tidak melenceng dari melampaui fana 「出離心」、Bodhicitta 「菩提心」、Madhyamika 「中觀」dan Yogacara 「唯識」,ini adalah Buddha Dharma.

Ceramah Transmisi Sadhana Kalachakra di Sentul, Indonesia 25 Maret 2012 Oleh Dharmaraja Lian Sheng


Mahasadhana Rantai Vajra Kalacakra
Ceramah Upacara Agung Homa Rantai Vajra Kalacakra di Indonesia Tanggal 25 Maret 2012 Oleh Dharmaraja Lian Sheng

Pertama-tama, marilah kita sembah sujud pada guru silsilah Bhiksu Liaoming, sembah sujud pada Guru Sakya Dezhung, sembah sujud pada Gyalwa Karmapa XVI, sembah sujud pada Guru Thubten Dhargye. Kita sembah sujud pada adinata homa hari ini, Buddha Kalacakra, sembah sujud pada Triratna Mandala, Buddha-Dharma-Sangha, Namo Buddhaya, Namo Dharmaya, Namo Sanghaya.

Gurudhara, Para Acarya, Dharmacarya, Lama, Pandita Dharmaduta, Pandita Lokapalasraya, ketua vihara, para umat se-Dharma, serta umat se-Dharma di internet, tamu kehormatan kita hari ini, Ketua DPP Walubi Ibu Dra. S. Hartati Murdaya, wakil ketua, sekjen, wakil sekjen, dan seluruh jajaran pengurus Walubi, semua adalah tamu kehormatan kita.

Selain itu, mantan Dirjen Bimas Buddha Setyawan, selamat datang, masih banyak lagi tamu kehormatan kita yang lain yang tidak sempat kita perkenalkan satu per satu.

Sekarang, waktu menunjukkan pukul setengah 6 sore, pukul 6 sudah makan malam, sisa 30 menit, mohon Kalacakra gunakan cara yang tersingkat, menyampaikan pada seluruh insan cara mencapai alam suci Shambala melalui Sadhana Kalacakra. Pertama-tama, terima kasih pada panitia penyelenggara upacara kali ini, dan seluruh relawan, mereka dalam waktu yang sangat singkat, membangun altar mandala demikian, semua relawan, semua organisasi, saya memberikan penghormatan pada mereka. Karena altar mandala demikian rampung dalam waktu beberapa hari saja, nyatalah bahwa, mereka sangat sungguh-sungguh, bahkan sangat gigih, sangat tekun; terima kasih juga, upacara kali ini dapat terselenggara, semua berkat bantuan dan dukungan dari para tamu kehormatan, terima kasih pada mereka; (hadirin tepuk tangan) juga terima kasih kepada seluruh umat se-Dharma dari berbagai penjuru dunia yang datang mendengarkan Dharma selama 30 menit ini. (Hadirin tepuk tangan) Saya harus menyelesaikan ceramah sadhana ini dalam waktu 30 menit, sangat tidak mudah. Oleh karena itu, kalian juga harus berterima kasih pada saya, nyaris seperti film "Mission Impossible" sekuel 1, 2, dan 3. Bagaimana saya menyampaikan Mission Impossible saya ini? Hari ini menjelaskan Sadhana Rantai Vajra Kalacakra, "Rantai Vajra" adalah sebuah julukan simbolik, "Sadhana Kalacakra" adalah satu seri, selain, Sadhana Yidam, juga ada satu seri sadhana, sementara, sadhana yang terakhir, tertinggi, dan anuttara, adalah "Sadhana Rantai Vajra".

Di Chang Hung Temple, Panama, saya menjelaskan tentang "Penyatuan Surya dan Candra", apa itu "surya"? Apa itu "candra"? Sebenarnya, surya, candra, api, air, Yin, dan Yang, semua tercakup dalam Penyatuan Surya dan Candra. Apa yang dimaksud "Cakra Berhenti Berputar"? Ketika kita bermeditasi, memasuki samadhi yang paling dalam, saat hampir semua perputaran berhenti, disebut "Cakra Berhenti Berputar". Ketika kita bermeditasi, memasuki samadhi, meditasi yang paling dalam, disebut "puncak Yin", juga merupakan "Kun Liu Duan", dengan katan lain, puncak tertinggi dari Yin, saat memasuki kondisi paling hening dan musnah, akan menghasilkan "Satu Yang Datang Kembali", maka kita pun akan melihat cahaya.

Menekuni ajaran Tantra, yang terpenting adalah "surya" -- "Yang" melambangkan api; "air" melambangkan "bulan", "Yin" melambangkan "air", ketika air dan api saling melebur di cakra hati, cakra hati terbuka, di dalam ada sebuah "prana kehidupan", Ia akan memancarkan cahaya. Benda ini disebut "bindu abadi", bindu yang tak akan hancur selamanya.

Teratai berkelopak delapan terbuka, di dalam pusatnya, ada sebuah bindu, yaitu "simpanan sejati" kita, dengan kata lain prana kehidupan kita. Di dalam Tantra disebut "prana kehidupan", disebut juga "bindu abadi". Ketika kita melihat ke dalam diri kita, melihat bindu abadi, saat ini akan menghasilkan cahaya, inilah cahaya bindu yang dipancarkan oleh bindu. Ketika cahaya bindu ini terpancar, itulah memahami hati dan menyaksikan Buddhata, kita telah menyaksikan Buddhata, cahaya bindu adalah Buddhata. Di antara Acarya kita, Acarya Lianwang, apakah Anda melihat cahaya bindu? Ya! Di antara Acarya kita, ada beberapa yang telah melihat cahaya bindu, inilah menyaksikan Buddhata. Di dalam Tantra, di dalam semua Buddhadharma, yang terpenting adalah memahami hati, dengan kata lain, kita telah mencapai pencerahan, mengetahui kebenaran alam semesta, disebut "memahami hati", apa itu "menyaksikan Buddhata"? Ketika kita menekuni Tantra hingga cakra hati terbuka, kita melihat ke dalam diri kita, pejam mata kita, meditasi sampai tingkat terdalam, teratai berkelopak delapan terbuka, kita melihat bindu, bindu ini adalah Buddhata kita, disebut "menyaksikan Buddhata".

Sebenarnya, memahami hati dan menyaksikan Buddhata itu sangat sulit, dalam tak terukur, bahkan kita mesti menyingkirkan semua keserakahan, kemarahan, kebodohan, keraguan, dan kesombongan, kita tidak boleh membunuh, mencuri, berdusta, berjinah, dan mabuk-mabukan.

Saya ceritakan sebuah cerita sederhana pada kalian semua, Tong Sam Cong di dalam novel "Catatan Perjalanan ke Barat", Ia sendiri adalah cahaya bindu, Ia sendiri adalah sesosok Buddha. Buddhata itu tidak membeda-bedakan, Ia membawa serta 4 orang, pertama adalah Sun Go Kong, apa itu Sun Go Kong? Kera, api; juga membawa serta Cu Pat Kai, apa itu Cu Pat Kai? Air, merupakan sifat keserakahan; kemudian, membawa serta Sha Wu Cing, Ia sama dengan sifat kesetaraan, tidak membedakan baik maupun jahat, mereka berempat pergi mengambil kitab suci, ini ada artinya. Di antara keempat orang ini, di antara mereka ada seekor kera, yaitu Sun Go Kong, satu lagi adalah kuda, yaitu seekor kuda naga yang ditunggangi Bhiksu Tong, Ia menunggang kuda dan keserakahan, sedangkan Sha Wu Cing melambangkan kebodohan, Sun Go Kong melambangkan kemarahan, sehingga ada keserakahan, kemarahan, dan kebodohan, kera, kuda, dan Buddhata bersama-sama ke Hindustan untuk mengambil kitab suci.

Tong Sam Cong bertiga berwisata naik pesawat terbang, di tengah perjalanan, terjadi kecelakaan pesawat terbang, namun, hanya ada 3 parasut, sehingga Tong Sam Cong pun berkata, "Mari kita melakukan tanya jawab, siapa yang tidak bisa menjawab, loncat ke bawah." Bhiksu Tong bertanya pada Go Kong, "Ada berapa matahari di langit?" Go Kong menjawab, "Satu." Bhiksu Tong menjawab, "Baik, satu parasut untukmu." Bhiksu Tong bertanya pada Bhiksu Sha, "Ada berapa bulan di langit?" Sha Wu Cing menjawab, "Satu." "Baik, kamu juga diberikan satu parasut." Pat Kai sangat senang, "Pertanyaan semudah ini, saya pasti bisa jawab." Bhiksu Tong bertanya pada Pat Kai, "Ada berapa bintang di langit?" Alhasil, Pat Kai pun loncat ke bawah. Selanjutnya, tak lama kemudian, mereka berempat berwisata naik pesawat terbang lagi, di tengah perjalanan, terjadi kecelakaan lagi, hanya ada 3 parasut, mereka pun melanjutkan tanya jawab. Bhiksu Tong bertanya, "Go Kong! Kapan Mainland China berdiri?" Go Kong menjawab, "Tahun 1949." Wah! Tepat sekali. Bhiksu Tong menjawab, "Baik, satu parasut untukmu." Bhiksu Tong bertanya pada Sha Wu Cing, "Berapa orang yang tewas dalam perang pembebasan?" Sha Wu Cing menjawab, "Dua setengah juta orang." Bhiksu Tong berkata, "Baik, kamu juga diberikan satu parasut." Sekarang, Bhiksu Tong bertanya lagi pada Pat Kai, "Siapa-siapa nama dari 2 setengah juta orang tersebut?" Pat Kai terpaksa loncat ke bawah. Ketiga kali, mereka berempat berwisata naik pesawat terbang lagi, di tengah perjalanan terjadi kecelakaan lagi, saat ini Pat Kai berkata, "Guru! Anda tidak perlu bertanya lagi, saya loncat sendiri!" Kemudian, Pat Kai pun loncat ke bawah, Bhiksu Tong beranjali, "Amitabha! Kali ini ada 4 parasut." (Mahaguru tertawa, hadirin tertawa dan tepuk tangan) Mengapa saya menceritakan kisah ini?

Sebenarnya, Buddhata itu membawa serta keserakahan -- yaitu Pat Kai, kemarahan -- yaitu Go Kong, kebodohan -- yaitu Sha Wu Cing. Hari ini kita hendak menyaksikan Buddhata, kita harus terlebih dahulu menyingkirkan keserakahan, selanjutnya meredakan kemarahan kita, selanjutnya menyingkirkan kebodohan kita, kita mesti menyingkirkan keserakahan, kemarahan, dan kebodohan, Buddhata kita baru akan muncul, ini adalah teori umat Buddha yang paling mendasar. Kita harus menyingkirkan semua keserakahan, kemarahan, kebodohan, keraguan, dan kesombongan, kemudian tutup mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran kita, karena, jika kita dapat menutup keenam indera ini, kita baru dapat menyaksikan Buddhata, karena keenam indera ini terpolusi, mata -- polusi rupa, telinga -- polusi mendengar suara yang merdu, hidung -- polusi mencium wangi dan bau, lidah -- polusi rasa, tubuh -- polusi sentuhan, sedangkan pikiran, banyak pikiran mencemari pikiran kita. Jadi, kita harus lebih dulu menutup keenam pencuri ini, kemudian bunuh keserakahan, kemarahan, dan kebodohan, Buddhata kita pun baru bisa muncul dan menyaksikan cahaya bindu. (Hadirin tepuk tangan)

Saya jelaskan lagi yang lebih dalam, sebenarnya, sangat dangkal juga. Tadi malam, Buddha Kalacakra menampakkan diri pada saya, Ia berkata pada saya, "Anda harus menyampaikan seperti ini, semua orang akan mengerti, semua orang akan mengerti, apa itu api? Api adalah "satu". Apa itu air? Air adalah zero "nol"." Mengapa air dan api diilustrasikan dengan "satu" dan "nol"? Bagaimana manusia terlahir, Buddha mengajarkan kita teori menjadi seorang manusia sejati, sekarang saya tidak menjelaskan "teori menjadi seorang manusia saleh" yang disabdakan oleh Sang Buddha, melainkan menjelaskan teori manusia memproduksi manusia. Bagaimana Anda terlahirkan? Barusan ada 43 pasang mempelai yang menerima pemberkatan nikah, sepulangnya, mereka pun belajar "memproduksi manusia", suami istri harmonis, anak-anak terlahir. Dulu, ketika guru menjelaskan tentang kesehatan fisik, selalu menghindari topik ini, karena ini adalah "teori memproduksi manusia". Kalacakra berkata pada saya, "Anda jelaskan apa itu satu, apa itu nol. Sebenarnya segala sesuatu berasal dari nol dan satu." Setelah ke-34 pasang mempelai ini menerima pemberkatan nikah, mereka pun tahu. Apa itu "satu"? Jangan berpikiran negatif. Apa itu "nol"? Juga jangan berpikiran negatif. Ketahuilah! Yang keluar dari pria, semua adalah "satu". Sedangkan, kesuburan wanita, justru mengandalkan sebuah "nol", semua adalah cacing! Cacing "satu", sekawanan cacing "satu" berlomba, menyerbu ke sebuah cacing bulat, yang pertama kali menyentuh, ia pun masuk, dan terbentuk, kemudian mengandung 10 bulan, terlahirlah seorang anak. Inilah kekuatan baru Zhenfo Zong di masa yang akan datang. (Hadirin tepuk tangan) Tepat sekali yang disabdakan Buddha Sakyamuni,

"Manusia terbentuk dari cacing." Manusia berasal dari cacing, cacing "satu" dan cacing "nol" menyatu dan berubah menjadi cacing diri Anda, juga berubah menjadi cacing diri saya, semua orang adalah cacing. Sang Buddha bersabda bahwa tubuh manusia adalah sarang cacing! Lihatlah, dulu sekali, Sang Buddha pun telah mengetahui penyatuan antara "satu" dan "nol". Kita sangat beruntung, karena setiap dari kita yang duduk di sini, semua adalah juara satu
Buddha Kalacakra bersabda, api pada diri kita adalah "Yang", air, bindu, hormon pada diri kita adalah "Yin". Api kita masuk ke dalam air, itulah "Penyatuan Surya dan Candra", "Cakra Berhenti Berputar". Mari kita renungkan sejenak, api berbentuk memanjang dan naik, air berbentuk lingkaran dan turun, sinar prajna yang kita lihat, yaitu altar mandala kita yang sekarang, sekarang Mahaguru sama halnya dengan Buddha Kalacakra yang duduk di tengah-tengah altar mandala, acarya yang berada di sisi kiri dan kanan, serta seluruh bhiksu/ni Lama adalah kerabat, inilah Penyatuan Surya dan Candra. Setelah kita melihat matahari dan bulan menyatu, Yin dan Yang menyatu, saat ini, kita pun melihat cahaya bindu, saat kita memotret, bukankah kita sering melihat sinar prajna? Di dalam prajna ada sebuah mandala, mandala yang berbentuk lingkaran, seperti kita sekarang, mandala substansi yang berbentuk lingkaran, di tengah angkasa, tak terhingga, semua sinar prajna, mandala yang terdapat banyak sekali Buddha, Bodhisattva, dan para makhluk suci, turun di tempat ini. (Hadirin tepuk tangan) Setelah menyaksikan sinar prajna, melihat Buddhata sendiri, mata Anda harus melihat dengan jelas! Kenali sinar prajna ini, jaga Buddhata ini, kita harus konsisten menjaga Buddhata ini. Untuk apa menjaga-Nya? Agar Ia tidak goyah, Ia adalah bindu abadi, tidak goyah. Ketika hati kita hening dan musnah, sinar Buddhata pun muncul. Mengapa Buddha Sakyamuni bersabda "keheningan dan kemusnahan adalah kebahagiaan", mengapa? Setelah hening dan musnah, apapun tidak ada lagi, apa yang dimaksud kebahagiaan?

Ketika kita melihat cahaya bindu, melihat Buddhata, kebahagiaan yang dihasilkan, tak terhingga. Turunnya air adalah semacam kebahagiaan, naiknya api juga semacam kebahagiaan, prana bergerak di seluruh tubuh kita juga semacam kebahagiaan, kebahagiaan demikian di dalam Tantra disebut "Mahasukha", bukan kebahagiaan awam antara pria dan wanita. Kebahagiaan awam antara pria dan wanita adalah kebahagiaan sementara, merupakan kebahagiaan awam.

Kebahagiaan yang dijelaskan hari ini adalah kebahagiaan dari pergerakan prana, kebahagiaan dari turunnya air, kebahagiaan dari naiknya api. Air disebut "cairan bulan Bodhicitta", api disebut "api kundalini", "api kundalini" adalah "satu", "bindu" adalah "nol", ketika turun, menyatu di cakra hati, akhirnya cakra hati kita terbuka, saat kita menyaksikan Buddhata, itulah penyatuan antara satu dan nol, disebut "Penyatuan Surya dan Candra", "Cakra Berhenti Berputar".

Asalkan kita menyaksikan cahaya bindu dari Penyatuan Surya dan Candra muncul, kita melihat ke dalam diri kita, melihat cahaya bindu, bagus sekali, cahaya bindu bisa menghasilkan semacam tabung cahaya di dalam nadi tengah kita, tabung cahaya yang dihasilkan ini adalah sebutir demi sebutir cahaya bindu yang mulai muncul.

Awalnya sebuah, selanjutnya berubah menjadi 2 buah, selanjutnya berubah menjadi 3 buah, berubah menjadi 4 buah, semakin dilihat semakin banyak, terangkai menjadi topik hari ini "Rantai Vajra". Tidak hanya melihat sebuah cahaya, karena sebuah cahaya tersebut hanya Buddhata kita sendiri, namun, Buddhata bisa tumbuh, bisa bertambah, bisa bertambah jumlahnya dan tumbuh. Mengapa? Karena kita melatih diri menggunakan sadhana Tantra, di dalam meditasi, kita menyaksikan sebuah Buddhata, selanjutnya, kita belah menjadi sebuah Buddhata, belah lagi menjadi 2 buah Buddhata, belah lagi menjadi 3 buah Buddhata, belah lagi menjadi 4 buah Buddhata, inilah yang disebut "titisan di luar tubuh". (Hadirin tepuk tangan)

Sang Buddha sendiri memiliki banyak nirmanakaya, triliunan nirmanakaya. Saat kita japa nama agung Buddha, "Namo San Shi Liu Wan Yi Yi Shi Yi Wan Jiu Qian Wu Bai Tong Ming Tong Hao Amituofo", Namo San Shi Liu Wan, sama dengan 3 triliun, cahaya tak terhingga dari Buddha Amitabha, disebut juga Amitayus, cahaya tak terhingga. Nirmanakaya-Nya sangat banyak, muncul banyak nirmanakaya. Bodhisattva Avalokitesvara juga sama, memiliki triliunan nirmanakaya, ini tidak dapat dibayangkan oleh manusia biasa. Hanya ada sebuah Buddhata, mengapa bisa menitis menjadi banyak? Inilah bermacam-macam benda yang merupakan gabungan dari hati dan prana di dalam nadi tengah kita, mencakup air, api, prana hati, semua bergabung, dan melahirkan sebuah titisan lain, sebuah cahaya bindu melahirkan cahaya bindu kedua, melahirkan cahaya bindu ketiga, melahirkan cahaya bindu keempat, sehingga menjadi Rantai Vajra.Kita belajar Buddhadharma, setiap kali harus sangat tekun, bahkan harus membuktikan, membuktikan Buddhata yang kita saksikan. Selanjutnya, Buddhata pun akan meningkat perlahan-lahan, kita memperhatikannya terus-menerus, melatihnya terus-menerus, maka akan menjadi 2, 3, 4, 5 buah, semuanya sama-sama Buddhata kita, di dalamnya, semua adalah diri kita. Seperti nirmanakaya Bodhisattva Avalokitesvara, semua adalah Bodhisattva Avalokitesvara, nirmanakaya Buddha Amitabha, semua adalah Buddha Amitabha, ini justru dihasilkan dari Rantai Vajra. Kemudian, kita berlatih sungguh-sungguh. Namun, mengapa Rantai Vajra bisa stabil, karena hati kita tidak bergerak, maka bisa stabil, itulah meditasi, saat satu, titik ini tidak akan bergerak. Rantai Vajra dan cahaya bindu yang barusan kita lihat itu sendiri bisa bergerak, bisa berpindah-pindah, ketika kita menetap pada sepenuh hati tidak galau, cahaya bindu itu tidak bergerak, yang muncul di dalamnya adalah yidam kita sendiri, yaitu diri kita. Kemudian? Tidak hanya sebuah Rantai Vajra, ia akan berubah menjadi Layar Vajra. Bagaimana menjelaskannya? Ada sebuah cerita, seorang bernama Xiaoli memainkan piano untuk temannya, sehabis memainkan piano, lantas bertanya pada temannya, "Bagaimana permainan piano saya?" Teman ini pun berkata, "Kamu seharusnya main piano di dalam acara televisi, supaya semua orang menontonnya." Xiaoli pun bertanya, "Apakah permainan piano saya sebagus itu?" Temannya pun berkata, "Jika kamu main piano di televisi, saya pun bisa langsung mematikan televisinya." Permainan piano tidak bagus, televisi pun dimatikan. Hari ini, kita ada siaran internet, semua orang sedang menyaksikan, saya juga bisa menyaksikan gaya saya sendiri sedang berceramah Dharma, semua bisa terlihat.

Rantai Vajra akan berubah menjadi Layar Vajra, apa itu Layar Vajra? Sebuah contoh sederhana, seperti televisi yang tadi saya katakan, yang muncul di dalam televisi adalah cahaya bindu yang bergabung menjadi sebuah Layar Vajra, awalnya adalah cahaya bindu, berubah menjadi Rantai Vajra, Rantai Vajra bergabung, akan menjadi seruas demi seruas garis, seruas garis vertikal, seruas garis horisontal, garis horisontal dan garis vertikal bergabung menjadi titik cahaya, saat ini pun berubah menjadi Layar Vajra. Setelah berubah menjadi Layar Vajra, jika kita memiliki pencapaian samadhi, saat di dalam meditasi, perhatikan ke dalam dengan saksama, kita pun akan melihat Buddha. Semua Buddha yang muncul dari dalam Layar Vajra, semua lebih dulu muncul setengah badan, kemudian muncul seluruh badan, Buddha yang terhitung bisa muncul di dalam Layar Vajra yang tak terhitung. Setelah semua Buddha muncul, akan berkata pada Anda, "Anda telah mencapai kebuddhaan." Saat ini, semua Buddha di dalam Layar Vajra, semua berubah menjadi yidam kita, kita pun memasuki yidam, dan kita pun mencapai kebuddhaan. Apa yang dimaksud "mencapai kebuddhaan dalam tubuh sekarang"? Setelah melihat cahaya bindu, kemudian menambah titisan kita menjadi Rantai Vajra, Rantai Vajra bertambah lagi, menjadi Layar Vajra, di dalam Layar Vajra, selain muncul semua Buddha, lebih dulu muncul setengah badan, kemudian seluruh badan. Berkata pada kita, "Anda telah mencapai kebuddhaan." Oleh karena itu, pentingkah meditasi dalam melatih diri? Meditasi sangat penting, hanya saat kita bisa bermeditasi, bisa melihat cahaya bindu Buddhata kita sendiri, kelak baru dapat menghasilkan Rantai Vajra dalam pelatihan diri kita, selanjutnya, lewat Rantai Vajra, dilatih menjadi vertikal, horisontal, bergabung menjadi Layar Vajra yang tak terhingga, di dalam Layar Vajra yang tak terhingga, kita melihat yidam kita sendiri, kemudian berubah menjadi yidam sendiri, yidam yang tak terhingga, yakni penjelmaan Buddhata kita. Saat ini, disebut "mencapai kebuddhaan dalam tubuh sekarang".

Kita tidak dapat membeli benda asli dengan benda palsu. Tubuh kita ini palsu, tubuh kita multak tidak dapat mencapai kebuddhaan. Karena, tubuh kita tercipta dari tanah, air, api, angin, dan udara, untuk mencapai kebuddhaan, tentu harus ada benda asli baru bisa mencapai kebuddhaan, benda palsu tidak dapat mencapai kebuddhaan. Di dalam Tantra, diri kita harus menyaksikan cahaya bindu diri sendiri, inilah meditasi. Saat meditasi sampai tingkat terdalam, "Air dan Api Melebur", "Surya dan Candra Menyatu", "Cakra Berhenti Berputar", "Satu Yang Datang Kembali", melihat cahaya, inilah Buddhata kita, disebut menyaksikan Buddhata. Hanya dengan pelatihan diri demikian, baru dapat mencapai kebuddhaan. Ada seorang anak kecil, bawa uang ke toko mainan untuk beli pesawat terbang, pegawai toko berkata padanya, "Uangmu palsu, kamu tidak bisa beli dengan uang palsu." Si anak kecil berkata, "Pesawat terbangmu juga bukan pesawat terbang asli, saya menggunakan uang palsu untuk membeli pesawat terbang palsu." Kita tidak mungkin membeli pesawat terbang asli dengan uang palsu, membeli benda palsu dengan uang palsu, juga tidak mungkin. Jadi, hari ini saya menyampaikan apa yang dulu guru saya ajarkan pada saya, "Kita harus melatih meditasi."

Di dalam Tantra, disebut "air turun, api naik". Di dalam cakra hati terbuka, penyatuan surya dan candra, peleburan air dan api, setelah kita melihat cahaya bindu, kita jadikan cahaya bindu tersebut sebagai yidam, selanjutnya menghasilkan serangkaian cahaya bindu, kemudian menghasilkan Layar Vajra, kemudian, perhatikan munculnya semua Buddha Bodhisattva, Buddha memberitahu kita bahwa kita telah mencapai kebuddhaan, semua berubah menjadi diri kita, ketika Para Buddha berubah menjadi diri kita, juga berubah menjadi yidam kita, baru disebut mencapai kebuddhaan dalam tubuh sekarang, baru disebut yoga yang sejati.

Sadhana ini sangat bagus, mudah dibicarakan, sulit ditekuni. Apa yang disebut bagus? Istri memasak, bertanya pada sang suami, "Sayang, bagaimana rasa ayam masakan saya?" Sang suami berkata, "Lumayan." Sang istri bertanya, "Kalau sayuran?" Sang suami berkata, "Biasa saja." Sang istri bertanya lagi, "Ikan ini?" Sang suami berkata, "Masih bolehlah." Sang istri bertanya, "Memangnya kamu tidak bisa mengucapkan satu kata "bagus"? Sang suami minum sesendok sup dan berkata, "Hao Tang." (panas sekali) Akhirnya ada satu kata "Hao" (bagus), yaitu Hao Tang (panas sekali). Di mana kebaikan utama dari Tantra itu sendiri? Kebaikan Tantra ada pada kita dapat mencapai kebuddhaan dalam tubuh sekarang.

Kita harus tekun setiap hari. Pekerjaan rumah Xiaobao selalu lebih baik daripada Xiaoming, suatu hari ayah bertanya, "Xiaoming, ujian semester kali ini, Xiaobao mendapat nilai berapa?" Xiaoming berkata, "Ia dapat nilai 95." Ayah bertanya, "Lumayan, Xiaobao dapat nilai 95, bagaimana denganmu, Xiaoming? Xiaoming berkata dengan sombongnya, "Nilai saya sedikit lebih banyak." Ayah sangat senang. Ia berkata, "Nilai 96?" Ia berkata, "Bukan, di kertas ujian tertulis 9,5." Sedikit lebih baik. Tantra tidak hanya sedikit lebih baik, kebaikan Tantra ada pada mencapai kebuddhaan dalam tubuh sekarang, kebaikan Tantra tidak hanya meditasi, ia memiliki cara melatih diri, seperti melatih prana, melatih nadi, melatih bindu, melatih peleburan air dan api, melatih penyatuan surya dan candra, melatih Satu Yang Datang Kembali, melatih melihat cahaya, melihat cahaya Rantai Vajra, melihat cahaya Layar Vajra, cahaya Layar Vajra yang tak terhingga, di dalamnya muncul Buddha, serta kontak yoga dengan yidam kita, kita sendiri akan memasuki Layar Vajra. Dengan kata lain, kita sendiri kontak yoga sepenuhnya dengan Buddha, kita adalah Layar Vajra, dengan kata lain, Buddha yang tak terhingga dan Buddhata kita, sepenuhnya adalah Buddhata yang sama.

Hari ini terima kasih atas kedatangan Anda semua, juga terima kasih kepada seluruh tamu kehormatan. Yang saya sampaikan hari ini sangat singkat dan ringkas, Kalacakra pun telah turun di altar mandala. Yang namanya Rantai Vajra, semua orang telah mengerti, Rantai Vajra bukan hanya mengacu pada Rantai Vajra yang berwujud, juga ada Rantai Vajra yang tak berwujud, Layar Vajra ada yang berwujud, juga ada Layar Vajra yang tidak berwujud, tubuh kita terdapat api dan air yang berwujud, juga terdapat air dan api yang tak berwujud, ada surya dan candra yang tak berwujud, juga ada Yin dan Yang yang tak berwujud. Hari ini, saya tidak ada sesuatu untuk diberikan pada Anda, justru sesimpel inilah. Ada sebuah cerital lucu, ada seorang pengemis berkata pada wanita yang kebetulan lewat,

"Kakak, saya sudah 2 hari tidak makan, bolehkah berikan saya sedikit kue tar?" Kakak berkata, "Kue tar? Saya tidak punya, saya punya nasi, tidak punya kue tar." Pengemis ini menjawab, "Kalau biasanya, saya terima apa adanya, tapi hari ini adalah ulang tahun saya." Pengemis itu meminta kue tar karena ia berulang tahun, hari ini, yang saya berikan pada Anda semua adalah nasi dan juga kue tar. Buddhata! Kita semua tidak perlu berebut. Ada seseorang mendatangi sebuah bank, ia berkata pada pengawai bank, "Saya mau tarik uang." Pegawai berkata, "Berapa account number (nomor rekening) Anda?" Si bapak itu berkata, "Jika saya punya nomor rekening, buat apa saya menodong Anda dengan pistol?" Maksudnya adalah, Buddhata tidak bisa direbut, melainkan benda dalam diri kita, cahaya bindu adalah benda di dalam tubuh kita, air dan api adalah benda di dalam tubuh kita, Rantai Vajra adalah benda di dalam tubuh kita, Layar Vajra adalah benda di dalam tubuh kita, semua Buddha adalah benda di dalam tubuh kita. Hanya dengan kontak yoga dengan Buddha, setelah mencapai kebuddhaan dalam tubuh sekarang, akhirnya Anda mengerti bahwa semua Buddha sama dengan diri Anda sendiri, setelah Anda berhasil dalam melatih diri, sepenuhnya sama, setara dan tidak ada bedanya.

Di sini, kita mengundang Buddha Kalacakra memberkati Indonesia, agar iklim di Indonesia teratur, negara makmur dan rakyat aman sentosa. Tadinya menjelaskan sadhana ini harus lebih detil dan terperinci, harus dijelaskan dari prana, dari bindu, dari api kundalini, terakhir menjelaskan tentang "Penyatuan Surya dan Candra", "Cakra Berhenti Berputar", kemudian "Satu Yang Datang Kembali", di dalam meditasi kita melihat cahaya bindu, harus dijelaskan seperti ini baru ada sebuah lanjutan, dengan kata lain ada sebuah urutan. Di Taiwan Lei Tsang Temple, saya mengulas tentang Hevajra, justru harus dijelaskan perlahan-lahan seperti itu, agar kita semua paham. Sebenarnya sadhana

Tantra ada kaitannya dengan alam semesta. Oh! Saya lupa menyampaikan bahwa, cahaya bindu Anda -- Buddhata, kapan baru dapat berubah menjadi yidam? Tadi malam, Kalacakra berkata pada saya, "Ketahuilah, ketika satu menyatu dengan nol dalam diri manusia, butuh berapa lama baru bisa terlahir? Butuh 10 bulan." Kalacakra mengungkapkan sebuah rahasia pada saya, ini adalah rahasia terbesar, ketika kita melihat cahaya bindu, kita perhatikan cahaya bindu tersebut, setiap hari melatih meditasi, perhatikan cahaya bindu, dengan kata lain, melakukan teknik "Wenyang". Saat ini, butuh berapa lama, agar cahaya bindu kita berubah menjadi Rantai Vajra yang tak terhingga, kemudian berubah menjadi Layar Vajra yang tak terhingga? Menurut penuturan Kalacakra, kita harus menghabiskan waktu 10 bulan, cahaya bindu baru dapat berubah menjadi Rantai Vajra, inilah rahasia yang disampaikan Kalacakra pada saya, yaitu 10 bulan.

Apa yang dimaksud "Kalacakra"? Ia berpadu dengan waktu, setelah satu dan nol menyatu, manusia harus mengandung 10 bulan untuk melahirkan seorang anak, Kalacakra juga mengatakan, sama halnya, ketika kita melihat cahaya bindu, penyatuan surya dan candra, maka kita pun mengandung 10 bulan, apa yang dimaksud "janin suci"? Yaitu janin Buddha, janin Buddha di dalamnya, setelah kita mengandung janin Buddha, kita memperhatikan-Nya, mengerami-Nya, menumbuhkan-Nya dalam meditasi selama 10 bulan, akhirnya kita memiliki sebuah janin, 10 bulan kemudian, kita akan berubah menjadi 2 janin, 10 bulan kemudian, akan berubah menjadi 3 janin, begitulah Ia dihasilkan dalam melatih diri. Saya hampir lupa menyampaikan, karena versi ini merupakan versi yang disampaikan Buddha Kalacakra pada saya tadi malam, Ia mengatakan ini sama seperti tubuh manusia mengandung anak, 10 bulan kemudian akan lahir, 10 bulan kemudian, cahaya bindu pun akan berubah menjadi 2, 10 bulan kemudian akan berubah menjadi 3, 10 bulan kemudian akan berubah menjadi 4, terus bertambah, berubah menjadi Rantai Vajra. Bagaimana dengan Layar Vajra? Melatih diri sungguh-sungguh dalam jangka panjang, kita pun berubah menjadi Layar Vajra. Di dalam Layar Vajra, kita pun bisa melihat diri kita sendiri, kita telah menjadi yidam, kita juga merupakan yidam Buddha, sekarang di dalam Layar Vajra, kita menyatu dengan-Nya, kita pun mencapai kebuddhaan dalam tubuh sekarang.

Penjelasan hari ini seharusnya sudah sangat jelas! Namun, proses melatih diri butuh waktu yang sangat panjang. Oleh karena itu, kita sebagai umat Buddha harus sangat tekun, yang paling mendasar, kita harus menyingkirkan keserakahan, kemarahan, kebodohan, keraguan, dan kesombongan, kita harus menaati Pancasila, kita harus membunuh 6 pencuri, mata-telinga-hidung-lidah-tubuh-pikiran, kita harus menempuh 8 jalan kebenaran, 4 kebenaran mulia, 12 sebab musabab yang saling bergantungan, sadhana Tantra, ada yoga eksternal, juga ada yoga internal, kelak kita semua bersama-sama mencapai kebuddhaan. Semoga Kalacakra memberkati kita semua, setiap orang dapat berhasil, dapat menyaksikan Buddhata, memahami hati dan menyaksikan Buddhata, kemudian melatih diri dan mencapai kebuddhaan dalam tubuh sekarang. 

Om Mani Padme Hum.